
Aishe mengerjapkan matanya perlahan, lalu bangkit dari tidurnya dan duduk di pinggir. Entah, sekarang sudah pukul berapa. Ponselnya dia tinggalkan di meja, sedangkan di ruang rahasia ini tidak ada jam barang satu pun.
Harapannya pada saat itu hanya satu, semoga jam tidurnya tidak melewati waktu istirahat. Setelah meregangkan tubuhnya ia bangkit berdiri dan pergi dari sana.
Pintu otomatis yang tersembunyi perlahan terbuka. Membuat Diego yang duduk di kelilingi berkas-berkas menoleh ke samping.
"Sudah bangun?" tanyanya.
Aishe mengangguk, kemudian berjalan mendekati Diego. Melihat Aishe mendekat, Diego buru-buru menutup berkasnya dan mendekap tubuh Aishe yang duduk di pangkuannya.
"Aku sudah menyuruh Ashan membeli makan siang. Bebek Peking dan daging Domba." Ia membelai rambut Aishe, lalu membenamkan kepalanya dalam tengkuk leher kekasihnya.
"Makanlah selagi hangat!" Dikecupnya leher jenjang sang kekasih dengan antusias, yang berhasil membawa segelintir keraharuman memikat.
"Kau menyuruhku makan, tetapi tidak mau melepaskanku!" Aishe mengeliat geli, tatkala buku-bulu halus di rahang Diego menyentuh tengkuknya.
Rambut Aishe di singkap ke depan dalan satu gerakan, dan Diego terus menyusuri tengkuk leher Aishe tanpa mau berhenti. "Tapi aku juga lapar, ingin makan."
"Kalau begitu, kita saling makan saja bagaimana?"
Diego menyesap tengkuk jenjang kekasihnya sebelum akhirnya melepaskan gadis itu agar menikmati makan siangnya. "Cepatlah makan," ucapnya terdengar begitu lembut.
Aishe bangkit berdiri, lalu berjalan mendekati beberapa paper bag yang ada di atas meja. Satu persatu ia buka, mulai dari box berisi daging domba yang di bumbui rempah dan di bakar, lengkap dengan roti. Juga Bebek Peking, dengan aroma gurih nan manis yang menggoda.
__ADS_1
Selain itu, juga ada beberapa menu pendamping, seperti salad sayur, buah zaitun, juga buah-buahan. Semua terlihat mengugah selera, hidangan itu bahkan masih terasa hangat.
"Kamu tidak makan, Die?" Aishe menatap Diego yang kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Makan saja, Sayang. Aku masih kenyang," jawabnya tanpa memandang Aishe dan sibuk dengan pekerjaannya.
"Kalau begitu temani aku!"
Permintaan Aishe seketika membuat pena yang dipegangnya berhenti bergerak. Diego mengangkat kepalanya, melihat Aishe yang duduk di sofa sedang tersenyum manis ke arahnya.
Diego menutup pena, menutup dokumen, dan datang menghampiri Aishe. Wanita itu jelas sangat senang, karena berhasil membuat pria arogan itu menyampingkan pekerjaan dan datang padanya.
Samar-samar ia tersenyum, mengingat masa ketika dia berada di posisi Diego seperti sekarang. Menurut, dan patuh tanpa ada protes.
"Aku sudah datang. Apa itu membuatmu bahagia?" tanya Diego melihat Aishe menarik dua sudut bibirnya.
"Tidak! Aku hanya mengingat bagaimana kamu dulu memerintahku!" Senyumnya Aishe menyerigai.
Namun Diego bukannya marah. Justru, dia tersenyum sambil menyandarkan punggungnya dan bersedekap tangan. Melihat kekasihnya yang tersenyum dengan bangganya.
__ADS_1
"Cepat makan, sebelum semuanya dingin!"
Satu persatu Aishe menikmati setiap makanan yang tersaji di atas meja dengan lahapnya. "Dimana Ashan memesan ini?"
"Salah satu restoran di Beşiktaş. Kau menyukainya?"
Aishe mengangguk cepat, dengan mulut penuh daging domba. Ia mengambil beberapa potong daging, menaruhnya di tengah roti yang disobek sedikit. Lalu, menyodorkan sesuap daging dengan roti Pita.
"Buka mulutmu!" pintanya.
Diego tanpa ragu mencondongkan tubuhnya, lalu membuka mulut, menerima satu suapan daging dengan tangan kekasihnya.
"Enak?"
"Enak." Terasa enak karena berasal dari suapan tanganmu.
Misi ... misi ... si manis dari Turki mau lewat 💋
Mau minta secangkir kopi, buat bisa hadir lagi nanti malam, atau setangkai mawar juga boleh.
Gula darah tolong di kontrol ya 🤭🤭
__ADS_1