
Sembari berjalan menyusuri lorong menuju kamar utama, Bibi Nie menjawab semua pertanyaan Aishe.
Semua berawal dari generasi pertama keluarga Gulbar. Keluarga Gulbar di kenal cukup setia dalam hal apa pun, termasuk pengurus rumah tangga mereka. Keluarga Bibi Nie sendiri, rupanya telah mengikuti keluarga Gulbar sejak generasi pertama, dan kini, mereka berada di generasi ketiga.
Gulbar tidak pernah mengikat para pengurus rumah tangganya agar terus mengikuti, mereka membebaskan para pengurus rumah tangga untuk memilih. Akankah tetap melayani keluarga Gulbar, atau berkelana menjelajahi pekerjaan yang lain. Dan mereka pun memilih setia dengan keluarga Gulbar. Tetapi tidak semua keluarga Bibi Nie melayani keluarga Gulbar, ada juga sebagian dari mereka yang bekerja di luar, terutama anak lelaki.
Dari semua itulah pekerjaan Bibi Nie berawal. Jika ditanya sejak kapan, maka dia akan menjawab 'sejak remaja'. Karena mereka di bawa ke keluarga Gulbar sejak remaja, sama seperti Bibi Nie.
"Tuan tidak menyukai hal-hal glamor, dia juga bukan pemilih dalam hal makanan. Hanya saja, Tuan tidak memakan daging sejak enam tahun terakhir," ucap Bibi Nie sembari membuka pintu kamar.
Tidak makan daging? Pantas saja dia melarang ada daging di meja makan, kalau ada pun, dia tidak memakannya.
"Untuk alasannya, biar tuan sendiri yang menjelaskan pada Nona," jelas Bibi Nie berdiri di ambang pintu. "Silahkan beristirahat, Nona. Saya akan membuatkan Shalab untuk Anda."
Aishe merebahkan dirinya di ranjang, kemudian matanya menelisik sekitar. Dari depan ranjang, dia bisa melihat televisi besar yang tertempel di dinding. Lalu dari samping, dia bisa melihat sofa empuk tertata rapi.
Dia kemudian menengadah ke atas, melihat lampu gantung yang begitu cantik menggantung, pikirannya tiba-tiba berkelana.
__ADS_1
Sepertinya, bukan alergi. Beberapa hari lalu dia memanggang steak dan mencicipinya. Bisa jadi, dia cuma ingin diet.
Aishe berbalik, memiringkan tubuhnya ke sisi kanan. Saat berbaring, hidungnya samar-samar mencium bau harum aromaterapi yang menenangkan. Kamar yang sejak tadi dia masuki, tiba-tiba tercium wangi. Sangat wangi dan menenangkan, hingga dia tanpa sadar terlelap.
Berpindah ke posisi Diego yang saat ini sedang membicarakan tentang pemindahan jasad Farhan dan kondisi Eraz yang masih belum sadarkan diri. Diego tampak tenang ketika membahas Farhan, tetapi mimik wajahnya berubah ketika mengetahui kondisi Eraz.
"Ya, Tuan. Sesuai dengan perintah Anda, jasad Farhan sudah dikubur di dekat penjara. Keluarganya juga sudah dihubungi, tapi mereka tidak mau datang."
"Eraz masih belum sadar. Dokter Hakan sudah memeriksa hasil operasi dan cedera kepalanya, dia tidak bisa memastikan kapan Eraz bangun. Tapi dia mengatakan jika cedera di kepala Eraz tidak terlalu parah."
Hela napas kasarnya dapat terdengar dengan jelas, terutama ketika Ashan menjelaskan kondisi Eraz. Meski Dokter Hakan menjelaskan demikian, nyatanya pria kecil itu masih belum bangun juga, sehingga membuat Diego sedikit merasa terbebani.
Diego masih belum berkomentar, dia terdiam duduk di kursinya. Matanya seakan fokus melihat ke jendela, tapi pikirannya telah melayang entah kemana.
Ashan berjalan mendekat, ia membungkuk dan berbicara di dekat telinga Diego, "Tuan, lapangan basket di belakang Mansion sudah diubah. Disana sudah siap kapan pun yang Anda mau."
"Emm. Sebentar lagi ke sana. Kamu pergilah, urus keamanan di Mansion. Aku tidak mau kecolongan lagi!" titah Diego kemudian pergi ke kamarnya.
Ketika dia sampai di depan kamar, ia melihat Bibi Nie keluar dari sana. Rupanya, dia datang membawa Shaleb, tetapi Aishe sudah lelap dalam tidurnya.
"Tidak apa, taruh saja di atas nakas. Dia akan memakannya sebentar lagi," ucap Diego sambil menggerakkan kursi rodanya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Bibi Nie membawa Shaleb dan menaruhnya ke atas nakas, setelah itu dia pamit pergi.
Diego menaikkan satu sudut bibirnya sembari mendengus. Mendapati kekasihnya terlelap, dia berdiri dari kursi rodanya, kemudian berbaring di hadapan Aishe. Dua matanya memandang gadis itu lekat-lekat, mengagumi kecantikan yang berhasil mengoyak habis pertahanannya.
Dia mengangsurkan tangan, lalu membelai kening Aishe. Dengan lembut, pelan, dan penuh cinta. Diego sebenarnya tidak bermaksud membangunkan tidur siang kekasihnya. Namun Aishe justru mengerjap matanya perlahan.
"Aku membangunkanmu?" tanya Diego dengan suara lembut.
Aishe menggeleng, lalu menggeser tubuhnya dan memeluk Diego. "Aku tidak sengaja tertidur," ucapnya ketika berada dalam dekapan Diego.
"Eemm, bangunlah! Bibi Nie sudah membuat Shaleb untukmu. Cicipilah setelah itu aku akan mengajarimu memegang pistol."
Dua mata Aishe terbelalak lebar. Diego memang pernah berjanji padanya untuk mengajari cara memegang pistol. Namun dia tidak menyangka, Diego benar-benar menepati janjinya.
Duh bang, itu baju di kancingin napa!!
Ntar para readers mlenyot liat kamu!
Masih pagi udah hujan, jadi sat set das des nulisnya patas sampe lupa beras di majic com belum di colokin. Alhasil, berasku berenang bebas sampe mengembang 🤣🤣
__ADS_1
Kalau gak dapet Kopi atau Kembang setaman, auto ngambek 😑