
Jika Aishe dan Diego dulu memilih pusat kota dengan pemandangan selat Bosphorus untuk pernikahan mereka, maka Guzel dan Ashan melakukan hal yang berbeda.
Mereka justru memilih tempat yang cukup jauh dari pusat kota. Bahkan untuk menuju ke lokasi saja memerlukan setidaknya 45 menit hingga 1 jam perjalanan menggunakan helikopter.
Izmir, kota yang terletak sejauh hampir 500 kilometer dari Istanbul. Terletak di sebelah barat Turki, Izmir tak hanya menyajikan wisata pantai yang indah, tetapi juga kawasan hutan cantik dan wisata sejarah yang erat kaitannya dengan peradaban manusia.
Tak jauh dari pusat kota Izmir, ada sebuah kawasan Forest dengan sekumpulan pepohonan rindang yang sudah di dekor sejak pagi. Benar, itu adalah lokasi yang dipilih Ashan sebagai tempat pengucap janji suci bersama Guzel hari ini.
Guzel sudah berada di Izmir sehari sebelum acara bersama dengan Emmine, Rubby, dan juga beberapa pengurus. Namun si mempelai pria justru baru tiba dini hari, tepat 7 jam sebelum acara. Kehadirannya bahkan didahului Rehan dan Eraz, yang tiba 3 jam setelah rombongan pengantin wanita.
Entah, apa yang membuatAshan datang cukup terlambat, bahkan di jam jam menuju pernikahannya sendiri.
Mentari sudah terbit dari ufuk timur sejak satu jam yang lalu. Emmine dan Rubby juga terlihat sangat sibuk dengan beberapa hal. Lain halnya mereka, Guzel justru terlihat santai saat duduk di depan para penata rias yang siap dengan perlengkapan make up mereka.
"Apa nyonya dan Tuan Diego belum datang?" tanya Rubby tiba-tiba saat ia masuk ke kamar Guzel.
"Ah, nyonya baru saja menghubungiku. Mereka bangun kesiangan lantaran … eemm lembur," jawab Guzel dengan nada yang terlihat sedikir ragu.
"Lembur?" Sela Emmine baru saja masuk dan mendengar perkataan Guzel.
__ADS_1
"Maksudmu, lembur yang mereka lakukan berdua kan? Rehan bilang, pekerjaan Diego sudah diselesaikan Ashan semalam," lanjut Emmine.
"Aah, jadi itu alasan Tuan Ashan datang pukul 2 pagi," timpa Rubby.
"Tidak, bukan seperti itu. Nyonya dan tuan bahkan menyuruh Ashan cuti satu hari lebih awal." Ucapan Guzel terdengar seperti pembelaan di telinga Emmine.
"Dia sendiri yang tidak tega pergi dari ruangan sebelum pekerjaannya selesai," lanjut Guzel.
Namun penjelasan Guzel tidak membuat Emmine merubah pandangannya dalam sekejap. Bagi gadis itu, sosok Diego tetaplah Si Dingin Arogan.
"Aku percaya jika itu Aishe tapi 'tidak' untuk suaminya. Apa dia cukup baik di matamu?" tanya Emmine yang baru saja duduk di atas ranjang sambil melipat kedua tangannya.
"Iya. Tuan itu … teramat sangat baik. Bahkan sejuta ucapan 'terima kasih' tidak cukup untuk berterima kasih atas segala kebaikannya padaku juga mendiang ibuku."
Suara Guzel saat menjawab terdengar sedikit bergetar. Tidak hanya sorot mata saja yang terlihat penuh kesedihan, bahkan suara yang keluar dari bibirnya pun menunjukkan hal itu.
Emmine sendiri juga bukan orang yang tidak peka setelah mendengar suara Guzel. Dia jelas mengerti perasaan Guzel saat menjelaskan betapa baiknya Diego pada orang-orang yang telah lama bekerja padanya.
Emmine perlahan bangkit berdiri sambil berkata. "Iya iya, aku mengerti. Pria itu memang punya sisi baik."
Mendengar itu, Guzel dengan cepat merubah ekspresi wajahnya. Dia tersenyum, lalu menoleh menatap Emmine yang berada di sampingnya dengan tatapan puas.
__ADS_1
"Wah, kau tersenyum dengan cepat!" Ledek Emmine yang membuat Rubby tertawa.
Tepat pada saat Rubby tertawa, pintu kamar tiba-tiba terbuka tanpa ada ketukan pintu lebih dulu. Hal itu jelas membuat semua orang kompak menoleh.
Seorang wanita dengan gaun panjang sederhana terlihat membawa banyak sekali paper bag di kedua tangannya. Dia berjalan masuk dengan kepala tertunduk, membetulkan salah satu paper bag yang hampir lepas dari genggamannya.
"Aku tidak terlambat kan?" ucapnya.
Mereka yang melihat perut besar wanita itu, dengan cepat bangkit berdiri. Bahkan Guzel yang rambutnya sedang di tata pun, ikut bangkit berdiri menghampiri wanita itu.
"Kenapa Anda membawa semua ini sendiri?" seru Rubby yang berhasil mendatangi Aishe lebih dulu dan langsung mengambil barang-barang yang ada di tangannya.
"Dimana suamimu dan para pengawalnya?" tanya Emmine terlihat kesal. "Jangan bilang kau ingin bawa semua ini sendirian?"
Mendengar tebakan Emmine, Aishe hanya tersenyum. Dia bahkan tidak merasa bersalah pada beberapa pengawal yang sempat diancamnya, juga kekhawatiran Emmine, Rubby, dan Guzel.
...☆TBC☆...
Bab selanjutnya segera meluncur, jangan lupa goyang jempolnya. 😊😊
__ADS_1