
Seminggu berlalu begitu cepat usai Aishe mengetahui kondisi kaki Diego yang sudah pulih. Meski belum sepenuhnya, tetapi perkembangan kaki Diego sudah jauh lebih baik dari sebelumnya yang hanya bisa berdiri selama dua jam sehari.
Namun, karena berbagai alasan, Diego belum bisa mempublikasikan kondisi kakinya di hadapan semua orang. Mengingat urusannya dengan Maximo masih belum selesai.
Hari ini pun, Aishe sudah bisa bekerja seperti biasanya. Setelah Diego melarangnya pergi ke kantor selama satu minggu sebagai bentuk hukuman, karena sudah berani melanggar larangan darinya.
Beberapa pekerjaan yang menumpuk di meja, membuat kepalanya tiba-tiba terasa cukup pening dan berat, yang lama-lama membuat dia meletakkan kepalanya di meja untuk beberapa saat.
Tepat ketika dia meletakkan kepalanya, Diego yang baru menghadiri rapat pun tidak sengaja melihatnya. Merasa punya alasan yang tepat untuk bertemu kekasihnya, pria yang duduk di kursi roda itu tiba-tiba menyuruh Ashan untuk memanggil Aishe.
"Panggil stafmu yang bermalas-malasan itu ke ruanganku!" pintanya tegas.
Ashan sempat bingung, siapa kiranya yang Diego maksud. Namun saat ia melihat Aishe sedang merebahkan kepalanya di meja, barulah ia mengerti.
Tuan, kau hanya mencari alasan untuk bertemu kekasihmu kan? Hah!
Pria berambut sedikit ikal itu tak banyak bicara lagi, dan langsung memanggil Aishe. Dengan pelan ia mengetuk meja tempat Aishe menyandarkan kepalanya. Suara papan kayu yang diketuk, tentu membuat Aishe langsung menegakkan kembali tubuhnya.
"Pak …." sapanya sedikit terkejut dengan kehadiran Ashan.
"Pergilah!" ucap Ashan singkat, membuat Asihe yang sudah pusing memikirkan dokumen yang menumpuk, justru bertambah pusing.
"Pergi? Kemana?" Aishe sedikit mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Hela napas Ashan terdengar jelas. Sebenarnya, dia terlalu malas menjelaskan maksud hati tuannya itu, dan berharap Aishe bisa paham. Namun kenyataannya, gadis itu masih tidak mengerti.
"Sudah cuti satu minggu, masih saja bermalas-malasan! Pergi ke kantor Presdir sekarang!" bentak Ashan terdengar ketus, membuat beberapa staf di kantornya langsung mengalihkan pandangan matanya.
Respon Aishe pun sama dengan yang lain, dia bahkan langsung berdiri begitu mendengar ocehan Ashan yang bernada tinggi. Tanpa berpikir apapun, dia pun pergi ke ruang Presdir sesuai dengan perintah Ashan.
Wanita itu bahkan berlari kecil menuju ruangan kerja Diego. Hal yang dia pikirkan pada saat itu hanya bentakan Ashan yang terdengar serius. Hal ini tiba-tiba membuatnya mengingat saat manajer pemasaran Halley memarahinya dan membuatnya dihukum berat hanya karena meletakkan kepalanya seperti tadi.
Namun ketika dia sampai di depan ruangan dan di izinkan masuk ke dalam. Dia justru melihat pemandangan Diego yang sedang bersantai menikmati secangkir coffee.
"Kau sudah datang?" kata Diego dengan santai melihat Aishe yang terlihat ngos-ngosan berusaha menstabilkan napasnya.
Melihat Diego begitu santai, bahkan tidak ada ekspresi marah sedikit pun, Aishe pun sedikit berang.
Diego berjalan perlahan mendekati Aishez lalu mengusap surainya yang lembut. "Em, aku merindukanmu," jawabnya.
Setiap kata-kata pria ini penuh tipu daya, iya benar!
Aishe buru-buru menepis tangan Diego dan menghela napas kasar. "Kita baru berpisah 4 jam. Jangan menipuku!" ucapnya sedikit ketus, namun tidak terasa seperti itu bagi Diego.
"Sudahlah, aku harus kembali!" Aishe berbalik, ingin pergi dan menyelesaikan laporan yang sudah satu minggu ini dia tinggalkan. Namun, belum sempat ia melangkah, Diego buru-buru membopong tubuhnya.
"Die! Turunkan aku!" Aishe memberontak, tetapi Diego tidak peduli. Dia terus berjalan, melewati meja kerjanya, lalu menekan tombol yang ada di rak buku.
Seketika, sudut rak buku itu terbuka sedikit, memberi jalan ke sebuah ruangan. Benar, itu adalah ruang rahasia tempat Aishe melihat Farhan ketika menandatangani pinjaman atas nama Halley beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
"Kau merenovasi ruang kerjamu?" tanya Aishe.
"Sedikit. Aku hanya ingin mengganti suasana."
"Itu hanya alibi konyol untuk menghamburkan uang!" sahut Aishe ketus.
Diego tersenyum, lalu perlahan menurunkan tubuh kekasihnya itu ke atas sofa bed empuk, yang kelihatannya juga baru dibeli.
"Iya. Aku ingin membuatmu nyaman jika Ashab memberimu pekerjaan berat." Diego memandang kedua mata Aishe dengan lekat, dan memangkas jarak sekelumit di atara mereka, menyapa bibir sang kekasih yang belu dia kecup sejak tadi pagi.
"Istirahatlah disini!" lanjut Diego setelah puas menjelajah.
"Kau tidak ingin melanjutkan?" goda Aishe dengan menunjukkan wajah sensualnya.
"Ishe, jangan menggodaku. Aku bisa membuatmu sakit pinggang sekarang!"
Percaya percaya, Babang Die udah bisa nga-nu anu dengan leluasa 🤣🤣
Beneran othor lagi ngak enak badan. Mau up besok, cuman gak enak gitu buat kalian nunggu 🥲🥲
Sesayang ini looh othor sama kalian, Kopi sama Kembang jangan sampe lupa 💋💋
Besok UP agak telat ya 🙏
__ADS_1