
Dua hari ini, tidur Diego menjadi sangat nyenyak dalam pelukan Aishe. Tidak seperti biasanya, dimana dia harus sedikit terjaga dan tetap waspada untuk melindungi dirinya beserta sang istri.
Sungguh, dua hari dengan tidur yang sangat berkualitas. Aishe bahkan sempat melihat dua sudut bibir Diego terangkat saat tidur. Entah, apa yang diimpikan oleh sang suami.
Raut wajah Diego begitu tenang, bagai sungai yang mengalir tanpa riak. Mengalir indah dengan bunga-bunga di pinggir-pinggirnya. Tidak ada kerutan di dahi seperti sebelumnya, yang ada justru garis senyum di sudut bibir.
Aishe pernah sesekali menerka dalam pikirannya. Kiranya, hal apa yang membuat sang suami begitu bahagia. Apakah kabar dari Ashan, bahwa dia berhasil mengangkat tubuh Max yang setengah hancur dari jurang?
Atau, sang ibu dan ayah yang datang untuk meminta maaf dan merestui hubungan mereka? Bahkan secara pribadi mengajukan diri untuk menyiapkan segala resepsi pernikahan.
Tentang alasannya, Aishe sepertinya tidak ambil pusing. Hal yang terpenting baginya adalah ketenangan sang suami.
Sinar mentari tanpa malu-malu masuk dari celah tirai putih tipis yang menutup jendela, jatuh ke lantai dan membuat ruangan menjadi terang seketika. Tidak hanya itu, sinarnya bahkan berhasil menembus kelopak mata Diego, dan membuatnya terbangun.
Diego mengerjapkan matanya untuk sesaat, menyadari sinar mentari sudah naik begitu tinggi. Bahkan sinarnya telah berhasil mengusik tidur nyenyak Diego. Sembari mengerjap, ia mengangsurkan tangan ke depan, menutup mata Aishe yang sejak semalam berada dalam dekapannya. Menghalangi agar sinar mentari tidak mengusik tidur sang istri.
Namun ada hal yang tidak diketahui Diego, bahwa Aishe sudah bangun lebih dulu dari pada dirinya.
"Kamu sudah bangun, Die?"
__ADS_1
Suara Aishe terdengar sedikit serak, tetapi cukup merdu bagi Diego. Suara saat bangun tidur yang sangat amat candu.
"Kapan kamu bangun?" Diego menarik kembali tangan yang tadi mencoba menghalau silau mentari, lalu memindahkan tangan itu ke perut Aishe dan mengusapnya. Seakan ingin mengucapkan 'selamat pagi' juga untuk sang janin.
"Lebih dulu darimu tentunya." Tanpa membuka mata, dia memutar tubuhnya, yang semula membelakangi Diego, kini menghadap ke arah sang suami.
"Lalu kenapa tidak membangunkan aku?" Diego perlahan bangkit dari tidurnya. "Kita harus ke pemakaman Bibi Nie, Sayang," lanjutnya.
Seketika, rasa malas yang sejak tadi membuat Aishe engga membuka mata, tiba-tiba sirna usai mendengar ucapan Diego. Mata dengan bulu-bulu lentik seketika terbuka membelalak lebar. Dia bahkan langsung beranjak bangkit dari tidurnya dan lekas berdiri.
"Die!" Panggilnya sedikit lantang. "Kenapa tidak mengingatkan aku! Aaahh …." Helanya setengah kesal dan jengkel, lalu pergi begitu saja ke kamar mandi.
Setelah meluhat Aishe pergi ke kamar mandi, Diego terlihat meraih ponsel yang ada di atas nakas, lalu menghubungi Ashan.
"Kau sudah mengurus semuanya?" tanya Diego begitu Ashan menjawab panggilannya.
"Ya, Tuan. Saya juga sedang dalam perjalanan menjemput Guzel."
"Pergi saja lebih dulu dan temani dia. Aku dan Aishe akan menyusul satu jam lagi," ucap Diego sambil menekan Nurse Call Bell yang ada di samping nakas.
__ADS_1
"Baik, Tuan!" ucap Ashan yang kemudian panggilannya di akhiri oleh Diego.
"Can I Help You, Mr Diego." Suara seorang perawat pria terdengar dari pengeras suara yang ada di samping nakas Diego.
"Call Dokter Ha, Right Now!"
"All Right, Mr Diego."
...☆TBC☆...
Yuhuuu I'M Come Back 🤣🤣
Jangan tanya kemana, pasti gak polow IG Othor ya, sampe kagak tahu Othor sakit 2 hari ini 😪
Jangan protes juga, "kenapa dikit, Thor?" nulis dari semalem, jam segini baru kelar 🤣 ngerti kan maksudnya. ngerti dong masa engak 🤭
Dahlah, mau ku kenalin sama babang Ahjusshi yang satu ini. Ottoke Ottoke?????? Tcakep gak?
__ADS_1