
Menurut perkiraan cuaca hari ini, Istanbul dan sekitarnya akan mengalami hujan salju. Bukan badai lebat, tetapi cukup memberi peringatan warganya agar
tidak keluar jika tidak memiliki urusan penting. Sebelum langit gelap, Aishe sudah lebih dulu menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang.
Dia baru saja menyerahkan laporan kerjanya pada Ashan, ketika dia melewati ruang kerja Diego, telinganya samar-samar mendengar ******* seorang wanita. Langkah kakinya terhenti di depan pintu, mendengarkan suara yang semakin lama semakin
jelas.
Kedua matanya menyipit, dahinya berkerut. Ingin sekali ia mendobrak pintu dan melihat ke dalam, melihat perempuan mana yang mendesah begitu kuat tanpa
tahu malu seperti itu. Namun dia mengurungkan niatnya. Aishe lebih memilih memendam rasa ingin tahunya, dari pada melihat sesuatu yang membuat hatinya sakit.
Dia bersiap hendak pergi, tapi tiba-tiba pintu ruangan Diego terbuka. Eraz terlihat berdiri sembari menenteng kotak obat.
“Nona Aishe, sedang apa di sini?” tanyanya.
“Tidak ada, aku hanya kebetulan lewat.” Aishe berusaha melirik bagian belakang tubuh Eraz. “Sekalian mau bertanya. Dia ingin makan apa nanti?” Dia masih terus melirik, tanpa memperhatikan lawan bicaranya.
Kemana arah lirikan itu? Eraz sudah pasti tahu arahnya kemana. Diam-diam pria itu tertawa, melihat tingkah penasaran Aishe yang menurutnya sangat lucu.
“Anda ingin masuk, Nona? Kebetulan Tuan sedang bermain sesuatu yang menyenangkan bersama seseorang.”
Bermain? Sesuatu yang menyenangkan? Dengan ... suara dessahan itu?
Pikirannya di buat melayang oleh ucapan Eraz yang terdengar cukup ambigu di telinganya, hingga akhirnya dia membayangkan beberapa adegan dewasa yang sedang di lakukan Diego di ruang kerjanya. Ahh ... itu seperti adegan dua wanita satu pria, jika dia ikut bermain.
“Tidak!” pekiknya sambil melambaikan tangannya dan hendak pergi. Namun tiba-tiba saja ....
“sudah susah-susah mengintip, kenapa sekarang kabur?”
__ADS_1
Suara Diego terdengar jelas menyapa indra pendengaran Aishe, padahal dia tidak sedang berteriak di dalam. “Masuk dan duduklah! Kakimu tidak lelah
berdiri di sana?”
Aishe menyengir kuda memandangi Eraz yang justru membuka pintu semakin lebar dan mempersilakan dirinya untuk masuk ke dalam. “Silakan, Nona!”
Rasanya ingin kabur ke planet Mars, Neptunus, atau Jupiter, dari pada harus
bergabung dengan dia. Aah ... sialan!
Seakan tidak punya pilihan lagi, Aishe masuk ke dalam dengan senyum lebar yang sebenarnya menunjukkan ekspresi enggan. Begitu masuk, netra matanya
langsung disuguhkan oleh seorang wanita cantik yang memakai dress biru. Wanita itu duduk di sofa sambil menunjukkan kakinya jenjangnya yang mulus.
melihat sorot mata serius penuh konsentrasi dari pria itu.
Sudah rapi? Padahal belum ada 5 menit dessahan wanita itu terdengar.
Apa aku salah sangka?
Mereka tidak sedang enak-enak?
Lamunan sesaatnya tiba-tiba di kagetkan dengan suara Diego yang memanggil. Nada suaranya halus, seperti bukan perintah, melainkan panggilan lembut dari sang kekasih. Suara yang keluar seperti melodi indah dengan mantra, membuat orang yang mendengar panggilan itu terhipnotis dan menghampiri sumber suara dengan suka rela. Begitu pun Aishe yang tanpa sadar sudah berdiri di sampingnya.
Diego memutar kursi rodanya menghadap Aishe. Lalu, mengambil tangan kanan wanita itu dan menciumnya. “Menungguku pulang?” ucap pria itu lembut.
Sentuhan dan tindakannya, terasa asing bagi Aishe. Dia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu selama setengah tahun terakhir. Sampai akhirnya, dia teringat akan perkataan Eraz saat berdiri di depan pintu.
__ADS_1
Rupanya permainan ini yang dia maksud.
Aishe menaikkan salah satu sudut bibirnya sambil menatap Diego. “Iya. Aku penasaran, kamu ingin makan malam apa.” Dia menyingkap rambutnya sambil melirik wanita yang sedang duduk di sofa.
“Apa yang aku inginkan selain dirimu?” Diego lanjut menggoda mengikuti alur.
Melihat dua orang bermesraan, wanita yang sejak tadi duduk di sofa diam-diam mengeratkan dua baris giginya sambil mengepal tangannya kuat-kuat.
Cemburu? Itu mungkin. Namun, siapa dia?
Aishe membungkuk sedikit, dan berbisik pada Diego. “Tuan, tamu
Anda melirik tajam ke arahku. Dia seperti ingin menerkamku bulat-bulat!”
Napas hangat menyapa leher jenjangnya, membuat Diego mengangkat dua sudut bibirnya. Tiba-tiba, dengan gerakan cepat, ia menarik tangan Aishe. Gadis itu jatuh tak berdaya di pangkuan Diego, dan belum sempat ia bereaksi untuk berdiri, Diego secara lembut ******* bibirnya.
Aishe tidak bisa menolak, juga tidak bisa berontak. Lagi pula, ia sendiri cukup senang dan menikmati setiap sentuhan serta kecupan dari Diego. Dia dengan
sadar mengalungkan kedua tangannya ke leher, dengan sorot mata tajam memandangi gadis yang sedang cemburu itu. Aishe tahu dengan betul, kecemburuan seperti apa yang tertanam dalam sorot matanya. Namun dia tidak peduli, tentang kecemburuan, atau hubungan di antara mereka. Dia sekarang hanya ingin menikmati, makanan pembuka yang tersaji di hadapannya.
Semakin lama, raut wajah gadis bernama Malva semakin masam tidak mengenakkan. Dia tiba-tiba bangkit berdiri dari kursinya. “Kakak sepertinya
sedang sibuk. Kalau begitu, Malva pamit dulu. Jangan lupa undangan dari mama,” ucapnya kesal,
lalu keluar dari ruangan.
...*TBC*...
__ADS_1