
Pada akhirnya, pria yang sudah rapi itu duduk dan menikmati sarapannya dengan bibir bawah yang bengkak. Sedangkan Aishe justru terlihat santai setelah menggigit bibir sang suami hingga satu sisi bibir bawahnya bengkak.
Salah seorang maid yang berdiri di belakang, mencoba bertanya pada Bibi Banu lantaran penasaran.
"Bibi, kira-kira apa yang membuat bibir tuan bengkak?" bisik wanita muda yang umurnya setara dengan Guzel.
"Sstt!" Bibi Banu menekan bibir dengan jari telunjuknya. "Rasa penasaran itu tidak baik!" jelas Bibi Banu, yang langsung membuat maid itu diam menutup mulutnya.
Pembicaraan mereka bukan tidak didengar oleh Diego dan Aishe. Hanya saja, Diego terlalu malas untuk berkomentar, sedangkan Aishe justru ingin menggoda sang suami.
"Sayang …." panggilnya dengan lembut, tetapi Diego justru mengabaikannya dan sibuk menikmati sarapan.
Meski sudah diabaikan, niat jahil Aishe masih belum surut. Dia bahkan meletakkan sendok dan garpu, lalu ia menyandarkan dagunya.
"Apa yang membuat bibir mu bengkak pagi-pagi?" goda Aishe dengan sorot mata tajam penuh dengan intrik.
Dengan ketus Diego menjawab, "Anggap saja serangka." Begitu ucapnya tanpa memandang Aishe yang justru tertawa mendengar jawaban dari sang suami.
Padahal, jelas-jelas dia lah yang menyebabkan bibir sang suami bengkak. Namun justru bertanya, seperti sedang memberitahu semua orang yang berdiri di belakang mereka.
Lantaran terlalu keras saat tertawa, Aishe sampai terbatuk-batuk. Pada saat itu, seorang maid dengan cepat berlari mengambilkan segelas air, tetapi Diego justru acuh dan hanya menatap sang istri. Sampai akhirnya, rasa tak nyaman melanda perut Aishe, dan membuatnya mual.
Dia berlari secepat mungkin menuju toilet terdekat yang ada di dekat meja makan. Sedangkan Diego yang melihat sang istri berlari, langsung menyusulnya.
"Panggil Dokter Ha!" teriak Diego lantang sambil lari tunggang langgang.
__ADS_1
Dilihatnya Aishe sedang berjongkok dan terus memuntahkan semua makanan yang belum sempat di cerna. Tiba-tiba dadanya terasa terkoyak oleh sesuatu. Dia berjongkok, mengusap tengkuk leher sang istri dengan lembut sembari meraih helaian rambut dan mencengkramnya menjadi satu.
"It's oke, Die. Hanya morning sickness biasa," jelas Aishe saat perutnya sudah merasa lebih baik.
Diego menghela napas kasar, lalu mengusap sisa muntahan di bibir Aishe dengan tangannya. Sebelum akhirnya ia membopong tubuh Aishe keluar. Bibi Banu terlihat berdiri di depan pintu toilet dengan raut wajah cemas. Sepertinya, dia memahami rasa tak nyaman yang baru saja dirasakan Aishe. Morning sickness itu, benar-benar tidak nyaman.
"Buatkan dia sesuatu yang hangat dan ringan. Jangan terlalu manis!" ucap Diego saat berjalan melalui mereka. Sedangkan Aishe yang terlihat pucat setelah memuntahkan semua makanannya, hanya bersandar lemas di dada bidang sang suami.
Dengan hati-hati ia membaringkan tubuh Aishe di atas ranjang, lalu memberinya segelas air. Namun saat Aishe menenggak air itu, rasa pahit di lidahnya membuat ia kembali mual. Dia buru-buru bangkit, lalu berlari secepat mungkin menuju toilet.
Kini yang keluar bukan makanan, melainkan sisa air yang baru saja ia teguk, juga cairan kuning lantaran asam dalam lambungnya naik. Rasa pahit yang mencekat, membuat Aishe kembali memuntahkan semua isi di dalam perutnya.
"Ishe …." panggil Diego lirih saat melihat wajah Aishe pucat. "Ayo! Ayo pergi ke rumah sakit!" ajak Diego yang kembali membopong tubuh Aishe.
Diego yang tak bisa berkutik dan menolak, hanya bisa menurut. Dengan hati-hati ia membaringkan Aishe di ranjang. Lalu, mengusap perut sang istri sambil mencondongkan tubuhnya sedikit.
"Hei, baby. Jangan merepotkan mommy, jadilah anak baik, oke!" ucapnya lalu mencium perut Aishe.
Perkataan manis Diego, lantas membuat garis di bibir Aishe melengkung, menyimpulkan seulas senyum cantik di wajah pucatnya.
"Sudah, pergilah bekerja!" pinta Aishe pada Diego. "Kau ada rapat siang ini, jangan sampai terlambat. Bagaimana jika nanti kau dipecat?"
Diego terkekeh pelan, lalu membelai pipi sang istri. "Siapa yang berani memecatku? Ayah sudah kembali, biarkan dia yang mengurus perusahaan sebentar."
Aishe mendengus, lalu memalingkan wajahnya sesaat ke sisi kanan. Dimana jendela kaca dengan tirai yang tersingkap, menyajikan pemandangan rintik-rintik hujan yang membuat sekitar teduh.
__ADS_1
Baru sebentar dia menoleh, Bibi Banu mengetuk pintu, lalu berjalan masuk setelah Diego mengizinkan. Dia membawa sup dari kaldu ayam kalkun yang rasanya tidak terlalu pekat. Bersamaan dengan Bibi Banu, rupanya ada Guzel dan Rehan yang juga ikut masuk.
"Nyonya," sapa Guzel ramah, membuat Aishe melupakan rintik-rintik hujan yang membasahi kaca jendelanya, dan menoleh ke arah Guzel.
"Kau datang, Guzel. Bagaimana dengan kaki dan perutmu?" tanya Aishe membenarkan posisinya menjadi duduk bersandar.
"Hanya luka kecil, Nyonya. Aku sudah mengoleskan salep," terang Guzel.
Melihat Guzel dan Rehan datang, Aishe menjadi lega. Setidaknya, dua orang itu cukup bisa meyakinkan Diego agar mau pergi bekerja.
"Pergilah, Die. Ada Rehan dan Guzel, mereka bisa menjagaku!" ungkap Aishe menatap Diego.
Guzel yang berdiri membantu Bibi Banu memegang mangkuk sup lantas mengangguk. Sedangkan Rehan terlihat keberatan. Diego sedikit ragu pada saat itu, tetapi saat melihat Aishe mengangguk pelan, dia mengerti jika itu sebuah isyarat.
Diego menoleh pada Bibi Banu dan bertanya, "Dokter Ha sudah dihubungi?"
"Sudah, Tuan Muda. Dia sedang dalam perjalanan.
Hela napas Diego sedikit kasar pada saat itu. Lalu ia memandang Guzel dan Rehan bergantian, "Kalian berdua jaga dia. Hubungi aku jika Dokter Ha bilang keadaannya serius!"
Diego lantas mencium kening Aishe, sebelum akhirnya meninggalkan kamar dan pergi bekerja.
...☆TBC☆...
__ADS_1