
Badai salju kembali menyerang Istanbul dan sekitarnya sejak semalam penuh. Beberapa ruas jalan tutup, bahkan gundukan salju tebal masih menyelimuti aspal. Beberapa petugas pembersih jalanan, sudah mulai bekerja sejak pagi hari dengan mantel tebal.
Pagi hari ini, pengawas cuaca memperkirakan suhu udaranya adalah minus delapan. Pemerintah pun melarang aktivitas di luar ruangan termasuk bekerja. Beberapa kantor menyiarkan pengumuman, termasuk BIN bank.
Diego sudah memberi perintah pada Ashan untuk mengumumkan Work From Home selama 3 hari ini, berlaku bagi mereka yang belum menyerahkan laporan kerja.
Dan, Aishe yang sudah terlelap sejak sore hari, jelas tidak mengetahui kabar ini. Bahkan, dia juga tidak mengetahui kantornya yang kembali libur.
Dia sudah bangun, tetapi matanya masih malas untuk terbuka. Sambil menutup mata, ia meregangkan tangan dan tubuhnya. Hingga, tangan yang meregang itu tidak sengaja menyentuh pipi Diego.
Ia pun sontak membuka matanya karena terkejut. Siapa yang sangka, mata itu justru mendapati seorang pria sedang tertidur di sampingnya dengan pulas. Aishe pun melihat sekitar, menyadari jika semalam ia tidur di sofa.
Siapa yang memindahkan ku?
Pikirannya mencoba mengingat, tetapi berhenti di tengah jalan. Sepertinya dia benar-benar lupa, jika Diego lah yang membopong tubuhnya dengan gagah.
Mungkin Ashan yang memindahkan ku. Aishe memijat keningnya perlahan, mungkin kepalanya sedikit berat karena memikirkan siapa yang menggendongnya ke kamar.
"Masih pagi sudah mikir apa?"
Suara berat sedikit serak, terdengar merdu di telinga Aishe. Diego perlahan membuka matanya, kemudian menggerakkan tangan kanannya, yang sejak semalam menjadi alas tidur Aishe. Gerakan tangan yang tiba-tiba, membuat tubuh Aishe terdorong sedikit ke depan, dan berada dalam dekapan Diego.
"Tidak ada, hanya … merasa sangat dingin." Aishe mengeratkan tangannya memeluk Diego.
"Dingin?" tanya Diego yang langsung mendapat jawaban anggukan dari Aishe. "Kalau begitu aku akan menghangatkanmu!" Diego mempererat dekapannya sambil mengecup kening, pipi, hingga bibir Aishe.
__ADS_1
"Hentikan, Die. Ini masih pagi."
Diego menulikan telinganya, dan terus mengecup Aishe. Kecupan yang semakin lama semakin menghangat, terutama ketika kecupan itu berpindah menyusuri leher jenjangnya.
"Die … ahhh! Sudah cukup, ini masih pagi!" Aishe menggeliat geli, tatkala bulu2 tipis yang tumbuh di dagu Diego menyentuh kulit lehernya.
"Hentikan, Die. Aku mau pergi bekerja!"
Diego menghentikan kecupannya, ia menatap Aishe dengan lembut dan menggoda sambil berkata, "Tidak perlu bekerja, kamu libur hari ini!"
"Mana bisa begitu?" seru Aishe.
"Bisa! Aku presiden direkturnya, jadi aku memerintahkanmu untuk di rumah dan menemaniku!"
Speechless. Aishe langsung terdiam begitu Diego memperjelas jabatannya dan memberinya perintah untuk tetap di rumah. Aishe sendiri tidak tahu, jika BIN sudah memberitahukan seluruh karyawannya untuk Work From Home selama 3 hari.
"Kalau begitu aku akan menyiapkan sarapan!" Aishe berusaha mendorong tubuh Diego dan bangun. Akan tetapi, dekapan pria itu cukup erat, sangat erat bahkan Aishe tidak bisa menggerakkan tangannya.
Koki? "Sejak kapan?" Aishe sedikit heran. Sudah lama sejak dia menyiapkan sarapan dan makan malam untuk Diego. Namun ketika pria itu memanggil koki untuk memasak, dia merasa sedikit kehilangan.
"Sejak hari ini. Kamu bukan lagi asistenku, kamu kekasihku! Jadi, tidak perlu memasak." Diego menatap wajah Aishe yang justru menunjukkan keenganannya.
"Kenapa? Kau tidak suka?"
Aishe menenggelamkan kepalanya dalam dekapan Diego sembari menggeleng. "Tidak, aku hanya merasa kehilangan pekerjaanku saja."
"Aku tidak ingin membebanimu. Setiap pagi harus bekerja, pulangnya langsung memasak. Belum lagi, kau kadang harus bekerja lembur di malam hari," jelas Diego mengusap kepala Aishe dengan lembut.
__ADS_1
Bekerja lembur?
Aishe menerka, kata 'lembur' seperti apa yang di bicarakan Diego, karena dia tahu jelas, BIN tidak membebani pekerjaan di luar jam kantor. Jadi hanya ada 'lembur' seperti menyenangkan tuannya yang tersisa.
Aishe dengan gemas mencubit perut Diego hingga ia mengaduh untuk sesaat. "Bekerja lembur? Kamu yang menyebabkan aku lembur!" ucap Aishe masih gemas dengan jawaban Diego.
"Aww, Ishe, hentikan!" pekik Diego.
Aishe melepaskan cubitannya dan mendengus. "Iya, iya, aku yang menyebabkan kamu bekerja lembur." Diego tersenyum manis tanpa ada rasa bersalah. "Karena itu, aku memberimu kompensasi. Aku tidak mau melihatmu lelah."
Dia mendongak, menatap wajah Diego yang terlihat serius. "Terima kasih, Die." Aishe kembali meletakkan kepalanya dalam dekapan Diego dengan manja.
"Oke, sekarang lepaskan aku. Biar ku lihat, koki-mu itu sedang memasak apa!" kata Aishe tiba-tiba mendorong tubuh Diego.
"Tidak perlu. Bersiaplah, aku ingin membawamu ke suatu tempat!" Diego kembali mendaratkan bibirnya di kening Aishe.
"Kemana?"
"Melihat rumah baru!"
...Degh!...
Kenapa? Kau ingin memindahkanku setelah aku tahu rumah ini dibangun untuk mantan kekasihmu?
*Othor nih normal, tp kagak tau kenapa, suka aja liat cewek cakep 🤣
__ADS_1
Dah ah, mau ingetin yang belom Vote.
Sajennya masih seperti biasa yee gaes 💋💋*