Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 65


__ADS_3

Setelah berhenti dua jam yang lalu, salju kembali turun di kota, bersamaan dengan suhu udara yang semakin rendah. Beberapa berita menyampaikan, jika suhu akan mencapai minus 5 derajat hingga malam nanti. Selain itu, juga memperingatkan untuk tidak beraktivitas di luar rumah jika tidak diperlukan.


Cuaca seperti ini bukan menjadi hal baru di Istanbul. Suhu rendah hingga mencapai titik minus, sering kali terjadi saat pertengahan musim dingin. Namun, musim dingin kali ini terasa begitu menyiksa bagi Aishe.


Usai dipermalukan demikian, Aishe pergi untuk mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Memaksa seluruh rasa sakit dalam hatinya keluar, juga memaksa pikirannya untuk meyakini bahwa itu hanya kesalah pahaman belaka.


Diego sendiri cukup frustasi jika mengingat perkataan kasarnya pada Aishe tadi. Dia bahkan tahu dengan jelas, ketika pertama kali menyentuhnya, dia masih gadis.


Aku hanya ingin kita menjadi dekat, tapi apa sudah aku katakan padanya?


Diego mengacak-acak rambut, menyesalkan perkataan yang dianggapnya ceroboh. Setelah hatinya puas mencibir diri sendiri, ia meraih ponsel menghubungi Ashan.


"Katakan, bagaimana cara mendapatkan maaf!" ucapnya tanpa basa-basi, yang pada akhirnya membuat Ashan kebingungan.


"Hah? Anda ingin meminta maaf kepada siapa, Tuan?"


"Seorang gadis. Maksudnya wanita!" Diego memijat kening yang tiba-tiba mendapat serangan dadakan karena memiliki tangan kanan kurang peka.

__ADS_1


Ashan sendiri tak kalah pening dari Diego. Hari ini dia berusaha bangun pagi dan menyelesaikan banyak laporan, karena kantor pusat tutup akibat hujan badai semalam. Namun, setengah hari bosnya sudah membebankan dia dengan kisah asmara.


"Anda bisa mengatakan …."


"Konyol! Bagaimana bisa aku mengatakan itu? Aku bahkan tidak – beri aku solusi lain!" Diego mendengus.


"Kalau begitu, Anda bisa berlutut di papan bergelombang dan meminta maaf, aah … tapi kaki Anda?"


Diego tak menjawab, dan memilih untuk mematikan panggilan. "Punya anak buah semuanya bodoh! Minta maaf saja tidak tahu!"


Diego membuang ponselnya di ranjang, kemudian menyingkap selimut dan pergi ke kamar mandi. Dia pun melakukan hal yang sama seperti Aishe, membilas diri dengan air hangat, berharap kalau otaknya bisa mendapatkan solusi untuk meminta maaf.


"Ishe …." panggilnya lirih penuh kelembutan.


Aishe menoleh, dengan senyum lebarnya menjawab panggilan Diego. "Ya, Tuan? Anda membutuhkan sesuatu?"


Mendengar jawaban dan respon Aishe, hati Diego tiba-tiba merasa sedikit sesak tidak nyaman. Padahal, dulu mereka selalu berkomunikasi seperti ini. Namun entah kenapa, hari ini tiba-tiba pendengarannya sakit ketika Aishe berbicara formal padanya.

__ADS_1


"Soal tadi aku …."


Dua pasang mata mereka saling bertemu untuk beberapa saat. Hanya sepersekian detik, sampai akhirnya Aishe membuang muka lebih dulu.


"Saya mudah lupa, Tuan," ucap Aishe sedikit ketus dengan dua sudut bibir yang dipaksa untuk terangkat. "Sarapannya sebentar lagi selesai, tunggu sebentar lagi."


Aishe berbalik ingin melanjutkan masak, tetapi Diego menarik tangannya hingga membuat Aishe sedikit membungkuk. "Sorry, I Love You!" seru Diego sedikit lantang.


Tangan kirinya menarik tengkuk leher Aishe, membuat tubuh gadis itu semakin condong di hadapannya. Lalu, dia mengecup bibir manis berwarna pink alami tanpa permisi. Kecupan pagi tanpa gairah, namun syarat akan makna cinta.


"Sorry, I Love You!" ucap Diego lirih.



Pagiku cerah. Sangat cerah sekali 🤣


Yang baper, yang senyum-senyum sendiri, dikontrol yaa. Bab ini penuh keuwuan, harap segera memeluk guling atau cari pasangan untuk pelampiasan.

__ADS_1


SUDAH SENIN, VOTE jangan sampai lupa 💋💋


__ADS_2