Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 204


__ADS_3

Waktu di arloji Rehan sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kantor sudah sepi, hampir semua pegawai telah pulang. Meski masih ada beberapa lampu yang menyala, itu hanya 3 atau 4 orang saja yang masih tinggal untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.


“Ini sudah malam. Segeralah pulang!” Rehan mengangkat tangan kirinya untuk melihat arloji yang dia pakai.


“Pulang saja lebih dulu!” jawab Diego dengan pandangan mata fokus membaca berkas di tangannya.


“Dia pasti menunggumu pulang.”


Mendengar ucapan kakak iparnya itu, Diego meletakkan dokumen dan menatap Rehan yang berdiri di depannya. Hela napas beratnya terdengar cukup jelas, mungkin lantaran keadaan di ruangan sangat hening pada saat itu.


Setelah menatap Rehan selama beberapa saat, Diego mengambil ponsel yang ada di depannya. Jemari tangannya bergerak, menekan layar ponsel, hingga ponsel itu berhasil tersambung melalui panggilan telepon.


“Ya, Tuan?” suara seorang wanita terdengar begitu samar.


“Dimana dia?” tanya Diego mencari keberadaan seseorang.


“Pukul 8 tadi, Nyonya sudah masuk ke kamar, Tuan. Saya baru memeriksa 5 menit yang lalu, Nyonya sudah tertidur pulas.”


Diego menarik garis bibirnya, mengukir seulas senyum tipis yang mampu mengambarkan perasaannya. Setelah mendengar kabar dari seorang pengurus rumah tangga, ia memutus sambungan telepon.


Dia jadi lebih patuh sekarang. “Tidak perlu khawatir, adik tersayangmu sudah tidur.” Diego meletakkan ponselnya, lalu kembali fokus dengan pekerjaannya lagi.


Jawaban Diego sebenarnya sudah membuat Rehan cukup puas. Namun entah mengapa, dia tidak lekas pergi dan justru duduk di sofa. Mungkin, yang dia pikirkan sebenarnya bukan hal itu, melainkan keadaan saudara, sekaligus adik iparnya itu.


Ya, ini sudah tiga hari berlalu sejak Diego kembali dari Antalya. Sudah selama itu pula ia bekerja lembur setiap malamnya. Berangkat paling awal, dan pulang selalu jadi yang paling akhir.


Namun meski begitu, ia selalu mencari tahu kabar sang istri setiap dua jam sekali. Memastikan jika Aishe dalam keadaan baik, mencari tau apa yang sedang dia lakukan atau hanya sekedar menanyakan menu makan malamnya.


“Kenapa kau tidak pulang?” tanya Diego begitu melihat Rehan duduk sambil membuka laptop yang ada di atas meja.

__ADS_1


“Memangnya kenapa? Aku masih suka berada di sini!”


Diego terdiam sesaat setelah mendengar jawaban Rehan. Raut wajahnya menjadi lebih serius dari sebelumnya, padahal dia tidak sedang membaca dokumen di tangannya. Sorot mata Diego tiba-tiba berpindah arah menatap Rehan.


Entah apa yang dia pikirkan pada saat itu. Namun setelah beberapa saat menatap Rehan, ia justru meraih laptop dan melakukan beberapa hal. Lalu setelah itu, ia buru-buru berdiri sambil meraih jasnya.


“Kalau kau betah disini, periksa file yang baru saja aku kirim. Aku akan pulang lebih dulu dan melihat Ishe!” ucapnya sambil berjalan ke arah pintu.


Belum sempat Rehan menjawab, bahkan memberi penolakan, pria itu sudah pergi meninggalkan ruang kerjanya begitu saja.


“Hei, Die! Kau mau kemana? Hei adik ipar brengsek!” teriak Rehan lantang, tetapi tidak membuat pintu yang sudah tertutup itu dibuka kembali oleh Diego.


“Ah, sialan!”



Senyumnya masih terlihat jelas ketika ia turun dari mobil. Berjalan dengan santai sambil memikirkan ekspresi istrinya nanti.


Namun saat turun, ia melupakan hal penting. Ponsel yang dia letakkan di bangku depan tiba-tiba berdering. Panggilan yang berasal dari sang istri dia lewatkan begitu saja.


Sudah sepuluh menit dia berdiri di toko. Dengan mata yang sibuk memilih beberapa bunga untuk dirangkai, hingga melewatkan 5 panggilan dari sang istri.


Pada menit ke tiga puluh, barulah ia keluar dengan buket bunga yang cukup cantik. Dia kembali ke mobil, meletakkan buket itu di kursi depan, hingga menutupi ponselnya.


Entah, sudah berapa banyak panggilan yang ia lewatkan dari beberapa orang. Namun saat dia kembali melajukan mobilnya hingga beberapa ratus meter, sebuah panggilan berhasil masuk dan langsung tersambung di Head Unit-nya.


'Ibu Calling ….' Begitulah yang tertera di layar Dashboard.


Kenapa dia menelponku malam-malam begini? Sudahlah, biarkan saja.

__ADS_1


Satu panggilan pun dia lewatkan. Hingga panggilan yang masuk ke dua kalinya, dia merubah keputusannya.


"Anak kurang ajar! Kenapa kau menolak panggilan dariku?!" Nada bicara Mirey terdengar begitu keras saat Diego menjawab panggilannya.


"Aku sedang menyetir."


"Aku tidak peduli! Cepat ke rumah sakit! Istrimu akan melahirkan!"


CKITTT!!! BRAK!!


...☆TBC☆...


Tenang tenang, ngak bakal ada drama amnesia kok 🤭🤭



...Seranjang Dengan Mertua...


...Pernikahannya belum berakhir, tetapi wanita bernama Azalea itu justru menghabiskan satu malam penuh hasrat bersama pria asing yang bukan suaminya....


...Hal yang lebih mengejutkan lagi, ketika Azalea mengetahui jika pria asing itu ternyata ayah dari pria yang menjalin pernikahan dengannya. Namun bukannya mengatakan hal itu pada sang anak, Darion justru menyuruh Zea untuk menghubungi dirinya lantaran ia punya banyak uang dibanding sang anak....


..."Bagaimana aku bisa menganggapmu menantu, jika dia saja tidak aku anggap anak!"...


...Apa yang terjadi selanjutnya? ...


...Adakah rahasia yang tersirat akan hubungan ayah dan anak itu?...


Coming Soon!!!

__ADS_1


__ADS_2