Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 109


__ADS_3

Ruangan dengan cahaya lampu sudut yang temaram. Televisi besar yang menyala sedang memutar sebuah lagu. Sedangkan Aishe duduk bersedekap dengan selimut tipis di kakinya.


Diego cukup bersyukur, setidaknya tidak ada hal buruk yang menimpa kekasihnya itu. Rumah pun rapi tidak ada adegan berantakan seperti habis kemasukan penyusup. Lantas, apa yang membuat kekasihnya itu menangis sesenggukan?


Diego mendekat dan langsung memeluk sang kekasih. "Tenanglah, tenang," ucapnya mengusap usap kepala Aishe dengan lembut.


Wanita itu masih terus menangis sesenggukan, seperti anak kecil yang baru saja di marahi kedua orang tuanya. "Ada apa? Siapa yang membuatmu menangis?"


Diego melepaskan dekapannya, kemudian mengusap sisa air mata yang ada di kedua pipi sang kekasih. Mata merah gadis itu, sungguh membuat dirinya penasaran.


Aishe pelan-pelan mengangkat tangan, kemudian menunjuk televisi besar yang sedang menyala. "Die … film nya sangat menyedihkan," ucapnya dengan wajah sendu yang bahkan bisa membuat orang salah paham.



Speechless. Diego tidak mampu berkata apa pun. Rupanya, hal yang sudah membuatnya menangis hanyalah sebuah film konyol. Mendengar alasan itu, Diego hanya terdiam sesaat, lalu meraih remot dan mematikan televisi.


"Itu hanya drama, sudah jangan menangis!" ucapnya memandang mata Aishe yang masih memerah. Wanita itu mengangguk perlahan, lalu kembali memeluk Diego.


"Die …." Panggilnya lembut terdengar lirih. "Kenapa kamu bisa jatuh cinta padaku?"


Pertanyaan Aishe yang tiba-tiba, membuat Diego mengeratkan pelukannya. "Entahlah," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Mungkin, karena aku terbiasa denganmu. Menyukai semua hal tentangmu, caramu berbicara, caramu berpikir, caramu menyelesaikan masalah." Diego terdiam sesaat untuk menelan kasar salivanya.


"Begitukah?" Aishe menengadah, hingga keningnya menyentuh bulu-bulu kasar di dagu sang kekasih. "Jadi kamu akan jatuh cinta lagi jika aku mati?"


Diego mendorong tubuh Aishe sedikit menjauh, agar ia bisa memandang mata kekasih yang sudah berani bertanya sembarangan itu. Kedua tangan besarnya sedikit meremas lengan Aishe.


"Bisakah kau berbicara hal yang baik?" kata-kata yang keluar terdengar begitu lantang. Diego sepertinya cukup marah setelah mendengar pertanyaan dari Aishe. Namun, gadis yang ada di hadapannya itu justru terlihat tenang setelah menyalakan api.


"Kau jatuh cinta padaku setelah kehilangan Lyra. Jika aku juga pergi, kau mungkin akan jatuh cinta lagi dengan cara yang sama."


Diego menunduk, urat-urat di leher dan kening terlihat menegang. Bahkan, dengus napasnya juga terdengar berat. Dia kembali menegakkan kepalanya setelah menghela napas panjang.


"Kamu tahu, jatuh cinta tidak mungkin sesederhana kelihatannya. Ada pergolakan hati, ada banyak pertimbangan, hanya untuk memastikan jika aku mencintaimu." Tangan kanannya perlahan menyentuh pipi Aishe, lalu menggusapnya perlahan.


"Jika aku bisa jatuh cinta lagi, seharusnya bisa lebih dulu sebelum aku mengenalmu. Kenapa aku harus setuju dengan segala taruhan konyol itu?"


"Lyra memang cinta pertamaku, tapi aku bersumpah, kamu yang terakhir!" Diego mengengam kedua tangan Aishe lalu mengecupnya.


Aishe tertunduk, sepertinya penjelasan Diego dirasa cukup masuk akal menurutnya. Cinta, kadang memang menjadi sebuah mistri tanpa ujung.


"Jadi … bisakah kau beritahu, film apa yang tiba-tiba membuatmu berpikir seperti itu?" tanya Diego.

__ADS_1


"Hanya sepenggal cerita, tentang seorang ketua mafia yang baru pertama jatuh cinta. Tapi, dia harus kehilangan istrinya karena penyakit Alzheimer." Aishe mengangkat kepalanya, menatap wajah Diego yang hanya memasang wajah datar. "Itu menyedihkan bukan?"


Hanya seperti itu? Kau menangis sesenggukan dan mengagetkanku setengah mati hanya karena drama konyol seperti itu?


Diego menghela napas kasar, menatap wajah Aishe yang masih duduk tenang seakan tak bersalah. Akan ku bakar televisi ini besok! Dasar berengsek!


Setelah puas mengumpat sebuah televisi. Diego dengan tubuh kekar nan atletis, mengangkat tubuh Aishe.


"Kamu mau membawaku ke mana, Die?"


Pertanyaan Aishe tidak mendapatkan jawaban apapun. Nampaknya, Diego benar-benar marah karena pertanyaan konyolnya.


"Die, turunkan aku! Kamu mau membawaku kemana?" tanyanya sekali lagi.


"Mau menghukummu, kau sudah membuatku takut setengah mati!" Diego terus berjalan sambil membopong tubuh Aishe, pergi ke kamar.



Pagi pagi, mari di awali dengan yang manis-manis.


Secangkir kopi misalnya 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2