
Langit terlihat sangat cerah, begitu cerah hingga gumpalan awan hanya ada beberapa di langit. Suhu udara saat itu tidak terlalu terik, juga tidak terlalu dingin. Pas, berada di angka 22 derajat.
Angin berhembus sepoi-sepoi, menebarkan wangi harum bunga-bunga yang baru mekar. Daun-daun di pepohonan sepanjang jalan terlihat begitu segar, seakan ingin menunjukkan warna hijaunya.
Ini sudah terlewat dua tahun sejak Aishe melahirkan. Rumah kecilnya terdengar begitu ramai setiap hari. Guzel yang sudah tidak bekerja di sana, sesekali mampir untuk bertegur sapa.
Posisinya pun digantikan oleh Rubby yang selalu siap sedia melayani keluarga gulbar generasi ketiga. Gadis itu begitu jeli, mengawasi para pekerja baru yang di rekrut Diego seminggu setelah Elder lahir.
"Pastikan dapurnya rapi! Nyonya akan turun sebentar lagi." Suara Rubby sayup-sayup terdengar dari luar dapur.
"Jangan terlalu galak, Rubby," sahut Aishe, tiba-tiba berdiri di belakang Rubby. Membuat gadis itu reflek menoleh.
"Jika tidak begini, Anda tidak akan bisa nyaman ketika memasak untuk tuan muda!"
Aishe tersenyum. Lalu mengucapkan terima kasih pada kepala asisten yang baru saja diangkat satu bulan yang lalu.
Setelah berterima kasih, Aishe mulai bekerja. Mempersiapkan beberapa bahan dan alat, untuk membuat sarapan buah hati tercintanya.
Ya, meski dia memiliki banyak asisten, soal perut dan gizi Elder, Aishe ingin mengurusnya sendiri. Seperti saat dia antusias menyambut suapan pertama Elder kala itu. Juga, setiap harinya.
"Elder, honey … ayo cicipi camilanmu!" teriak Aishe dari ambang pintu, memanggil anak kecil yang sedang asik bermain di halaman samping.
"Ann … Ann."
Anak laki-laki berusia 2 tahun itu berlari dengan kaki kecilnya. Berusaha mendatangi Aishe sambil menggenggam sebatang bunga mawar yang baru saja dia petik.
Aishe langsung berjongkok, merentangkan tangan, menyambut Elder kecil. "Apa itu untuk anne?"
Elder mengangguk sambil menjawab, "Eem, Ann."
Aishe mengambil setangkai mawar, kemudian mendaratkan kecupan manis di pipi Elder. Tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali, hingga lipstiknya membekas di kedua pipi Elder.
"Sudah hentikan. Kamu menciumnya hingga seperti itu, tapi tidak denganku!" sahut Diego sambil bersedekap tangan, menatap penuh kecemburuan ke arah sang istri.
__ADS_1
Aishe yang gemas, berusaha menggoda suaminya. Dia mendongak ke atas, melihat Diego sambil menyipitkan mata dan menjulurkan lidah. Kemudian ia berdiri, menggandeng Elder dan mengajaknya pergi.
Merasa tidak terima sudah diejek. Diego menyusul mereka berdua yang pergi meninggalkannya. Lalu menggendong Elder dan meraih pinggang Aishe.
"Kau akan kelelahan malam ini, Sayang!"
"Oh, benarkah? Aku tidak sabar menunggunya," goda Aishe lagi.
Diego yang sudah tidak tahan, akhirnya menggigit daun telinga Aishe. Teriakannya yang terdengar tiba-tiba membuat Elder reflek melayangkan tinjunya.
"Baba!"
Teriakan serta tinjuan Elder membuat Diego tertawa. Dia benar-benar tidak menyangka, jika putranya akan melindungi sang ibu dari ayahnya sendiri.
"Baik, baik. Baba hanya sedikit bercanda. Jangan marah," ucap Diego berusaha menenangkan Elder yang menatapnya tajam.
Aishe jelas tidak bisa menahan rasa senang lantaran sudah mendapat pembelaan dari Elder. Wanita dengan rambut tergerai itu bahkan tersenyum puas.
"Kamu terlihat sangat puas ya?"
Aishe dan Diego sedang duduk di atas sofa, menikmati kudapan serta teh sambil bercengkrama. Aishe terlihat sibuk dengan benang rajut, sedangkan Diego fokus menatap Elder yang bermain di lantai.
"Tidak ku sangka, sebentar lagi Guzel akan melahirkan," ucap Aishe sambil sibuk merajut.
"Emm, mereka sudah menjadi suami istri. Hal itu juga wajar," jawab Diego terdengar acuh.
Aishe pun berdecak kesal, usai mendengar jawaban acuh tak acuh dari sang suami. Namun meski terlihat acuh, Diego secara pribadi memberikan Ashan cuti panjang untuk menemani Guzel.
Yah, mungkin itu karena ia punya pengalaman yang tidak mengenakkan. Sehingga ia mengizinkan salah seorang kepercayaannya itu untuk cuti lebih awal.
Entah mengapa, Diego tiba-tiba teringat akan seseorang yang sudah satu minggu tak terlihat. Dia menegakkan punggungnya, lalu menoleh menatap aishe.
__ADS_1
"Apa Rehan belum kembali?" tanyanya.
"Ada apa? Tidak biasanya menanyakan tentangnya."
"Tidak ada. Apa pria itu masih terus mengejar Emmine?"
Aishe menghentikan rajutannya, lalu menatap Elder. Lelaki kecil itu sedang sibuk bermain kereta yang diberikan Emmine ketika dia berkunjung dua minggu lalu.
"Ya, kakak bodohku itu masih saja mengejarnya. Padahal dulu, doa sangat sok menolak gadis secantik itu."
"Gadis itu memang sedikit keras kepala. Sepertinya kakakmu itu harus berusaha dengan keras." Diego menyandarkan pungungnya, kemudian merentangkan tangan hendak memeluk sang istri.
"Keras kepalanya mirip denganmu, Die!"
Lagi-lagi pria itu dibuat kesal oleh Aishe, membuat kesabarannya menipis. Dengan cepat ia menarik tubuh istrinya, kemudian memanyunkan bibir Aishe dengan tangannya.
Dia hendak mencuri sebuah kecupan, tapi belum sempat kedua bibir mereka bertemu, Elder berteriak lantang sambil menghampiri mereka.
"Baba, Anne!"
Seketika, sepasang suami istri itu hanya bisa tertawa. Lalu meraih Elder dan mendekap tubuh kecilnya.
...Aishe ...
...Aku dan dia dipertemukan oleh takdir yang tidak bisa disangka. Dia membawaku keluar dari neraka, membantuku membalas dendam, hingga akhirnya membuatku jatuh cinta....
...Dia dengan sejuta rahasia ketika pertama kali bertemu, hingga tidak ada satu rahasia pun yang menjadi batas diantara kita. Dia yang selalu bertindak seenaknya, keras kepala, tapi mampu mengambarkan bentuk cinta yang luar biasa....
...Dia dan aku....
...Dengan segala bentuk cinta yang kita miliki....
__ADS_1
...~Ranjang Tuan Lumpuh~...
...Selesai...