
Ashan.
Kita akan hidup, Guzel. Akan hidup. Aku bahkan belum mencicipi sejengkal bibir manismu. Bagaimana bisa membiarkan mereka menang dengan mudah?
Ashan masih dengan gigih melindungi Guzel, tetapi wanita itu sudah mencapai ambang batasnya untuk tetap sadar. Darah segarnya mengucur, membasahi gaun merahnya yang sudah lusuh. Dari kejauhan, ia memandang tubuh sang ibu yang sudah tak bernyawa. Rasa-rasanya, ia mungkin akan segera menyusul sang ibu.
"Tetaplah sadar, Guzel. Tetaplah sadar! Apa kau tidak ingin hidup bersamaku?" Teriakan yang begitu lantang, sebenarnya ia bisa mendengarnya. Namun, telinganya yang berdengung itu bercampur dengan suara lantang Ashan.
Di sisi lain, Rehan telah berhasil pergi dan terus berlari ke arah mobil yang terparkir di halaman sambil membopong Aishe. Ia buru-buru membuka kunci, lalu meletakkan tubuh Aishe duduk di kursi penumpang.
"Kembalilah Rehan! Cepat kembali dan bantu dia!" Nada bicara Aishe terdengar sedikit serak. Kerongkongannya benar-benar kering sekarang. Selain menghirup banyak asap, dia juga sempat berteriak dengan lantang memanggil Diego.
"Tidak bisa!" Ketus Rehan terlihat buru-buru saat memasang sabuk pengaman. "Aku akan membawamu pergi!"
__ADS_1
"Beri aku senjata, aku bisa melindungi diri sendiri!" Aishe mencoba bernegosiasi dengan Rehan. Berharap pria itu bisa kembali dan membantu mereka semua.
Namun belum sempat Rehan bereaksi, beberapa mobil datang menuju halaman belakang. Pria itu terpaku untuk sejenak, menyadari jika mobil-mobil yang datang bukan dari pihak Diego.
"Cepatlah! Apa lagi yang kau tunggu?" bentak Aishe menyadarkan lamunan sesaat Rehan.
Dilema menyelimuti pikiran Rehan untuk beberapa detik, sebelum akhirnya dia mengingat perkataan Diego dan ayahnya untuk menjaga Aishe. Pada akhirnya, ia tetap harus membawa Aishe pergi apa pun yang terjadi.
Namun ketika ia hendak menutup pintu, suara Mustafa menghentikan gerakan tangannya. Rehan menoleh, sedangkan Aishe buru-buru melepas seat belt dan keluar dari mobil. Penasaran, apakah mereka semua sudah berhasil?
"Ayah?" seru Rehan melihat Mustafa berjalan mendekat.
Satu peluru melesat dengan cepat, melewati Mustafa dan berakhir di dada seorang pria yang mengejar Mustafa.
"Ayah baik-baik saja?" Aishe mengusap lengan Mustafa saat pria itu sampai di hadapannya.
__ADS_1
Sedangkan Rehan dan Mustafa sempat terkejut untuk sesaat akibat gerakan reflek Aishe yang sangat tiba-tiba. Rehan sendiri tidak heran, dari mana kemampuan menembaknya itu, berbeda halnya dengan Mustafa yang semula menganggap Aishe gadis yang lembut.
"Ti-tidak apa," jawab Mustafa yang masih shock. "Ayo segera pergi, aku sudah menghubungi mereka untuk segera datang!" Mustafa menarik tangan Aishe, dan membawanya masuk kembali ke dalam mobil.
"Kalau begitu, aku akan kembali membantu. Max si sialan itu mengirim banyak orang!" Rehan terlihat mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ada emosi yang membara ketika Rehan mengatakan hal itu. Alisnya berkerut, bahkan matanya menatap nyalang.
"Katakan padanya agar tidak gegabah. Aku akan membawa istrinya pergi!"
Rehan mengangguk, lalu pergi ke belakang dan membuka bagasinya. Disana, ada sekitar dua senjata laras panjang, dan dua senjata laras pendek, tidak lupa juga dengan amunisi. Rehan mengambil semuanya, lalu memberikan dua slot amunisi pada Mustafa.
"Re … maksudku, Kakak. Hati-hatilah!" ucap Aishe tiba-tiba, membuat Rehan terdiam untuk sesaat.
"Aku memang harus selamat! Ingat, aku akan menagih hutang penjelasan itu pada kalian semua!"
__ADS_1
Bab selanjutnya OTW
Sajen jangan lupa 💋💋