
Di dalam walk in closet, Diego melepas jas dan kemejanya, lalu membuangnya begitu saja. Punggung bidangnya terlihat cukup kuat nan kekar satu bekas luka melintang yang dijahit asal terlihat sangat jelas karena panjangnya. Setelah melepas kemeja, dia mengambil kaos dari lemari dan memakainya.
"Kau pandai berbohong sekarang," Diego mengejek Ashan yang baru saja menjawab panggilan telepon dari Aishe.
"Tidak, Tuan. Saya baru saja menyelamatkan Anda."
Mata yang semula fokus memandangi kaca, tiba-tiba berpindah arah menatap Ashan. Seperti seekor harimau yang baru saja di bangunkan dari tidurnya secara sengaja.
Tepat pada momen krusial seperti itu, Eraz justru memberi Diego sebuah senjata laras pendek beserta pelurunya. Seulas senyum licik tiba-tiba tergambar jelas di wajahnya. Sambil menatap Ashan, Diego memasukkan pelurunya satu per satu ke dalam senjata. Membuat Ashan menelan salivanya kasar.
"Sebenarnya Anda tidak perlu sampai turun tangan, Tuan." Eraz mencoba meyakinkan Diego agar berubah pikiran.
"Tidak! Hal yang berhubungan dengan pria itu, aku akan turun tangan sendiri." Diego menyelipkan senjata itu ke dalam celananya.
"Batasnya dua jam, jadi kita harus cepat. Jika ada musuh kuat, tidak perlu dihadapi dengan serius, yang kita butuhkan hanya dokumen-dokumen itu!" Diego menjelaskan.
"Mengerti, Tuan!" Jawab beberapa orang-orang kepercayaannya kompak.
Rehan dan Ashan mendorong rak penyimpanan baju, yang kemudian membuat kedua rak itu terbuka. Terlihat sebuah ruangan penyimpanan yang penuh dengan senjata berbagai macam merek seperti Colt 1911, Colt Single, Smith & Wesson 44 Magnum, M-16, hingga M2HB 50-Caliber Machine Gun.
Tiga orang itu mengambil beberapa senjata, memasukkannya kedalam celana belakang mereka, dan sebagian lagi di tenteng secara terang-terangan. Setelah semuanya siap, mereka beralih menaiki tangga menuju atas, yang ternyata sebuah garasi.
Diego membuka pintu salah satu mobil andalannya, Range Rover Sentinel. Mobil dengan 5000 cc yang mampu berakselerasi 0-100 KM/jam dalam 10,4 detik. Selain itu mobil ini masuk kedalam kategori mobil lapis baja atau armored car.
__ADS_1
Lima mobil beriringan keluar dari garasi sebuah rumah megah di daerah Samlar, Turki. Kelimanya melaju dengan kecepatan penuh, memecah keheningan jalanan yang .memang sudah sepi. Satu jam berkendara, mobil mereka sampai di kota Arnavutköy.
Beberapa orang yang berjaga di sekitar, datang menghampiri mobil Diego untuk memberi laporan.
"Sudah dua puluh menit dia masuk, Tuan," ucap seorang pria berbicara pada Diego yang masih duduk di dalam mobil.
"Bagus, amankan area!"
Semua anak buahnya telah siap berada di posisi masing-masing, termasuk lima orang yang berjalan mengendap-endap mengamankan beberapa penjaga di luar. Kemampuan lima orang itu rupanya cukup tangkas, hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit sejak mereka turun, ke sepuluh orang yang berjaga di luar langsung terkapar dengan sabetan di leher.
Malam terasa begitu sunyi dan mencengkam. Bulan yang bersinar seakan bungkam melihat beberapa orang terkapar tanpa mampu berteriak.
Anak buah Diego berhasil mengambil alih situasi di luar. Kini, sudah waktunya Diego dan yang lainnya turun. Eraz, salah satu tangan kanan andalan Diego dalam pertarungan jarak dekat, sudah siap dengan dua pistolnya. Dia menerobos masuk lebih dulu, dan membuka jalan untuk yang lain.
DOR DOR DOR
Diego dengan santainya berjalan melewati mayat-mayat dari musuhnya. Tidak peduli, tidak bersalah dan percaya diri.
Eraz berjalan di belakang melindungi Diego, sedangkan Ashan berjalan di depannya membuka jalan. Menyingkirkan beberapa orang yang berusaha mengganggu tuannya, menyingkirkan mayat di bawah kakinya agar tuannya tidak tersandung.
Tatapan Diego tajam bagai pedang, meski dia melihat lurus kedepan, manik mata berwarna amber itu mampu melihat satu orang yang hampir menusuknya dengan sebilah belati. Dengan gerakan cepat dia menghindar, lalu menepis tangan musuhnya hingga pisau itu terlepas. Begitu sudah lepas, Diego menangkap dengan tangan kirinya, lalu menancapkan belati tajam itu di lengan.
Belum puas melihat musuhnya berteriak, dia menarik belati lagi dan menancapkan ke dada, menariknya lagi dan menancapkan di lehernya. Hingga akhirnya pria itu jatuh terkapar tak berdaya.
__ADS_1
PROK PROK PROK
Suara tepuk tangan menggema di antara suara jeritan dan tembakan. Seorang pria paruh baya berdiri di lantai kedua, menatap Diego yang sedang berdiri di bawah.
"Kau datang, Nak?"
Diego melepaskan topi yang sejak tadi berada di kepalanya. "Sudah lama sekali, Frans. Kau tidak memakai topeng keduamu dan menjilati kaki ayahku lagi?" ucap Diego dengan wajah meremehkan.
Pria paruh baya itu terlihat kesal, dia menarik pistol dari anak buah yang berdiri di sampingnya lalu mengarahkan pistol itu ke Diego. Namun belum sempat dia menarik pelatuknya, Diego lebih dulu menembak lengannya dan membuat pistolnya terjatuh di lantai.
"Lambat!" Ekspresi Diego berubah datar.
Setelah berhasil menjatuhkan pria bernama Frans, dia berjalan naik ke atas untuk berdiskusi.
"Anak buah paman semakin lama semakin lemah. Membuat permainan diantara kita tidak seru, benarkan, Pak Tua?" Diego memainkan belati yang baru dia ambil dari sepatu tebalnya.
Namun meski Diego sudah memainkan belati, tidak membuat Frans takut sedikit pun. Dia justru tertawa terbahak-bahak seolah sedang meremehkan Diego.
"Kau benar satu hal, Nak. Tapi kau juga salah dengan hal yang lain. Aku memang sudah tua, tapi anak buahnya yang lain masih muda."
JLEB! ARGH!
Diego dengan wajah datar menancapkan belati itu di pahanya. "Kau berisik!" ucapnya sedikit kesal.
Frans sekali lagi tertawa, dengan suara melengking dan menggema. "Apa kau ingin tahu satu hal? Rasa wanita itu sungguh nikmat, setiap inci tubuhnya sungguh menggoda. Aku dengar, kau punya kekasih lagi? Wanita itu juga sangat cantik, rasanya pasti …."
Diego meremas rahang Frans hingga mulutnya terbuka, lalu memasukkan ujung pistol ke dalam mulut dan …. 'Dor' suaranya menggema dan terdengar begitu merdu di telinga Diego.
__ADS_1
"Jika mulut tidak bisa berbicara hal baik, akan lebih bagus kalau tetap diam!"