
Mendengar sang tuan ingin membangun yayasan amal atas nama sang ibu, dua mata Guzel seketika banjir oleh air mata. Rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu, membuat tangisnya seketika pecah. Dia bangkit berdiri, mengucapkan rasa terima kasihnya dengan sungguh-sungguh.
"Duduklah, Guzel," pinta Diego menatapnya sekilas, lalu menatap Ashan hendak mengisyaratkan sesuatu.
Pria itu lantas bangkit, mengambil kotak tisu dan menyerahkannya pada Guzel. "Hapus air matamu, tidak baik terus menangis," ucap Ashan dengan lembut.
"Kamu ingin tinggal di sana Guzel?" Diego memastikan.
"Apa boleh, Tuan? Biarkan saya yang merawat rumah itu," pinta Guzel memohon.
Diego melihat Aishe yang mengedikkan bahu, lalu menatap dua orang pria yang duduk tak ada komentar. Hela napasnya terdengar sesaat, sebelum akhirnya ia menatap Guzel.
"Aku masih belum memastikan keamanan tempat itu. Gedung di belakang juga belum dibersihkan dengan baik." Diego kembali menatap sang istri.
"Sepertinya, kita perlu menyuruh seseorang untuk menemani Guzel. Bagaimana menurutmu, Die?" ucap Aishe yang kemudian meneguk jus strawberry miliknya lagi.
"Ide bagus, setidaknya ada yang melindunginya." Diego menyandarkan punggungnya di sofa, lalu memandang Ashan yang pada saat itu duduk di hadapannya.
Ashan sendiri sangat ingin mengajukan diri, tapi tatapan Aishe sangat menyeramkan saat meliriknya sekilas. Percayalah, sebenarnya kekuatan di belakang Aishe yang membuat sorot mata indah itu terlihat menyeramkan.
Aishe mengambil ponsel Diego yang tergeletak begitu saja di atas meja. "Kalau begitu aku akan menghubungi Rehan. Dia juga kakak angkatku, pasti bisa menjaga Guzel!"
Sambil berpura-pura memencet layar, Aishe melirik wajah Ashan dan Guzel yang terlihat gugup. Pada saat Aishe meletakkan ponsel di telinganya, Ashan seperti hendak berdiri, tapi tertahan oleh ucapan Aishe.
"Aah, sayang sekali ponselnya mati!" Aishe kembali menatap wajah keduanya yang sama-sama menghela napas lega.
Namun kejahilan Aishe tidak berakhir sampai di situ. Dengan santai ia melipat tangan, lalu menatap Eraz yang sedang menyeruput secangkir kopi.
"Bagaimana denganmu, Eraz?
BYUR! Eraz yang sedang menikmati kopi langsung menatap Aishe dan Ashan secara bergantian. Ashan mencoba mengkode Eraz dengan gerakan matanya, agar dia menolak permintaan Aishe.
__ADS_1
"Uhuk! Nyonya, saya lebih tertarik tinggal bersama kakak angkat Anda dari pada … dia!" ucap Eraz lalu menunjuk Guzel.
Hela napas Aishe terdengar berat. Dia sempat melihat Diego yang mengedikkan bahu, lalu melihat Ashan dan Guzel secara bergantian.
"Kalau begitu biarkan ayah saja. Ayah juga mengenal Guzel dengan baik!"
Keputusan Aishe langsung membuat Ashan bangkit berdiri. "Itu, Nyonya …." ucapnya sedikit lantang, membuat semua orang yang disana menatapnya heran.
"Bi-biarkan aku yang menjaganya."
Aishe mengangkat satu sudut bibirnya, sambil bersedekap tangan, dia bangkit dari duduknya. "Bukankah kau sibuk Ashan? Diego besok akan mulai bekerja."
Pada saat itu, Ashan benar-benar tidak bisa mengelak lagi. Raut wajahnya pasrah saat menatap Diego, dengan harapan bisa mendapat bantuannya. Melihat wajah memelas Ashan, Diego sedikit tidak tega dan mengakhiri kejahilan sang istri.
"Tidak sayang," ucap Diego pada Aishe. "Ashan libur dua hari ini. Dia sudah bekerja keras saat aku berada di rumah sakit."
Aishe menoleh, menatap sang suami yang sedang membela Tangan Kanannya. "Oh, benarkah? Lalu bagaimana denganmu besok?"
Diego menunjuk Eraz lalu berkata, "Dia masih bernapas. Rehan juga menganggur. Aku bisa mengatasinya bersama mereka, Sayang," ucap Diego berusaha membujuk sang istri.
"Baiklah, kau jaga dia baik-baik, Ashan!"
"Baik, Nyonya. Kalau begitu kami pergi dulu." Ashan bangkit berdiri, bersiap untuk pergi. Namun Aishe lagi-lagi mencegahnya.
"Kenapa buru-buru?" tanyanya sedikit penasaran.
"Tuan menyuruh saya datang ke Mansion Gulbar untuk bertemu Bahadir, Nyonya. Apa Anda memiliki perintah lain?" Ashan bertanya dengan sopan.
Aishe sedikit memanyunkan bibirnya, melihat Diego sedang menyeruput Cay dengan tenang. Huh, kebetulan yang sangat pas!
"Baik pergilah!"
__ADS_1
Ashan dan Guzel berjalan pergi meninggalkan mereka. Namun belum sampai di depan pintu, Aishe berteriak memanggil Ashan, membuat pria itu menoleh dan bertanya.
"Ada lagi nyonya?"
"Nikahi dulu dia! Jangan bertindak melebihi batas!"
Ekspresi wajah semua orang berubah dalam hitungan detik. Guzel yang sedikit malu bahkan langsung menutupi wajahnya dan pergi secepat mungkin. Sedangkan Diego dan Eraz berusaha menahan tawanya.
"Saya akan membawanya langsung ke catatan sipil, Nyonya. Jika waktunya masih sempat."
...☆TBC☆...
Calon Calon bucin selanjutnya 🤣
Hari ini cukup sekian dulu, Othor mau nengok mantan duda di sebelah. 🤭🤭
Votenya mana, sajennya mana 🥲🥲
Beberapa hari ini sepi, jadi agak kurang semangat 😔
Judul : Adam Dan Hawa
Author : Lavinka
Hawa adalah seorang karyawan biasa di sebuah redaksi majalah, sebagai pekerja lepas. Kecintaan dia terhadap artist bernama Adam Alditri, membuat ia sering meluangkan waktu untuk stalking sang idola.
Adam Alditri sendiri adalah artis yang sedang naik daun dan namanya sering dielu-elukan oleh penggemar.
__ADS_1
Namun, ada kejadian unik yang membuat seorang Adam tidak bisa lupa dengan salah satu fansnya. Pakaian serba hitam dan penutup wajah serta topi orang tersebut, membuat ia menjadi penasarannya penasaran.
Siapakah orang misterius tersebut?