Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 142


__ADS_3

Diego.


Jika tempat ini nanti jadi tempat penguburanku, setidaknya aku akan membawa kedamaian untuk kalian agar bisa hidup lebih tenang.


Restui aku, istriku.



Hamamlıkızık, merupakan kawasan yang letaknya jauh lebih tinggi dibandingkan Bursa. Tidak heran, jika kawasan ini hampir semuanya hutan belantara dengan pepohonan tinggi dan rimbun.


Setelah turun dari helikopter dengan seutas tali. Diego langsung siap dengan mengangkat senjata laras panjangnya, selaras dengan dada, lalu mulai maju ke depan. Bersembunyi dalam kegelapan malam, berbaur dengan semak-semak dan menyusup.


Sekitar 200 meter dari tempat Diego berdiri. Terlihat sebuah rumah semi permanen yang terbuat dari setengah bata dan kayu di tengah rimbunnya pepohonan. Rumah yang terlihat besar dengan satu lantainya.


"Sisi selatan Clear!" suara berat khas seorang lelaki terdengar jelas dari Earphone yang digunakan Diego.


"Timur dan utara, Clear!" lanjut seorang pria yang lain setelah beberapa menit laporan pertama di terima.


Ada setidaknya lima pasukan utama yang berjalan bersama Diego dan Rehan, sedangkan kesepuluh orang berjalan lebih dulu untuk membuka jalan, dan beberapa orang menyebar mengamankan tempat.


Sebuah pintu besar terbuat dari kayu, diterobos oleh kelompok pertama yang berjalan di depan Diego. Suara tembakan langsung terdengar, begitu nyaring dan menggema. Keheningan malam seakan menambah suara pistol yang pelatuknya ditarik terus menerus untuk menjatuhkan musuh.


Beruntung, lokasi markas Max kali ini jauh dari area pemukiman penduduk, sehingga para anggota Diego bergerak dengan leluasa.


__ADS_1


Kesepuluh orang dari kelompok pertama berhasil membunuh sebagian orang yang ada di sana. Kini, sudah waktunya bagi kelompok Diego melancarkan aksi.


Rehan dengan sorot mata penuh semangat, maju lebih dulu menyusuri beberapa tempat. Lalu disusul dengan Diego yang membawa dua orang bersamanya.


"Wah wah wah, keponakanku sudah datang!" Suara Max terdengar dari sebuah lorong, yang tadi sempat di masuki oleh Rehan.


Rupa-rupanya, pria paruh baya itu membawa sebuah granat di tangannya dan berjalan maju ke depan. Secara tidak langsung, pria itu berhasil membuat Rehan serta ketiga anggotanya mundur ke belakang.


"Kau sendirian, keponakanku?" Lanjut Max bernada mengejek, seolah tidak melihat Rehan dan juga beberapa pasukan.


Diego yang sebelumnya sudah siap ingin menerobos ke sebuah ruangan, tiba-tiba berhenti dan menoleh. Melihat sebuah granat di tangan Max, Diego perlahan menurunkan penutup wajah.


"Oh, kakimu sudah sembuh rupanya? Tidak heran, jika kau berani datang kemari!" Max menaikkan satu sudut bibirnya, dan kembali mengejek Diego.


Namun Diego masih begitu tenang. Sorot matanya masih terlihat relax, meski ia sedikit waspada.


Max memincing, terutama ketika melihat keponakannya sudah berdiri dengan sempurna, sama seperti dulu.


"Kenapa diam, Paman? Kau tidak mau berduel dengan ku? One by one, setidak kita punya kenangan yang mengasyikkan!" lanjut Diego yang masih acuh dengan raut wajah Max.


Tantangan Diego seakan menggelitik semangat Max, membuat gejolak dalam darahnya meningkat. Dia terlihat melempar granat yang belum di buka itu pada salah seorang pria yang sejak tadi berjalan bersamanya, kemudian melepas jas.


Melihat Max sudah bersiap, Diego pun meletakkan senjatanya di lantai, dan melepas rompi. Selain itu, juga melucuti semua senjata di tubuhnya. Lalu maju beberapa langkah dan memasang kuda-kuda.


"Ayo, kita bersenang-senang, Paman!"

__ADS_1


Max menyerang lebih dulu, melayangkan tinju dan tendangannya. Namun Diego berhasil menangkisnya dengan cepat. Satu layangan tinju berhasil mendarat indah di wajah Max, membuat garis biru melintang di tulang pipi.


Max mundur selangkah, sambil terus memandangi Diego dengan sorot mata tajam penuh dengan gelora emosi dan dendam.


CUIH!


Ludah yang bercampur dengan darah ia keluarkan, sebelum akhirnya dia menarik sebuah belati yang disembunyikan di kaki.


Satu, dua kali layangan belati berhasil di tangkas, tetapi sayang, yang ketiga gagal dan merobek pahanya.


CRESS.


Darah mengalir keluar, membuat Diego sempat kehilangan kuda-kudanya. Melihat Max menggunakan cara licik, dia pun menarik dua buah belati dan mencengkramnya kuat-kuat.


Dengan brutal dia kembali menyerang, melukai lengan, betis, juga di perut. Serangan Diego kali ini terlihat lebih serius dari sebelumnya. Beberapa kali ia terlihat menyerang membabi buta dan memojokkan Max.


Namun, bukan Max namanya jika dia tidak kembali memainkan taktik licik. Ketika dia melihat hampir semua anak buahnya terkapar tak bernyawa, Max mengeluarkan sebuah bom asap dan melemparkannya tepat ke arah Diego.


UHUK!


"Sial! Dia kabur!"


...☆TBC☆...


__ADS_1


Selanjutnya agak siangan ya, mau semedi dulu biar dapet ilham 🤣🤣


__ADS_2