Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 39


__ADS_3

Aishe –


Jangan sampai jatuh cinta. Jangan sampai jatuh cinta. Jangan sampai jatuh cinta.


Beberapa bari meyakinkan diri agar tidak jatuh cinta padanya. Namun hari ini semua sirna dalam sekejap mata. Gelora api seakan membakar hati dan pertahanan jiwaku. Entah itu karena cemburu atau hanya amarah sesaat. Aku pun tidak memahami perasaanku sendiri.


Aahh … ingin sekali menampar wajahku sendiri.



Derap langkah Aishe terdengar sejak dia berjalan masuk dari ambang pintu. Wajahnya masam, meski perutnya sudah di isi beberapa hidangan mewah dari restoran bintang lima.


Ashan dengan santainya bertanya, "Ada apa dengan wajahmu?"


"Tidak ada!" jawab Aishe ketus tanpa melihat Ashan yang sekarang menjadi atasannya.


Sebenarnya, tidak ada gunanya juga marah dengannya. Sebaiknya lebih baik cepat selesaikan dan pergi dari sini, selebihnya biarkan aku berpikir di rumah.


Merasa di mendapat jawaban ketus, Ashan bukannya marah dan memberi gadis itu peringatan. Dia justru melenggang pergi begitu saja dan berpikir positif. "Mungkin moodnya buruk."


Mata Aishe kembali fokus menghadap komputernya, mengerjakan beberapa tugas dari Ashan dan pada saat istirahat mulai merancang ulang misi hidupnya. Hingga, dia teringat tentang kontrak milik Halley yang ditandatangani Farhan.


Aishe mendatangi Ashan dan bertanya tentang kontrak. Namun Ashan sudah lama menyerahkan kontrak itu pada Diego.


Jadi, aku harus mencarinya lagi? Ah lupakan! Lebih baik pergi ke bagian kreditur dan menanyai mereka.


Alih-alih bertanya pada Diego yang kebetulan satu lantai dengannya, Aishe justru memilih turun ke lantai 5 hanya untuk bertanya kontrak pada kreditur.


"Halley Elektronik?" Mata seorang pria menyipit bersamaan dengan dahi yang berkerut.

__ADS_1


"Iya Halley. Tuan Diego sendiri yang bertanggung jawab." Aishe mendadak merasa ada yang aneh. Biasanya kontrak pinjaman bisa dengan mudah di temukan di bagian kreditur. Namun kenapa justru mereka kebingungan?


"Kami tidak menyimpan kontraknya. Kamu coba tanya saja pada Tuan Diego, atau pada Pak Ashan."


Pada akhirnya, juga tetap harus berhadapan dengannya kan? Aaahhh sial sekali hidupku!


Kesal, Aishe akhirnya memutuskan pergi ke cafetaria untuk menikmati secangkir coffee. Berharap dia bisa berpikir lebih jernih tanpa banyak praduga-praduga tak berdasar.


Double shot Americano, dicampur dengan creamynya caramel sauce, susu segar, dan juga ice. Menjadi minuman penghilang dahaga yang cukup sempurna bagi Aishe. Ia duduk santai di sudut ruangan, menikmati suasana kota siang itu yang nampak mendung.


Coba saja lagi senggang. Pasti akan sempurna kalau menikmati coffee ice ini di taman, sambil menghirup angin yang bercampur bau dahan dan daun kering.


Gadis itu meneguk Ice-nya perlahan, dengan pandangan ke depan melihat gedung-gedung tinggi dari balik jendela kaca. Hampir 30 menit dia duduk disana, bersama beberapa karyawan yang sedang menikmati makan siang. Selama itu pula, tidak ada pandangan sinis dan meremehkan seperti dulu. Tidak ada bisik berbisik lalu saling melirik, tidak ada, semua seperti sibuk dengan urusan masing-masing.


