
...Beautiful Wedding ...
Konon katanya, hormon ibu hamil itu sangat mempengaruhi mood. Benar saja, Aishe merasakan perasaannya hari ini di aduk-aduk, dia mudah sekali jengkel, terutama saat sang suami tidak setuju dengan pendapatnya mengenai lamaran Ashan.
Namun meski begitu, ia sepertinya melupakan rasa jengkelnya begitu saja saat Eraz, selaku pemandu acara mengajak semua orang untuk berdansa. Tuntunan acara dansa harus dibuka oleh Diego dan Aishe selaku pengantin. Yah, pada akhirnya, Aishe yang semula acuh kini mulai luruh saat Diego mengulurkan tangan.
“My Lady ….”
Dengan senyum malu malu bak anak remaja, Aishe meraih tangan sang suami. Mereka maju ke depan, membuka dengan beberapa gerakan dansa yang cukup indah. Setelah itu, Deniz dengan romantis mengajak Mirey untuk ikut berdansa juga. Begitupun Mustafa yang menari bersama Bibi Banu. Ashan yang tak mau ketinggalan juga mengajak Guzel.
Emil yang masih terlihat sedikit kaku, pun tak mau ketinggalan dan mengajak sang istri untuk menari. Kini, hanya tinggal Eraz dan Farhan yang tersisa. Eraz dengan wajah berbinar, menatap ke arah Farhan yang pada saat itu berdiri memegang segelas Sampanye.
Dalam hal ini, insting jahilnya bergejolak. Eraz dengan cepat menghampiri Rehan, ingin mengajak rekannya itu berdansa. Namun siasat Eraz dengan mudah di baca Rehan. Pria itu dengan langkah panjang menghindar, tapi Eraz tidak mau berhenti dan terus mengejar Rehan.
Sampai akhirnya, Rehan melihat Rubby sedang menikmati segelas jus. Dia langsung menghampiri gadis muda berkulit kuning langsat, khas gadis Asia. Buru-buru dia meneguk semua isi sampanye, lalu mengambil gelas Rubby, dan menaruh kedua gelas itu di atas meja. Gerakan Rehan begitu cepat, sampai Rubby tak sempat bereaksi untuk menolak pria itu saat tangannya di raih dan ditarik pergi ke depan untuk berdansa.
“Tu-tuan Rehan! Apa yang Anda lakukan?” tanya Rubby heran. “Sa-saya tidak bisa berdansa, Tuan.”
“Tidak masalah, aku bisa mengajarimu,” jelas Rehan mencoba menenangkan Rubby.
“Aku tau kamu gadis baik. Jadi bantu aku kali ini.” Rehan meraih tangan kiri Rubby, meletakkan tangan itu di pundaknya. Lalu, meraih tangan kanan dan mengengamnya, juga meletakkan tangan kiri di pinggang Rubby.
“Ah … itu, ba-baik,” jawabnya dengan gugup.
Eraz yang melihat Rehan memiliki pasangan dansa, hanya menghela napas kasar dengan keluhan yang keluar dari bibir tipisnya.
__ADS_1
Musik masih berputar, setelah beberapa gerakan, para wanita kompak bergerak ke samping dan bertukar pasangan. Kini Aishe berdansa dengan ayah Mustafa, sedangkan Diego berdansa dengan Mirey.
“Kau bahagia, Nak?” tanya Mustafa.
“Sangat Ayah. Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Terima kasih, sudah bersedia memberikan namamu padaku.”
“Kamu pantas mendapatkannya, Anakku. Kebaikan dan ketulusanmu, juga perjuanganmu telah berbuah manis. Berbahagialah selalu,” ucap Mustafa yang tiba-tiba berkaca kaca saat berbicara pada Aishe. Seorang gadis yang menurutnya sangat tangguh dan bijak. Gadis yang mampu membuat si Keras Kepala Denis, keluar dari persembunyiannya selama ini dan memasang badan demi sang putra.
Sedangkan di sisi Diego. Kedua orang itu masih saling membisu selama beberapa saat. Sampai pada akhirnya, Mirey lebih dulu berbicara.
“Kau terlihat bahagia.”
“Tentu. Aku mendapatkan istri yang baik dan sangat amat … luar biasa.”
“Bagus jika kau bahagia. Jika setelah ini kau mengeluh padaku, aku akan membuatmu berlutut di papan bergelombang.”
“Apa Ibu seorang Diktator? Wah … pantas saja ayah betah tinggal di tengah laut,” ejek Diego.
“Aah … Ibu!” Diego menatap nyalang Mirey, tapi pandangannya menciut saat Mirey menatapnya balik. Pada akhirnya, dia hanya bisa berdecak kesal, lalu mengalihkan pembicaraan.
“Ibu terlihat cantik, siapa yang meriasnya?”
“Tidak perlu merayuku. Semua keuangan kau sendiri yang memegangnya, tidak ada gunanya merayu.”
“Tidak! Aku tidak ingin uang, tapi ….”
“Kau yakin?” tanya Mirey memastikan keputusan yang akan diambil sang anak.
__ADS_1
Diego tak menjawab, dia justru fokus menatap Aishe yang tertawa bahagia saat berdansa dengan Mustafa. Melihat wajah bahagia sang istri, Diego menarik dua sudut bibirnya, lalu menatap Mirey dan mengangguk.
“Aku tidak bisa menghalangimu.”
Para wanita bergerak lagi. Kini yang berdansa dengan Aishe adalah Rehan. Namun, wanita yang berdansa dengan Diego adalah orang asing di mata Aishe. Dia sama sekali tidak mengenal gadis berambut panjang dengan dress hitam yang sangat mempesona.
“Hai, Digo!” sapa gadis itu ramah.
Kedatangan gadis itu yang langsung menyerobot dan berdansa dengan Diego membuat beberapa orang terkejut. Termasuk Eraz, Rehan, dan juga Ashan. Bahkan Guzel dan Bibi Banu sempat ternganga melihatnya.
“Bukankah itu … Nona Emine?” tanya Guzel yang pada saat itu sedang berdansa dengan Mustafa.
“Oh kau mengingatnya, Nak?”
“Nyonya Mirey sempat menyebutkan namanya tadi saat mereka video call, jadi langsung teringat di kepala.”
“Jadi, dia datang atas perintah Mirey?”
“Saya kurang tau, Paman Mustafa.”
Mustafa lantas menoleh, menatap Aishe yang fokus melihat sang suami sedang berdansa dengan wanita yang menurutnya asing bagi dia. Pada saat itu, entah mengapa ada sebuah harapan kecil dalam hati Mustafa pada sang putra untuk tetap diam dan berpura-pura tidak tahu.
“Kak, siapa wanita itu? Aku tidak pernah melihatnya, tapi Diego terlihat mengenalnya,” tanya Aishe berbicara dengan Rehan, tapi matanya fokus menatap Diego.
...☆TBC☆...
__ADS_1
Sudah dulu hari ini ya 😘
Sajen jangan lupa guys 😚😚