
PLAK
Sebuah tangan langsung mendarat indah di wajahnya. Mengecapkan gari-garis tangan dengan sangat jelas. Melihat Malva diperlakukan kasar seperti itu, Aishe hanya punya satu pemikiran, 'mereka tidak menginginkan uang'.
Lantas apa?
Melihat dua orang pria berbadan tegap sedang mondar mandir dengan santai, membuat Aishe memikirkan banyak praduga. Salah satunya adalah menjadikan ia tawanan untuk mengancam seseorang.
"Apa mau kalian?" tanyanya berusaha bersikap santai, meski tubuhnya perlahan merasakan sesuatu hal yang tidak nyaman.
Namun meski dia bertanya dengan sorot mata dan nada santai, dua pria itu tak menggubris. Mereka hanya melirik menatap Aishe lalu kembali fokus dengan percakapan mereka.
Mereka menunggu bos?
Bos mana yang mereka tunggu?
"Bodoh!" Seru Malva lantang. "Mereka penculik, selain uang, mau apa lagi!" lanjutnya sambil menatap sinis memandangi Aishe.
"Lagipula, apa yang bisa mereka ambil darimu? Gadis miskin!" lanjut Malva masih terus menjelekkan Aishe.
Mendengar sindiran dan cacian Malva, tidak membuat Aishe terpancing. Dia masih diam menatap dua orang pria yang masih tidak melihat meski mereka sedang bertengkar. Sampai ….
Seorang pria berumur 40 tahun, berjalan ke arah mereka. Sorot mata pria itu cukup tajam, dengan bulu-bulu di rahang dan dagu yang dipangkas dengan kasar. Tatanan rambut yang rapi, setelah jas mahal dan jam tangan mewah, membuat Aishe menebak jika pria ini adalah bosnya.
Salah seorang pria berkaos hitam mengambil sebuah kursi dan meletakkannya di hadapan dua wanita yang diikat. Pria itu sempat mematikan cerutu, lalu duduk bersandar bersedekap tangan.
__ADS_1
Dia, Tuan Maximo. Presiden Direktur yang menggantikan Diego.
Dia mulai gusar, manakala mengetahui pria di balik penculikannya adalah anggota dari keluarga Gulbar. Namun poin penting yang dia berusaha tebak adalah alasannya.
Kenapa dia menculikku?
Dia ingin menggunakan aku untuk mengancam Diego?
Ingin rasanya Aishe menyesal karena telah melanggar perintah Diego untuk pergi. Namun kini, menyesal tidaklah berguna. Hal yang harus dia pikirkan adalah pergi sebelum Max membuat kesepakatan dengan Diego.
"Kamu pikir, aku membutuhkan uang?" ucap Max menatap tajam Malva.
"Jika bukan? Apa lagi? Kau menculik Nona Muda dari keluarga Borcu, apa tidak ingin mendapatkan uang? Cepatlah hubungi mereka!"
Max masih tertawa, tertawa cukup kencang hingga membuat Aishe semakin merasa tidak nyaman. Tubuhnya tiba-tiba gemetar tak karuan, napasnya menjadi pendek, bahkan keringat mulai membasahi bajunya. Padahal, mereka sedang berada di tempat terbuka dengan suhu udara 10 derajat.
"Cukup, cukup. Sekarang katakan padaku, siapa calon istri keponakanku!"
"Dia, dia orangnya. Dia yang selama ini bersama dengan Diego."
DEGH!
Penjelasan Malva membuat jantung Aishe sempat berhenti berdetak. Membuat keringat yang keluar dari pori-pori keningnya menetes membasahi pipi.
"Nona Malva, Anda berbicara apa?" jawab Aishe dengan napas yang sedikit terengah. "Hanya karena aku sering bersama Tuan Diego, Anda menyimpulkan seperti itu? Lantas, berapa banyak yang harus di tangkap Tuan Max untuk berkenalan dengan calon istri keponakannya?"
__ADS_1
Speechless. Malva tidak mampu berkata apa pun. Selama ini, Diego memang dirumorkan dekat dengan yang lain setelah kematian Lyra.
"Jika hanya dekat, bukankah Anda dan Tuan Diego juga dekat? Setiap ulang tahun, dia selalu mengirim hadiah ke Inggris."
"Bohong!" Mata Malva membulat penuh, dia bahkan sempat menendang perut Aishe dengan kakinya yang terikat. "Dia perhatian karena aku adik dari mantan tunangannya!"
Dapat!
Aishe tersenyum dengan licik. Setelah memikirkan banyak alasan, akhirnya dia punya topik untuk membuat Max mencurigai Malva.
"Ah Anda adik Nona Lyra? Pantas wajah kalian mirip, tidak heran kalau tuan menaruh perhatian pada Anda."
Malva lagi-lagi terpancing, dia terus menendang ke arah Aishe dan mengelak dengan tegas. Namun pernyataan Aishe berhasil membuat Max memicingkan kedua mata dengan tatapan ragu.
"Panggil dokter dan periksa mereka!" seru Max lantang.
Perintah Max rupanya mampu membuat tubuh keduanya gemetar takut. Bukan hanya takut, tetapi raut wajah keduanya mulai memerah dengan napas mereka tak beraturan. Mungkin, inilah imbas dari obat yang di masukkan ke dalam mulut mereka beberapa menit yang lalu.
Mereka pun dibawa ke ruang yang sama dengan seorang dokter wanita. Satu persatu mereka diperiksa dengan teliti. Setelah setengah jam berlalu, dokter itu berjalan keluar lebih dulu, lalu mendekati Max dan berbisik.
Dapet segalon kopi langsung GAS.
Janji 🤭🤣
__ADS_1