
Sudah tiga hari dua malam mereka berada di Antalya. Kini sudah waktunya mereka kembali ke Istanbul, menjalani rutinitas seperti biasa. Liburan, telah berakhir.
Sebuah helikopter milik keluarga Gulbar sudah standby di rooftop hotel sejak pukul 7 pagi. Beberapa pengawal terlihat sedang berjaga sembari menunggu tuan mereka selesai sarapan.
Setidaknya dua jam, sampai mereka melihat Diego mendorong kursi roda yang diduduki Aishe, serta Eraz berjalan ke arah mereka.
"Lihat! Kau membuat mereka menunggu lama," ucap Aishe tiba-tiba.
"Kenapa? Kamu cemas saat mereka menunggu lama dan tidak cemas saat suamimu ini menunggu semalaman?"
Ya, pria itu sedang membicarakan 'jatah makan malam' yang sudah dilupakan istrinya 2 kali.
Namun meski begitu, raut wajahnya tidak terlihat kecewa sama sekali. Dia justru terlihat bahagia, dengan dua sudut yang terangkat sedikit.
"Masih saja membahasnya, Die."
Suara baling-baling terdengar begitu kencang saat mereka berjalan semakin dekat. Suara Aishe pun terdengar samar, bahkan Eraz yang berjalan di depan mereka pun tidak bisa mendengarnya.
Namun meski begitu, Diego cukup peka. Dia bisa mengerti meski suara sang istri sangat samar.
Diego meraih tangan sang istri, lalu membantunya berdiri dari kursi roda. Setelah wanita itu berdiri dengan sempurna, Diego mendekatkan bibirnya di telinga Aishe.
"Aku tidak membahasnya lagi, Sayang."
Hanya beberapa patah kata, tapi hal itu berhasil membuat Aishe tersenyum. Dia bahkan menorehkan kecupan manis di pipi sang suami.
Satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah dengan selamat. Dokter yang sudah berjaga-jaga pun langsung memeriksa kondisi kehamilannya.
"Semua baik-baik saja. Bahkan kepalanya sudah memasuki panggul," jelas seorang dokter kandungan yang dipanggil satu jam lalu oleh Rubby.
"Persalinan mungkin akan terjadi sebentar lagi. Itu mungkin akan menyakitkan, Nyonya. Tetapi berusahalah untuk tenang dan segera menghubungi saya," lanjutnya berbicara pada Aishe.
__ADS_1
"Saya sudah membaca buku panduan yang Anda berikan. Selain itu ada beberapa artikel juga. Jangan khawatir Dokter Ana, saya sudah siap."
Seulas senyum terukir di wajah cantik Aishe. Meski pipi dan beberapa badannya sedikit melebar dibanding sebelumnya, tetapi dia masih terlihat cantik. Dia terlihat begitu tenang, meski mendengar persalinannya akan terjadi sebentar lagi. Bahkan dengan jutaan rasa sakit yang mungkin dia hadapi saat mengalami kontraksi.
Namun meski dia terlihat tenang, bahkan terlihat sangat antusias. Hal itu jelas berbeda dengan Diego. Rasa cemas dan was-was selalu menghantuinya.
"Anda tidak perlu cemas, Tuan. Nyonya akan melewatinya dengan cepat. Anda hanya perlu mendukungnya," jelas dokter saat Diego mengantarnya keluar kamar.
Dokter paruh baya berumur 52 tahun itu terlihat begitu tenang. Keahlian dokter Ana sudah tidak diragukan lagi dalam menangani persalinan normal maupun secar.
Selain menjadi dokter yang diandalkan keluarga Gulbar, dia juga menjadi dokter andalan keluarga besar lainnya. Alasan itu menjadi alasan Diego bisa bernapas sedikit lebih longgar.
Setidaknya, dia sudah mempercayakan istri dan anaknya kepada orang yang cukup ahli.
"Aku percayakan istriku pada Anda, Dokter An."
Dokter Ana mengangkat garis sudut bibirnya sedikit. Dalam ingatan tuanya, tiba-tiba terlintas perkataan Deniz saat bertemu dengannya minggu lalu. Perkataannya sama seperti anaknya.
"Wanita itu sangat beruntung bisa dicintai keluarga Gulbar. Ayahmu bahkan mengatakan hal yang sama."
Karena hanya dia saja, yang mampu membawa pria tua itu keluar dari persembunyiannya selama bertahun-tahun.
Diego kembali ke kamar usai mengantar Dokter Ana. Dia sudah harus berpamitan pada istri tercinta untuk pergi bekerja segera. Lantaran beberapa pekerjaan sudah menumpuk.
Aishe sedang berada di Walk In Closet pada saat Diego membuka pintu kamar. Dia baru saja selesai memakai baju dibantu oleh Rubby. Namun saat itu resleting bajunya belum naik, sehingga Diego menyuruh Rubby untuk pergi dan mengambil alih tugasnya.
Tangan besarnya menyentuh resleting, terasa sedikit hangat ketika tidak sengaja menyentuh kulit punggung Aishe. Begitu hangat hingga wanita itu terasa sangat nyaman.
"Pekerjaanku menumpuk," kata Diego tiba-tiba.
"Aku tahu. Pergilah bekerja! Istrimu butuh banyak uang untuk biaya persalinan."
__ADS_1
Pria itu jelas tahu, perkataan sang istri hanya gurauan belaka. Namun entah mengapa, ia sangat ingin menggoda istrinya.
Dengan manja ia menyandarkan kepalanya di pundak sang istri, lalu melingkarkan kedua tangannya di perut. Belum puas sampai di situ, ia mulai mengerayangi leher jenjang Aishe dengan bibirnya. Bahkan meninggalkan jejak merah di beberapa bagian.
"Aah … Die! Hentikan, cukup!" Ronta Aishe merasakan geli lantaran bulu-bulu tipis milik sang suami menyentuh kulitnya.
"Ssttt! Kenapa kamu malah bersuara senakal ini? Suamimu harus segera pergi bekerja, Sayang." Diego masih berusaha menggoda Aishe, bahkan meski istrinya mengeliat lantaran geli, dia tetap tidak berhenti.
Sampai pada akhirnya, Aishe mendorong wajah tampan dengan bulu-bulu tipis di sekitar rahangnya itu menggunakan tangan.
"Menyebalkan! Kau menggodaku lebih dulu!" seru Aishe kesal.
Ekspresi wajahnya memang tidak bisa dibohongi. Dengan wajah yang sudah merona merah, dia memanyunkan bibirnya seolah - olah sangat kesal.
Namun hal itu hanya akan membuat Diego semakin gemas. Pria itu bahkan masig sempat menggoda Aishe dengab mencium bibirnya.
"Baiklah, kita lanjutkan nanti malam! Ini sudah sangat terlambat," kata pria itu.
"Siapa yang mau melanjutkan?"
Diego hanya tersenyum mendengar jawaban ketus Aishe. Pada akhirnya, dia membelai pipi sang istri, sebelum mengucapkan beberapa patah kata.
"Istirahatlah dengan baik. Makanlah lebih dulu, jangan menungguku pulang."
"Lembur?"
"Mungkin, tapi aku berjanji akan menyelesaikannya dengan cepat."
Melihat Aishe mengangguk dengan patuh, Diego merasa sedikit lega meninggalkannya dirumah bersama Rubby dan yang lain. Dia bahkan sempat mengelus dan mengecup perut besar Aishe sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah.
...☆TBC☆...
__ADS_1
Awali hari dengan yang manis-manis 🤣
Jangan lupa jempolnya digoyang 😌