Menerima kenyataan seperti itu, tentu saja Aishe sedikit senang, meski dia belum mendapatkan teman untuk berbicara. Namun untuk kehidupan tenang seperti ini, dia sudah cukup bersyukur.


Saat sedang asik menikmati ketenangan itu, tiba-tiba seseorang datang menghampirinya dan meletakkan segelas teh panas di hadapan Aishe. Dengan suara lembut nan ramah khas seorang gadis, dia menyapa. "Hai!"


"Kau sekretaris Ashan rupanya. Kita belum berkenalan," lanjut Malva.


"Oh hallo. Saya A – maksudnya Ishe," Aishe berusaha bersikap profesional sambil mengulurkan tangannya.


"Malva!" jawab gadis itu menjabat tangan Aishe dengan senyum cantiknya.


Malva mulai menanyai segala hal tentang Aishe. Seperti bagaimana seorang sekretaris orang lain bisa duduk dan makan bersama dengan Diego, atau hal yang berkaitan dengan hubungan keduanya. Namun Aishe dengan tegas menegaskan bahwa mereka murni hubungan kerja sama.


Benar kan? Hubungan kami memang kerja sama. Aku untung dan dia untung. Tidak lebih!


Namun Malva seperti tidak percaya. Gadis itu terus menanyai Aishe, mendesaknya agar berbicara jujur tentang hubungan mereka. Di tengah pembicaraan yang serius, tiba-tiba Ashan datang dan memanggil Aishe untuk kembali bekerja.

__ADS_1


"Sudah waktunya kerja! Kamu mau mengululurnya sampai mendekati waktu pulang!" ucap Ashan tegas.


"Sa-saya kembali, Pak!" Aishe membuang gelas minumnya kemudian berjalan meninggalkan mereka tanpa pamit.


Raut wajah Malva terlihat kesal, dia bersedekap tangan kemudian bangkit berdiri. Mulutnya sudah terbuk, bersiap memarahi Ashan. Namun, Ashan lebih dulu berbalik badan dan menatapnya.


"Jangan menganggap dirimu tinggi, Nona. Anda hanya adiknya, tidak mungkin bisa meraih hati Tuan Diego," ucap Asha kemudian pergi dari sana.


Perkataan Ashan menambah rona merah menyala di wajah Malva. Puncak amarah gadis itu sudah pasti berada di titik tertinggi sekarang. Dia bahkan terlihat mengeratkan dua baris giginya sembari mengepal tangan kuat-kuat.


Setelah mendapat teguran Ashan, Aishe bukannya kembali ke kursinya dan bekerja. Dia justru pergi ke ruangan Diego untuk bertanya tentang sesuatu.


"Tuan …." panggilannya membuat Diego yang serius bekerja menoleh dan menghentikan aktivitasnya.


Belum sempat Aishe menjelaskan maksud kedatangannya. Diego langsung menyodorkan sebuah berkas padanya.


"Ini! Berkas yang kamu cari," ucapnya singkat yang langsung membuat kaki Aishe melangkah mengambil berkas tersebut.


Manik mata kecoklatan gadis itu mulai bergerak, membaca beberapa hal yang tertulis di sana. Dan tiba-tiba saja … dia menutup berkas itu lalu memandang Diego.


"Apa maksudnya ini, Tuan?"


"Kenapa? Masih belum bisa melegakan hatimu untuk balas dendam?" Diego menggerakkan kursi rodanya mendekati Aishe.


"Ti-tidak, bukan begitu. Ini di luar rencana, Tuan. Aku hanya ingin dia masuk ke dalam penjara."


"Ishe …." Diego dengan lembut meraih tangan Aishe. "Balas dendam jangan setengah-setengah, masuk penjara saja tidak akan cukup untuk dia."


"Apa kau tidak tahu, Ishe. Uang yang dia gunakan untuk membeli saham Halley, itu uang asuransi milikmu!"

__ADS_1


Degh!


__ADS_2