Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 66


__ADS_3

Diego –


Sorry, i love you. Kata yang Ashan bilang cukup mujarab untuk mendapatkan maaf dari seorang wanita. Kata-kata yang menurutku cukup sakral untuk di ucap, bahkan Lyra pun jarang mendengarnya.


Namun entah kenapa, bibirku cukup ringan ketika mengucapkan kalimat itu, seperti tidak ada paksaan, keluar begitu saja mengikuti suasana. Mungkin, aku memang sudah jatuh cinta padanya


Sorry, i love you.


Aku sangat berharap bisa mendapatkan maafnya juga mendapatkan hatinya.



Dua manik mata membulat penuh. Ia berkedip beberapa kali, mencoba menerka dan menelan perkataan maaf Diego. Jantungnya berdetak cukup keras dan melambat.


Apa aku bermimpi? Mengigau?


"Maaf, aku mencintaimu!"


Suara Diego pada saat itu seperti melodi indah yang mengantarkan Aishe terbang ke langit. Menembus lapisan awan ketujuh dengan sangat indah, meski tanpa sayap.


Aishe masih diam mematung dalam keadaan shock. Sedangkan Diego, membelai pipi Aishe dengan tangan kanannya. Tangan dingin yang menyentuh kulit tipis itu, seakan membuat Aishe tersadar bahwa semuanya nyata. Aishe dengan cepat menegakkan badannya.


"Sepertinya Anda sedikit lelah hari ini," ucap Aishe terbata-bata yang takut jika ucapan Diego hanya imajinasinya sesaat.

__ADS_1


"Tidak. Aku sadar, sepenuhnya sadar!" Tegas Diego. "Kamu tidak percaya padaku?"


Aishe terdiam, mulutnya menganga mencoba mengatakan sesuatu, tetapi tidak satupun kata yang keluar dari sana. Dia terlalu terkejut sampai tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Ishe, aku ingin memiliki hubungan lebih dari 'Tuan dan Saya'. Tidakkah kamu mengerti?"


Aishe menunduk, beberapa kali senyum merekahnya hampir lepas, tapi dia menahannya. Bukan tidak ingin tersenyum, bukan tidak ingin mengekspresikan perasaannya. Namun ia ingin meyakinkan lagi maksud perkataan Diego.


"Sa-saya tidak mengerti maksud Anda." Aishe mengalihkan pandangannya, tapi Diego dengan cepat menarik pinggul Aishe hingga tubuhnya jatuh ke belakang tepat di pangkuannya.


"Aku ingin memilikimu, seutuhnya." Diego melingkarkan kedua tangannya di perut Aishe, kemudian menyandarkan kepalanya di punggungnya. "Hati dan tubuhmu, aku ingin memilikinya," lanjutnya.


"Ishe, bolehkah aku mencintaimu? Bolehkan aku memilikimu?"


"Jawab aku, Ishe. Aku mau izinmu."


Untuk pertama kalinya, Diego dengan suara lembut meminta izin padanya. Hal ini jelas tidak seperti sebelumnya, ketika pria itu tanpa permisi mengecup bibirnya, menyentuh dan menjamahnya.


"Tuan, aku …."


"Kau menolakku? Karena aku lumpuh?"


Manik mata Aishe membulat. Pada awalnya, dia hanya ingin mendapatkan waktu untuk memikirkan kembali jawabannya. Juga, memikirkan konsekuensi jika tiba-tiba pria itu berubah pikiran karena statusnya. Namun, apa yang barusan ia dengar membuat perasaannya tiba-tiba merasa tak nyaman.

__ADS_1


Aishe sendiri tidak memperdulikan kondisi kaki Diego, toh, dia juga sudah jatuh hati entah sejak kapan. Lantas apa lagi yang perlu diyakinkan oleh hatinya?


Dia menyampingkan tubuhnya, lalu meletakkan jari telunjuknya di bibir Diego. "Berhenti berkata seperti itu! Berhenti merendahkan dirimu!"



Raut wajah Diego terlihat seperti anak kecil. Dia tersenyum, memperlihatkan garis di sudut bibirnya, mata yang sedikit menyipit, dengan sorot mata lembut. Dengan patuh, dia mengangguk.


Tingkah menggemaskan Diego tiba-tiba membuat Aishe mengecup bibirnya. "Apa jawaban ini sudah cukup?" Kali ini saja, biarkan aku menuruti kata hatiku, kau akan mati jika menyakitiku, Die.


"Tidak cukup!" Diego mendorong tengkuk leher Aishe ke depan agar mudah baginya meraih bibir kecil milik wanita yang kini menjadi kekasihnya.


Dua lidah tak bertulang kembali beradu, tetapi kali ini memiliki rasa yang berbeda. Bukan lagi napsu yang tercap dalam setiap kecupan, melainkan telah berubah menjadi cinta yang sangat manis.


Manis, semanis madu – Aishe melingkarkan tangannya di leher Diego. Perasaannya telah sepenuhnya tenggelam dalam laut kebahagiaan yang tanpa dasar.


Candu seperti bunga Poppy yang mengandung morfin dan alkaloid – Diego menenggelamkan lidahnya lebih dalam lagi.


Keduanya masih di mabuk asmara, ketika tiba-tiba bau gosong mengganggu indra penciuman. Aishe yang teringat dengan sup ayam kalkun, pun langsung melepaskan pagutan bibirnya dan bangkit berdiri.


"Supku!" Pekik Aishe yang lari tunggang langgang melihat sup di panci yang sudah surut kehilangan air kaldu.


...☆TBC☆...

__ADS_1


__ADS_2