Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 199


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu dengan cepat. Kejahilan Aishe pada beberapa pria yang selama ini menemani sang suami, juga berhenti setelah cosplay malam itu. Hari-harinya selama sebulan terakhir disibukkan dengan persiapan pernikahan Guzel dan Ashan.


Pernikahan dengan gaya outdoor, menjadi keputusan dari dua orang yang masih dibalut kasmaran. Ya, konsepnya hampir sama dengan pernikahan Diego dan Aishe yang diadakan beberapa bulan lalu. Namun untuk pernikahan mereka berdua, terkesan lebih sederhana.


Guzel bahkan memilih gaun putih polos tanpa manik-manik. Dekorasi pun hanya ada bunga mawar putih yang tidak terlalu susah dicari. Namun meski sederhana, Aishe dan Ammine masih cukup sibuk mempersiapkan remeh-temeh yang lain.


Sama seperti malam sebelum hari pernikahan mereka. Kedua mata Aishe masih fokus dengan beberapa bunga, benang, dan juga jarum yang ada di hadapannya. Dia sedang duduk dengan cahaya lampu led putih yang memberi cahaya cukup terang. Kedua matanya fokus, merangkai bunga yang akan menjadi hiasan kepala Guzel. Begitu fokus sampai-sampai kehadiran sang suami pun tak dirasa.


"Ini sudah larut. Jika kau tak peduli dengan suamimu ini, setidaknya pedulilah dengan dia yang ada di dalam perutmu," ketus Diego sedikit jengkel.


Tanpa menoleh atau melirik, Aishe mengangkat dua sudut bibirnya, lalu menjawab Diego yang sedang berdiri di ambang pintu dengan suara sedikit serak.


"Sebentar lagi akan selesai."


Mendengar sikap dan perkataan acuh tak acuh dari sang istri, Diego hanya terdiam dengan wajah datar. Lalu, ia pergi meninggalkan Aishe yang masih sibuk dengan rangkaian bunga di tangannya.


Aishe sendiri seakan tak peduli dengan rasa jengkel yang mungkin dirasakan Diego. Dia lebih memilih untuk terus fokus dengan apa yang dia kerjakan, dan memutuskan akan menenangkan hati sang suami setelah pekerjaannya selesai.


Namun, sekitar 5 menit berlalu sejak Diego meninggalkan Aishe. Rupa-rupanya, dia kembali lagi dengan segelas cangkir berwarna putih di tangannya. Pria dengan piyama di tubuhnya itu berjalan dengan santai menghampiri Aishe. Lalu saat ia sudah berada di samping sang istri, ia menyodorkan cangkir putih yang sejak tadi dipegangnya.


“Minum dulu. Air jahe dan madu ini bagus untuk tenggorokan yang kering, juga untuk menghangatkan tubuh.”

__ADS_1


Sudah mendengar kalimat serta sikap perhatian dari suaminya, Aishe tak lagi bisa acuh. Dia menoleh dan menatap wajah teduh Diego, melihatnya sebentar, lalu tersenyum.


“Dia selalu menggagalkan sikap cuekku,” batin Aishe yang masih terlalu engan meletakkan bunga dan jarum di tangannya.


“Kamu memang selalu tahu apa yang aku butuhkan,” ucap Aishe memandang Diego.


“Tapi tanganku sedang sibuk untuk memegang cangkir. Apa kamu bisa mendekatkan itu padaku, Sayang?” lanjutnya yang kemudian mengalihkan matanya dari Diego dan kembali fokus merangkai bunga lagi.


Setiap kata yang keluar dari mulut Aishe terdengar biasa saja. Akan tetapi, hal berbeda terjadi saat sampai di telinga Diego. Pria terlihat menaikkan satu sudut bibirnya, sebelum akhirnya menyuruh Aishe membuka mulut, lalu menyeruput isi dalam cangkir.


Salah satu tangan besarnya meraih kepala Aishe agar bisa menoleh ke arahnya. Lalu dalam satu gerakan singkat, ia berhasil meraih bibir Aishe dan memindahkan air jahe bercampur madu yang tadi ia seruput ke dalam mulut Aishe.


GLEK!


“Bagaimana rasanya?” tanyanya.


“Wow! Sangat manis dan … Amazing,” jawab Aishe yang sempat terkejut dengan tindakan suaminya sendiri.


Diego yang puas, lantas meletakkan cangkir itu di atas meja. Lalu ia terlihat berjalan sambil berkata, “Minumlah dulu, lalu selesaikan itu dengan cepat. Aku akan menunggumu disini!”


Tidak terdengar jawaban apapun dari Aishe. Wanita dengan perut yang semakin membesar itu hanya diam dan melihat sang suami mengambil sebuah buku dari rak yang ada di hadapannya. Sorot matanya bahkan tak bergeming meski ia sudah melihat Diego duduk di hadapannya dan mulai membaca buku.

__ADS_1


“Jika terus memandangi suami tampanmu ini, kita mungkin akan tidur lebih lambat dan akan bangun kesiangan besok!” goda Diego dengan sorot mata fokus ke arah buku yang baru saja ia ambil.


“Cih, pesonamu memang tidak ada duanya, Sayang!”


Setelah mengatakan hal itu, Aishe terlihat meletakkan rangkaian bunga yang sejak tadi menjadi titik fokusnya. Kemudian ia meraih cangkir, menyeruput isi didalamnya, sebelum akhirnya ia bangkit dari kursi tempatnya duduk. Dengan langkah santai, ia berjalan mendekat ke arah Diego, mengambil buku yang sedang dibaca sang suami dan duduk di atas pangkuannya.


Dua pasang mata saling menatap satu sama lain, tanpa ada kata yang keluar dari bibir mereka. Seakan dua pasang mata itu sedang berbicara satu sama lain, menyampaikan segala isi dalam hati yang tidak bisa dilontarkan dengan kata.


Mereka masih diam membisu. Meski kedua tangan Aishe melingkar manja di leher Diego, bahkan saat Diego membalas dengan mengusap pelipis serta pipi Aishe. Juga, menorehkan beberapa ruam cinta di leher sang istri.


Namun Diego berbicara lebih dulu setelah berusaha menahan hasratnya. “Sudah saatnya tidur.”


Dengan tubuh gagahnya ia membopong tubuh sang istri hingga ke kamar. Aishe sendiri tidak terlihat ingin mengelak, meski rangkaian bunga untuk Guzel belum selesai. Wanita itu justru menyandarkan kepalanya di pundak Diego, saat pria itu membopongnya.


...☆TBC☆...



Wah syudah lama sekali ya. Xixixi. Pada kangen ngak? Kangen dong ya, pasti 🤭


Tenang-tenang, come backnya othor kali ini bakal bawa inpo, bahwa babang Die dan Aishe masih hadir nemenin kalian sampai ... Yah minimal punya 2 anak lah ya 🤣

__ADS_1


Ini othor agak lupa sama tokoh²nya, ingetin kalau ada kesalahan nama ya 🙏 see you next chapter 😚😚


__ADS_2