Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 64


__ADS_3

Aishe berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang. Lalu, ia mengangsurkan tangan menyentuh pipi Diego. "Terima kasih, sudah membantuku membalas dendam." Ia mengecup pipi pria berwajah datar itu dengan lembut.


Jemari-jemari hangat seakan mengantarkan energi positif. Membuat kedua sudut bibir pria itu terangkat dan menunjukkan senyum termanisnya.


"Kamu lega dengan kinerjaku, Sayang?"


"Pada akhirnya, itu membuatku sedikit lega." Aishe mengangsurkan tangannya ke belakang memeluk Diego. "Terima kasih, Die. Terima kasih sudah membawaku pergi dari sana. Terima kasih sudah menyusun skema balas dendam yang tak terlupakan untuk dia."


"Eem, aku senang kamu puas." Diego mendekap tubuh Aishe, dan mengusap ubun-ubunnya.


Aku ingin sekali memelukmu seperti ini setiap hari, tapi alasanku untuk bisa bersamamu telah selesai. Dia sudah mati, dan kamu kembali menduduki kursi presdir mulai minggu depan.


Tiba-tiba mata Aishe terasa perih. Seperti ada angin tajam yang berhembus melukai matanya. .


"Aku akan menyiapkan sarapan!" Aishe melepaskan pelukannya dan berdiri. Namun belum sempat ia melangkah, Diego memegang tangannya dengan kasar hingga membuatnya duduk kembali.


"Kamu menangis?" tanya Diego setelah melihat mata Aishe merah dan basah.


Aishe dengan cepat membuang muka, menyembunyikan wajah sendu dan mata basahnya. Diego pun semakin curiga, ia mengangkat dagu Aishe agar bisa melihat wajah gadis itu.


"Kau sedih karena dia mati?" tanya Diego lagi dan langsung membuat Aishe menggeleng kepala. "Lalu kenapa?"

__ADS_1


Kenapa? Apa aku harus bilang kalau tidak rela berpisah denganmu?


"Apa aku boleh jujur?" Aishe masih enggan menatap mata Diego, meski pria itu mengangkat dagunya agar bisa memandang wajahnya.


"Harus? Katakan apa yang membuatmu sedih!"


Manik mata Aishe bergerak menatap kedua mata Diego, dengan suara lembut dia menjelaskan, "Dendamku sudah selesai, tapi aku masih belum mempunyai tempat tinggal."


"Hanya itu?" Raut wajah penasaran Diego lenyap dan kembali ke mode datar seperti biasanya. "Tinggal saja disini sesukamu. Aku menyukai …."


Diego menahan ucapanya lalu menelan salivanya. Sedangkan Aishe terlihat cukup penasaran dengan ucapan Diego selanjutnya.


"A-aku menyukai masakanmu!"


Pada akhirnya, hubungan mereka masih di tahap saling menguntungkan. Diego memberi tempat tinggal dan pekerjaan, serta identitas sebagai Ishe. Sedangkan keuntungan bagi Diego, adalah ranjangnya yang selalu hangat.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan merepotkan Anda lagi, Tuan." Aishe berusaha tersenyum, meski perasaannya sedikit terganjal batu kecil.


Seharusnya memang begini. Hubungan di antara kita memang seharusnya seperti ini. Kita saling mengambil keuntungan, dan pergi setelah selesai. Hanya saja, siapa yang selesai lebih dulu?


Diego mengerutkan dahi hingga kedua pangkal alisnya hampir bertemu. "Kau bicara formal lagi?" bentaknya sedikit kasar.

__ADS_1


"Anda pemilik rumah, saya hanya pengungsi. Sudah sepantasnya saya sopan." Aishe kembali memalingkan wajah, menelan segala kekecewaan yang dia buat sendiri.


"Seperti itu anggapanmu tentang kita?" Diego mencoba memandang mata Aishe, ingin mencari tahu maksud dari ucapannya.


"Sejak awal, Tuan. Bukankah seperti itu yang Anda ucapkan ketika kita berada di Casme."


Diego reflek menarik pundak Aishe dan membuat gadis itu kembali memandangnya. Perkataan Aishe memang benar, tetapi siapa yang tidak berubah karena waktu?


Tujuan Diego menolongnya pada saat itu tidak lain karena sorot mata Aishe. Sorot mata yang mengingatkannya dia pada saat ia diculik dan dibuang. Sorot mata penuh dendam dan kobaran semangat. Namun siapa yang sangka, sorot mata itu pula yang membuat pertahanan Diego selama 6 tahun terakhir mengendur.


"Jadi kau bersedia tidur dengan siapapun asal mereka membantumu? Bahkan jika kau keluar dari rumah hari ini!"


Raut wajah Aishe berubah. Hatinya panas menggebu-gebu. Perkataan Diego terdengar begitu tajam langsung membelah perasaannya.


Sorot matanya begitu tajam, menatap Diego penuh amarah.


"A-aku tidak bermaksud seperti itu. Ishe, maksudku tadi …."


Belum sempat Diego menyelesaikan kalimatnya, air mata Aishe jatuh. Bersamaan dengan itu, dia berdiri dan pergi meninggalkan Diego.


"Ishe ... Aishe!"

__ADS_1



...☆TBC☆...


__ADS_2