Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 178


__ADS_3

Hormon awal kehamilan, konon katanya hormon ini memang membuat para ibu hamil cepat lelah dan mengantuk. Sama seperti saat ini, saat Aishe tiba-tiba terlelap di pundak Diego. Bahkan hanya dalam waktu perjalanan yang tidak sampai setengah jam.


Diego dengan lembut melepas seat belt, lalu membopong tubuh Aishe dari mobil, hingga masuk menuju kamar. Bibi Banu dan dua maid terlihat berdiri menyapa kedatangan mereka. Namun Diego tidak melirik dan terus berjalan menuju lift.


Dia menurunkan tubuh Aishe perlahan ke atas ranjang. Setelah posisi sang kekasih terlihat nyaman, barulah ia melepas sepatu sang istri.


Pekerjaanmu hari ini sangat banyak ya, belanja dan makan. Itu saja sudah membuatmu lelah?


Diego memandangi wajah sang istri yang kedua matanya tertutup. Lalu menunduk sesaat, melepaskan senyuman manis saat mengetahui cantiknya sang istri ketika tidur. Kemudian ia membungkukkan badan, memberi bibir tipis itu sebuah kecupan manis. Namun, Aishe justru membuka mulutnya dan mengecup bibir bawah kemerahan sang suami.


Diego yang sempat mengira jika sang istri sudah benar-benar terlelap, pun langsung membalas ciuman itu dengan mesra.


"Die … aku lelah," kata Aishe lirih saat ia melepas ciumannya dengan kedua mata yang masih menutup.


Dua sudut bibir Diego terangkat, lalu mengecup kening Aishe. "Tidurlah, cari aku di ruang baca saat kau bangun."


Aishe hanya berdehem, kemudian memiringkan badannya dan kembali terlelap. Diego masih menaikkan satu sudut bibirnya, bahkan sampai ia keluar dari kamar dan pergi menuju ruang baca. Jalannya belum begitu stabil saat ini, masih ada nyeri yang menjalar dari bekas tembakan di kakinya. Namun, itu tidak terlalu serius, hingga membuat ia harus duduk di kursi roda, lagi.


Diego menyalakan lampu sudut dengan cahaya yang minim, untuk menemaninya membaca laporan yang tadi dikirim oleh Ashan. Ini adalah moment yang selalu ia suka saat berada di Villa Luxury, membaca atau bekerja dengan cahaya yang temaram.


Dia baru duduk selama satu jam di sana, sibuk mengurus laporan, saat sebuah email dari Eraz masuk. Memperlihatkan sebuah video yang diunggah di sosial media dan mendapat banyak komentar. Benar, itu adalah video saat sang istri menonjok penerus dari Zoe Konveksi.


Kilat amarah terlihat dengan jelas dari sorot matanya saat melihat potongan Video yang tidak lengkap. Kedua tangannya mengepal kuat saat membaca berbagai hujatan untuk sang istri. Pada saat itu, dia sangat ingin mengumumkan pada seluruh dunia, bahwa Aishe adalah istrinya.


Namun pada akhirnya, ia hanya menghela napas kasar, membuang seluruh amarahnya. Lalu menghubungi Rehan, saudara dan juga kakak iparnya.


"Eraz memberimu potongan Video?" tanyanya to the point sambil memijat kening.

__ADS_1


"Saya baru saja melihatnya. Ada perintah, Tuan?"


"Max sudah mati, kenapa kau masih begitu formal?" Hela napas Diego terdengar sangat berat. "Kau masih ada rasa canggung seperti apa?"


Tidak ada jawaban apapun dari Rehan setelah Diego bertanya seperti itu. Sampai sepersekian detik, pria yang tersambung dengan panggilan telepon itu memanggil nama Diego.


"Diego … apa yang ingin kau lakukan?"


Itu adalah panggilan pertama dari Rehan. Setelah enam tahun dia berada di bawah perintah Diego untuk membalaskan dendamnya pada Max. Dan langsung membuat dua sudut mata Diego memincing, dengan senyum menyeringai.


"Sebenarnya sudah tau apa yang aku mau, Rey," jawab Diego singkat.


"Baiklah, aku mengerti. Duduk dan tunggu saja, aku yang akan mengurus mereka!" ucap Rehan yang kemudian mengakhiri panggilan telepon.


Diego menyandarkan pundaknya, lalu menatap pintu yang sedikit terbuka. Dua sudut bibirnya lagi-lagi terangkat, namun kini dengan tatapan yang teduh dan tenang.


Pintu itu lalu terdorong dari luar, disusul langkah laki dari Aishe yang masuk. Diego memundurkan kursi, lalu memutar kursinya agar bisa menyambut kedatangan sang istri. Dia merentangkan tangan kanannya yang langsung disambut tangan Aishe.


"Kau tau aku datang?" tanya gadis itu meriah tangan sang suami.


"Eem, aku tau!" Diego mengecup tangan sang istri, lalu meletakkan tangan Aishe di pundaknya dan mencium perut sang istri.


"Apa tidurmu nyenyak, Sayang?" tanya Diego yang kini menengadah, menatap kedua mata sayu sang istri yang baru saja terbangun.


"Tidak!" jawabnya singkat, lalu duduk di pangkuan Diego sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang milik sang suami. "Tidak ada dirimu disampingku, mana bisa tidur nyenyak?"


Diego terkekeh pelan, "Baiklah, aku akan menemanimu tidur!"

__ADS_1


"Rasa kantuk ku sudah hilang!" tegas Aishe sedikit ketus.


Aishe sempat menghela napas kasar, lalu memanggil nama Diego dengan lembut.


"Die … apa aku membuat masalah?" tanyanya tiba-tiba.


Aishe mungkin memang tidak lama di depan pintu dan mendengar percakapan singkat sang suami. Namun sebelum itu, dia sudah melihat videonya, bahkan membaca komentar-komentar jahat yang langsung ditujukan padanya.


"Kamu mengkhawatirkan apa? Mereka semua akan meminta maaf padamu besok, jangan cemas!" ucap Diego menenangkan sang istri.


"Kamu tidak mungkin mengancam mereka semua kan, Sayang?" tanya Aishe yang kemudian mengangkat kepalanya agar bisa melihat ekspresi sang suami.


Diego lagi-lagi terkekeh, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.


"Tidak, Sayang. Aku hanya ingin memberitahu mereka …." Diego mendekatkan kepalanya ke leher sang istri. "Jika istriku, tidak bersalah," lanjutnya kemudian mendengus.


Napas hangat sang suami langsung menjalar turun dari leher. Terasa hangat, tetapi berhasil membuat tubuh Aishe sedikit bergetar.


"Pengacau kecil!" Aku akan menagih bayaran untuk ini nanti. Diego mencium leher sang istri beberapa kali. Namun tidak ingin meninggalkan ruam merah di sana.


...☆TBC☆...



Babang ... brewok mana brewok 🤭


2 hari ini pikiran lagi gak aman. Maafkan ya baru sempet Up. Tenang tenang, masih Up lagi kok nangi 😌

__ADS_1


__ADS_2