Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 56


__ADS_3


Semerbak harum aroma steak dan wine bercampur menjadi satu, membuat perutnya bergemuruh tanpa kompromi.


Dua set steak lengkap dengan kentang dan asparagus. Tidak lupa salad sayur, potongan buah segar, dan juga wine.


Begitu sampai di meja makan, mata Diego melirik ke samping. Melihat steak yang di atas piring Aishe sedikit gosong, sedangkan miliknya terlihat sempurna dengan tingkat kematangan medium.


Sudah bisa ditebak, yang gosong pasti hasil karyaku tadi. Ah … buruk sekali.


"Kenapa Tuan? Anda tidak menyukainya? Saya bisa menggantinya dengan menu yang lain." Aishe menuang wine dan duduk di kursinya.


"Tidak. Aku hanya tertarik dengan steak di piringmu!" Diego masih menatap steak gosong milik Aishe.


"Kenapa dengan steak di piring Anda? Apa terlalu matang, atau kurang matang?" Aishe menatap wajah Diego. Entah kenapa, dia merasa wajah Diego tidak seperti biasanya. Rona merah di wajahnya terlihat samar kala Aishe memandangnya.


"Tidak. Aku ingin menukarnya!" Diego mengambil piring dan menukarnya dengan milik Aishe. Namun, wanita itu bersikukuh tidak mau menukarnya.


"Steak ini aku yang memasak! Biarkan aku yang makan!" Pekik Diego.


"Anda salah, Tuan. Steak ini saya yang masak!"


Dua orang itu masih saling berebut steak untuk beberapa saat. Tidak ada yang mau mengalah di antara mereka. Sampai akhirnya Diego mengalah dan memberikan steak itu kala mendengar rengekan manja Aishe.


"Tuan, saya lelah dan lapar. Bisakah kita mulai makan?" Aishe memanyunkan bibirnya dengan sorot mata pilu.


"Baiklah, ayo makan!"


Sepotong demi sepotong masuk ke dalam mulut Aishe. Wanita itu terlihat asyik menikmati makanannya, sedangkan Diego hanya mengamati sambil memotong steak miliknya.


Apa rasanya enak?


Dagingnya bukan well down lagi, tapi memang sangat kering. Anehnya, pencuri kecil ini menikmatinya dengan lahap tanpa protes.


"Hem, itu … bolehkan aku menyicipi sesuap saja?" kata Diego dirundung rasa penasaran.

__ADS_1


"Anda mau? Tapi daging di piring Anda belum di sentuh."


"Beri saja aku sepotong!" Pinta Diego.


"Anda yakin?"


"Cepat beri aku sepotong!" Diego membuka mulutnya, ingin segera mencicipi steak yang ada di piring Aishe.


Sorot mata Aishe menyimpan sedikit keraguan saat ingin menyuapi Diego. Namun ketika melihat mulut pria itu terbuka, ia tidak ada pilihan lain selain menyuapinya.


Satu suapan kecil masuk di mulut Diego. Belum ada dua kali dia mengunyah, Diego buru-buru mengambil tisu dan memuntahkan makananya.


"Apa ini? Siapa yang menuang banyak garam!" serunya.


Aishe berusaha menahan tawanya sembari menyodorkan segelas air pada Diego. Dalam hati ia merasa sangat puas dan bahagia tatkala melihat ekspresi wajah pria itu menahan rasa asin akibat mencicipi makanannya sendiri.


Namun meski du kerjai Aishe sedemikian rupa, Diego tidak terlihat marah. Dia bahkan menyuruh Aishe untuk menertawakan dirinya sesuka hati.


"Tertawa sampai puas! Kenapa kamu menahannya!" Diego melirik, memandangi Aishe yang masih menahan tawanya.


"Tu-tuan itu belum habis! Saya baru makan beberapa suap!" Protes Aishe ingin mengambil piring miliknya, tetapi tangannya ditepis Diego.


"Hentikan!" seru pria itu.


"Ta-tapi, Tuan?"


Aishe menunduk, raut wajahnya berubah. Kecewa, sudah pasti. Ini adalah kali pertama sejak terakhir kali dia menikmati daging setengah tahun yang lalu. Bukan tidak mampu beli, tetapi Diego melarang adanya daging di meja makan.


Melihat ekspresi wajah sedih Aishe, Diego menjadi iba. Ada perasaan nyelekit yang tiba-tiba membuat hatinya tidak nyaman. Dengan keadaan sadar, dia menyuapi Aishe dengan potongan daging miliknya.


"Buka mulutmu!" pinta Diego.


Aishe tanpa ragu membuka mulutnya, menerima satu suapan steak yang dia masak dengan sempurna ke dalam mulut. Mengunyahnya dengan pelan, lalu menelannya.


Melihat kedua mata Aishe berbinar-binar bahagia, Diego sedikit senang. Dia bahkan menaruh piringnya di hadapan Aishe.

__ADS_1


"Makan yang baik!"


"Lalu bagaimana dengan Anda?"


"Aku tidak la-" Diego sangat ingin menjelaskan bahwa dirinya tidak lapar, tetapi perutnya justru tidak dapat di ajak kompromi.


Mendengar gemuruh perut Diego, Aishe tidak dapat lagi menahan tawanya. Dia tertawa terbahak-bahak, tanpa memperdulikan ekspresi Diego.


"Tidak ada daging lagi?" tanya Diego.


"Anda sudah menghabiskan semuanya, Tuan." jawabnya berusaha menahan tawa.


Diego melipat tangannya dan bersandar. Dia sangat lapar sebenarnya, tetapi tidak mungkin baginya mengambil daging yang sudah dia berikan pada Aishe. Aishe sendiri bukan wanita yang tidak tahu malu, yang hanya diam memandangi tuannya kelaparan.


"Buka mulut Anda, Tuan." Aishe menyodorkan sepotong daging.


"Tidak perlu!"


Diego masih terlihat malu-malu, sedangkan Aishe masih membujuknya dengan sesuap daging. Hingga akhirnya, pertahanan Diego lemah, dan daging itu berhasil masuk ke dalam mulutnya.


Dua sudut bibir Aishe terangkat, dengan bahagia dia bertanya, "Bagaimana? Apakah itu enak?"


"Em, seperti biasanya!"


Untuk pertama kali sejak mereka makan malam bersama, bahkan tinggal bersama. Hari ini, ketegangan diantara mereka memudar. Keduanya bercanda seperti dua insan yang jatuh cinta pada umumnya, namun masih terlalu malu untuk mengutarakan perasaan masing-masih.


Aahh ....


Persoalan mengutarakan itu mudah, semua hanya tinggal menunggu waktu. Waktu dimana semuanya pas, sesuai dengan takaran, agar terasa manis.



Yang belum Vote, yang belum Vote.


Othor menerima Vote, Hadiah, juga Like.

__ADS_1


Tolong segera di kirim, Author sekarat butuh amunisi 🤭🤣🤣


__ADS_2