
Di Tempat Aishe.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari dua jam, helikopter yang mereka naiki telah mendarat sempurna di sebuah gedung tertinggi di Izmir. Tepat pada saat mereka tiba di Izmir, rombongan Diego baru saja tiba di Bursa.
Seorang pria dengan pakaian rapi terlihat berdiri menunggu kedatangan Mustafa, Deniz, dan juga Aishe. Lalu, segera membawa mereka pergi ke bandara, karena pesawat pribadi mereka telah siap.
Baru setengah jalan, pria yang mengemudi itu memberi informasi terbaru dari kelompok Diego.
"Mereka membaginya menjadi tiga tim. Eraz dan Rey pergi ke Arnavutkoy. Lalu, Ashan dan Emmil pergi ke Gebze. Sedangkan Tuan Rehan dan Tuan Diego, pergi ke Bursa."
Bursa? "Bukankah itu lebih dekat dari Izmir?" sela Aishe yang duduk di belakang bersama dengan Deniz.
"Benar, Nona."
"Kalau begitu, katakan pada Kapten. Ubah rute kita!" Mustafa yang duduk di depan langsung memberi perintah.
"Sudah, Tuan. Kapten sedang meminta izin dan jalur pada petugas ATC."
Bagus! Orang ini cukup cekatan.
Mobil sedan keluaran terbaru dari merek Audi itu melenggang bebas di keheningan malam. Menembus kabut yang tiba-tiba turun, dengan kecepatan diatas 120 kilometer per jam. Tidak sampai satu jam. Mobil telah memasuki kawasan bandara, bahkan langsung menuju tempat parkir pesawat pribadi mereka.
Pada saat inilah, kewenangan dan kekayaan mereka di pamerkan. Siapa yang bisa membawa mobil pribadi masuk ke Apron khusus, menghampiri pesawat pribadi mereka, selain presiden? Nyatanya, uang hanyalah hal kecil untuk mempermudah segala urusan jika dalam situasi 'terburu-buru'.
Tak mau membuang banyak waktu. Mereka bertiga, di dampingi pria yang tadi menjemput dan mengantar mereka, segera keluar dari mobil. Aishe dengan hati-hati memegang tangan Deniz, dan menuntunnya hingga masuk ke dalam pesawat.
"Perhatikan langkahmu, Nak!" ucap Deniz sedikit khawatir.
__ADS_1
"Jalanan begitu luas, Anda tidak tersandung, Ayah." Aishe mencoba menenangkan Deniz.
"Aku tidak khawatir tentang diriku. Aku hanya khawatir tentang dirimu."
Dua sudut bibir Aishe tiba-tiba terangkat setelah beberapa jam ia memasang wajah datar penuh kekhawatiran. Namun sayangnya, senyum itu hanya bertahan cukup singkat di wajah cantiknya.
Dassault Falcon 8X, pesawat pribadi yang bisa menempuh jarak total 7.422 mil laut (13.745 kilometer) dengan kecepatan maksimum 600 mil (965 kilometer) per jam. Inilah yang membuatnya dijuluki ultra long range jet, dan menjadi transportasi yang mereka pilih dibandingkan tetap menggunakan helikopter, lantaran kecepatannya hanya mencapai 400 kilometer per jam.
Jarak 356 kilometer itu ditempuh kurang dari satu jam, sungguh sangat cepat jika dibandingkan dengan pesawat komersil biasa.
Ada dua mobil Rubicon yang sudah menunggu kedatangan mereka, yang langsung menjemput mereka begitu pesawat landing dan masuk ke Apron.
"Tuan, mereka pergi ke Uludag. Sempat terjadi pertarungan sengit antara Tuan Diego dan Max –" belum sempat pria itu menjelaskan, Aishe lebih dulu memotongnya.
"Hanya beberapa luka ringan, Nona. Hanya saja Max kabur, dan mereka mengejarnya."
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo berangkat!" bentak Aishe yang terlihat tidak sabar.
Perasaan khawatir kembali mencuat, memenuhi ubun-ubun kepalanya, dan ingin sekali dia keluarkan. Namun, saat mata kepalanya sendiri belum melihat sang suami, hatinya mana bisa jadi lega?
Dua mobil itu berjalan beriringan, melesat dengan cepat menghampiri tempat Diego dan Max berada.
Waktu entah berapa lama sudah berlalu, tiba-tiba saja sinar mentari mulai terlihat dari sisi timur. Cahaya yang semakin lama semakin terang, seolah membawa mereka keluar dari kegelapan malam yang mencengkam.
"Ada perlengkapan di belakang yang mungkin bisa kalian pakai," ucap pria yang sedang mengemudi.
__ADS_1
Aishe yang lagi-lagi duduk di belakang, langsung menoleh melihat ke belakang yang langsung terhubung ke bagasi. Dia melihat sebuah kotak dan langsung mengambilnya. Ada senjata, juga sebuah rompi dan belati di dalam sana, yang langsung dikeluarkan oleh Aishe.
Aishe memberikan beberapa senjata pada Mustafa, juga memasangkan rompi pada Deniz.
"Tetaplah bersama Ayah Mustafa nanti, Dia bisa melindungimu!" ucap Aishe ketika memasangkan rompi dan meletakkan senjata di balik jasnya.
"Siapa yang mengajarimu memegang senjata, Nak?" tanya Deniz tiba-tiba.
"Menurut Ayah, siapa lagi?"
Di Sisi yang lain. Diego sedang bertarung satu lawan satu dengan Max sekali lagi. Layangan tinju dan tendangan berkali kali dia layangkan pada pria yang umurnya tidak muda lagi, tapi percaya lah, stamina Max masih cukup kuat.
Dengan kaki yang sedikit pincang akibat peluru anak buah Max menghujam pahanya, Diego mencoba menstabilkan kuda-kudanya. Bertarung dengan paman angkatnya itu mati-matian.
Sedangkan Max, dia masih terlihat santai. Senyum liciknya bahkan beberapa kali lepas dari wajah datarnya. Namun, dia sudah kehilangan Ibu Jari sebelah kiri, juga beberapa luka tusukan di lengan dan pahanya.
...☆TBC☆...
Tau gak kenapa lama?
Karna ada yang perlu di survey sama othor. Tentang banyak hal, biar ngak terkesan 'dipaksa' gitu, dan ceritanya kayak hidup meski cuma karangan 🤣
jadi pahamilah dan terus menebar sajen 😌😌
__ADS_1
Bab selanjutnya besok, semoga othor tetep waras dan dapet banyak sajen malam ini 🤣