
Diego –
Kau seperti kopi, pekat dan memikat. Pahit tapi membuat nagih. Setiap inci tubuhmu, selalu berhasil membuat gairahku bergelora liar.
Ishe … tidakkah kau tau kalau aku sudah jatuh dalam pesonamu?
Diego berpindah posisi sedikit menegakkan punggungnya sambil melepaskan celana pendek tanpa menggerakkan kaki. Setelah menyamankan posisinya, ia menarik tangan Aishe dan memindahkannya duduk di atas paha. Dari bawah, dia bisa melihat wajah wanita itu memerah. Rambut panjangnya menjuntai indah, menutupi setengah pundak putih nan mulusnya.
Tanpa perlu diarahkan, gadis itu telah mengerti taktik lawan mainnya. Ia mengapit kedua paha Diego, dan melesakkan senjata tak bertulang ke dalam gerbang surgawi miliknya, membuat desah keduanya menggema.
"Ughh – Kau cantik, Ishe!"
Untuk pertama kalinya, pria itu memuji kecantikan Aishe. Entah sebab apa? Padahal dulu ketika dia berdandan, Diego tidak pernah sekalipun memujinya. Namun sekarang, hanya mengandalkan muka bantal, Aishe mampu membuat Diego memuji kecantikannya.
"Kau pun sangat tampan dan selalu bisa membuatku kehabisan napas!"
Aishe mulai mendongak ke atas, kemudian menggerakkan pinggulnya naik dan turun, membuat senjata yang telah berevolusi itu melesak semakin ke dalam.
Oh, ****! Wanita ini selalu bisa membuatku puas. Jika saja kakiku … sudahlah, aku hanya perlu bersabar sedikit lagi.
Kedua tangan Diego melingkar di pinggang Aishe, sorot matanya fokus menatap buah ranum yang memantul berirama dengan gerakan naik turunnya. Membuat Diego menerjangnya dengan ganas.
"Di-ego … uumm … aahh."
__ADS_1
Tidak tahan, sudah tidak tahan lagi. Gejolaknya sudah mencapai ubun-ubun.
Aishe meraih kedua pipi Diego, mendongakkannya ke atas dan mencumbunya. Bersamaan dengan itu, gerakan pinggulnya berubah menjadi maju mundur dengan cepat.
Ketika gairahnya menuju puncak, Aishe melepaskan panggutan, tangannya berpindah ke pundak dan mencengkramnya. Pada saat yang sama, ia mendongak ke atas dan melepaskan hormon oksitosin dan membiarkannya menyebar.
"Uugh … aahhh, Diego!" Aishe meremas rambut Diego, sembari mengeluarkan lelungan merdunya.
"Kau puas, Sayang?" ucapnya membelai bibir Aishe.
"Eemm." Dua bibir itu kembali beradu skil, menerjang masuk ke dalam dan menyusuri segala sudut.
Aishe kembali menggerakkan pinggulnya sepersekian detik setelah ia mengambil napas panjang. Mengawalinya dengan gerakan pelan, yang semakin lama semakin kuat dan itens.
"Ugh … Baby, Damn It!" Diego memukul pantat sintal Aishe beberapa kali sambil mengerang. "Agh … Ishe, *Y*our Booty is Amazing!"
Aishe mempercepat ritme gerakannya, naik dan turun, hingga bulir keringat membasahi kening dan pahanya. Semua demi memacu adrenalin Diego dan membawanya ke puncak kenikmatan.
"Oh, ****! I'm Coming, Baby!" Diego meremas kedua buah ranum yang sejak tadi memantul dengan indah, dan menjiilat kedua putik berwarna pink secara bergantian. Bersamaan dengan itu, miliknya berdenyut di dalam, dengan semburan lava hangat yang mengalir tanpa pengaman.
Udara di luar terasa cukup dingin, tetapi dua orang itu justru dibanjiri keringat yang mengucur. Deru napas pun saling sahut menyahut satu dan lainnya. Aishe yang kelelahan menjatuhkan dirinya di dada bidang Diego yang sedikit berbulu.
"Lelah?" tanya Diego yang di jawab dengan dua kali anggukan kepala.
"Biarkan begini saja kalau begitu."
__ADS_1
Keduanya saling memeluk, melepaskan rasa lelah setelah bertempur selama hampir satu jam. Dalam rasa lelahnya, Aishe tanpa sadar terlelap beberapa saat. Hanya beberapa menit, sampai dering ponsel mengagetkan mereka.
Diego meraih ponsel yang di taruh di atas nakas. Melihat nama Emil tertera di layar, Diego cepat-cepat menjawab panggilannya.
"Katakan!" ucapnya lirih agar tidak membangunkan Aishe yang masih terlelap dalam dekapannya.
"Tuan, Farhan bunuh diri. Dia mengigit lidahnya sendiri sampai putus, ketika dua orang pria memasuki selnya."
Aishe jelas sudah bangun sejak ia mendengar dering ponsel, tetapi matanya masih terlalu berat untuk terbuka. Namun begitu telinganya tidak sengaja mendengar kabar Farhan, kedua mata itu langsung terbuka.
"Dia mati? Ini masih 42 hari." Aishe berusaha mengangkat kepala yang terasa berat.
"Kamu masih belum rela?"
Aishe menghela napas, kemudian bangkit dari ranjang. "Tidak juga. Dia sudah merasakan neraka miliknya, tapi sayangnya hanya 42 hari." Dia memunggut pajamas yang jatuh di lantai dan memakainya.
"Apa kamu ingin memberi makan srigala dengan mayatnya? Aku akan memberitahu Emil jika demikian."
Aishe berbalik menatap kedua sorot mata Diego yang cukup serius. Benar, pria yang beberapa kali ini bermain ranjang dengannya memang tidak pernah main-main dengan ucapannya, terlebih jika itu tentang menganiaya musuh.
...**☆TBC☆...
Yang masih setia kasih Like, Komen,Vote dan Hadiah. Othor cuma mau ngucapin, 'kalian semangatku'.
__ADS_1
🤣🤣🤣🤣
Hari ini yang kegerahan jangan lupa mandi 😏**