
Berada di penghujung bulan April. Saat itu bunga-bunga masih bermekaran, dedaunan juga masih segar, meski musim semi sudah hampir berakhir. Benar, ini sudah hampir satu bulan berlalu sejak Rehan mengakui Aishe sebagai adik angkatnya.
Meski sudah mengakui, tetapi pria itu masih memasang wajah datar dan kaku ketika berhadapan dengan Aishe. Sepertinya, Rehan memiliki gengsi yang tinggi, lebih dari Diego, dan Aishe terlihat memahami sifat kakaknya itu.
Matahari sudah kembali peradabannya, bintang-bintang sudah terlihat di kegelapan malam, beserta bulan sabit yang juga turut jadi penghias. Angin sepoi-sepoi berhembus, meniup daun dari anggur yang bulan lalu di tanam oleh Aishe.
Suhu di luar saat ini mencapai 20 derajat, tidak terlalu dingin untuk mereka yang terbiasa hidup di negara 4 musim. Namun meski begitu, beberapa orang yang tidak tahan dingin tetap keluar dengan sweater atau jaket tipis. Sama seperti Aishe yang tidak tahan dingin, tapi ingin duduk di luar merasakan angin malam yang semilir sepoi-sepoi.
Bangku taman itu pinggirannya terbuat dari besi kuat, sedangkan alas duduknya memakai kayu tebal yang kokoh. Dia duduk di sana, di samping pohon anggur yang dia tanam bulan lalu. Mata indah itu fokus memandangi air mancur yang ada di depannya, juga kolam dengan bunga teratai yang mekar dengan cantik.
Aishe tiba-tiba mengambil napas panjang, lalu menyandarkan kepala belakangnya di bangku taman sambil menutup mata. Semilir angin menerpa wajahnya, dan rambut yang digelung sedikit acak-acakan.
"Nyonya, suhu semakin turun. Mari kita masuk ke dalam!" ajak Guzel yang sejak tadi berdiri di belakang Aishe dengan seorang maid yang bernama Ruby.
"Biarkan aku disini 5 menit lagi." Dia berbicara dengan suara yang sedikit serak dan berat.
Sepertinya, Aishe cukup lelah setelah seharian mencoba beberapa gaun pernikahannya yang sudah selesai di buat oleh Berd. Juga mencicipi tester makanan bersama Mirey dan Deniz, lantaran Diego hari ini ada rapat penting dan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum cuti panjangnya.
Diego terlihat turun dari mobil, lalu berjalan ke arah sang istri yang sedang menutup matanya, menikmati semilir angin. Guzel tentu melit kedatangan tuannya, tetapi Diego sudah memberinya kode untuk tidak berisik dengan mengangkat satu tangan.
__ADS_1
Diego melepaskan jas, hendak menyelimuti sang istri yang hanya memakai sweater rajut. Namun saat dia baru melepas satu sisi, Aishe berbicara dengan suara serak.
"Kamu sudah tiba, Die?" begitu kata yang keluar dari mulutnya tanpa membuka mata dan melihat sang suami.
Diego tersenyum singkat, lalu meletakkan jas di atas tubuh Aishe, dan duduk di sampingnya. Dia bahkan meletakkan kepala yang sejak tadi mendongak ke atas, bersandar di sandaran kursi taman, ke dada bidangnya.
"Kamu tau aku yang datang? Bagaimana jika itu orang lain?"
"Aroma Lemon Sisilia, anggur, dan cemara, yang ada di parfummu itu aku yang memilihnya," ungkap Aishe sambil membuka matanya perlahan.
"Aroma yang kamu suka?"
Diego dibuat diam tak berkutik oleh jawaban Aishe. Namun memang perlu diakui, sejak hamil, hidung sang istri menjadi sensitif. Jarak jauh pun ia masih bisa mencium sisa parfum di tubuh Diego.
Pria itu mengangsurkan tangannya, mencubit hidung sang istri. "Buka matamu sebentar, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan!"
"Apa?"
Tanpa menjawab pertanyaan Aishe, Diego langsung membopong tubuh sang istri masuk ke dalam rumah, di ikuti Alv, Guzel, dan Ruby yang berjalan dielakangnya.
__ADS_1
Setelah sampai, dengan hati-hati menurunkan Aishe di atas sofa. Lalu meminta Guzel untuk membuatkan susu khusus untuk ibu hamil.
"Apa yang ingin kamu tunjukkan?" tanya Aishe penasaran.
Diego merentangkan tangannya, memberi kode pada Alv. Pria muda itu yang berdiri di samping Diego langsung sigap, mengambil map dan menyerahkannya pada tuannya. Map berwarna hitam itu terlihat sangat tebal dari luar, Aishe pikir, itu mungkin tumpukan dokumen. Namun saat Diego membuka, dia hanya mendapati beberapa lembar kertas di antara dua apitan map tebal.
"Apa ini, Die?"
"Pengalihan saham Halley Elektronik. Kamu hanya perlu tanda tangan, dan perusahaan itu sudah berada di tanganmu, Sayang." Diego yang duduk di samping Aishe langsung mengecup kening sang istri.
Dua mata Aishe membulat penuh. Mata yang semula setengah sayu lantaran mengantuk, kini terbuka lebar, rasa kantuknya pun lenyap. Bagaimana tidak, Halley merupakan perusahaan besar di bidang elektronik. Meski tidak berada di dalam 10 besar, namun harga seluruh sahamnya mencapai 10 persen dari saham BIN.
"Ba-bagaimana bisa?" Aishe menoleh, menatap wajah Diego yang justru tersenyum dengan manis sambil mengusap usap perutnya.
...☆TBC☆...
Semalem begadang sama Terong Belanda di sebelah. Mata sempet dan baru bisa up 🤣
Dah nanti malem lagi gaes, othor mau jajan seblak dulu.
__ADS_1
Like jangan lupa, Hadiah, Vote 💋💋💕