
...WARNING!!...
Berhubung upnya pagi, jadi lebih baik di save dulu deh bab ini, karena mengandung ehem-ehem anu. Tapi kalau masih di gas ... bukan salah othor yaaa
Lampu utama di kamar sudah mati, hanya sisa lampu tidur yang masih menyala, memberikan ruangan itu sedikit cahaya temaram. Bau dari Bukhur yang di bakar, menebarkan harum wangi yang memikat di sekitar. Menyalurkan gairah dua orang yang sedang beradu di ranjang.
Aishe menggelinjang, manakala Diego bermain dengan kedua miliknya yang padat berisi. Meremas, menyecap kemucuk ramun berwarna merah muda.
"Diego … eeemmm aaahhhh." Dia menaikkan kepalanya dan menutup mata, sesekali menggigit bibir bawahnya ketika sakit, geli, dan nikmat bercampur menjadi satu.
Aishe pun tak mau kalah dalam mengambil bagian. Ia merebahkan tubuh kekasihnya, lalu mulai bermain-main dengan benda lunak tak bertulang. Sama seperti saat Diego bermain dengan dua benda sintal miliknya. Dia memegangnya dengan satu tangan, kemudian menjulurkan lidah dan memasukkannya ke dalam mulut.
Jiwa Diego seketika berdesir. Merasakan bagian dari dirinya menghangat secara tiba-tiba. "Uugh, Ishe …." Dia pun tak mau kalah juga dalam memberikan pelayanan. Dengan cepat ia meraih butt Aishe dan meletakkannya di atas kepala.
Dari bawah, tentu dia bisa melihat pemandangan indah yang cukup membuatnya menelan salivanya. Diraih gerbang nirwana itu dengan cepat, dan mulai menikmatinya.
Kini, jiwa Aishe lah yang berdesir tak karuan. Lelungan keduanya terdengar bersahutan selama beberapa menit, sampai akhirnya, Aishe berdiri membelakangi Diego, dan mulai mempertemukan dua kenikmatan milik mereka.
Dia menurunkannya perlahan, sangat perlahan sembari mendessah bebas, sampai bagaian panjang itu masuk sepenuhnya.
Diego yang memposisikan dirinya duduk bersandar, pun memeluk dirinya dari belakang sembari mengecup punggung putih nan lembut itu.
"Aku mencintaimu, Ishe.
__ADS_1
Aishe mulai menaik turunkan pinggulnya, dibantu dengan kedua tangan Diego yang mengangkatnya.
"Diego, aahh …."
Ditengah permainan, Aishe memutar tubuhnya, duduk menghadap Diego. Melihat wajah sensasional pria itu. Rambut hitam nan lebat, senada dengan alis. Hidung mancung dan bibir sexy yang menggoda, ditambah bulu-bulu kasar yang memenuhi dagu dan rahangnya.
Sungguh! Dia sangat memikat dan mempesona.
Aishe meraih bibir yang sudah kemerahan itu dan menggulumnya di dalam mulut, menikmati rasa manis yang selalu membuatnya candu.
"Ishe …." Diego memanggilnya lirih ketika keduanya melepas ciuman. Keduanya saling mengagumi untuk beberapa saat, sampai lupa bahwa milik Diego masih berkedut.
"Mari kita selesaikan!"
Diego kembali mengangkat pantat Aishe, membuat gesekan hangat yang memicu hormon oksitosin mereka. Terus mengangkat dan melesakkannya kembali dengan itens, sampai … keduanya mendesaah bersama
Hingga ….
Magma putih nan hangat tersembur ke dalam dengan nyaman dan melegakan.
Diego menatap wajah Aishe yang di penuhi keringat. Dengan perlahan ia menyekanya. Bola mata kecoklatan wanita itu terasa cukup menggoda, terutama bibirnya yang sedikit tebal, persis dengan apa yang Diego suka.
Perlahan, Ibu Jarinya menelisik, menyentuh dan mengusap bibir Aishe yang sedikit terbuka lantaran berusaha mengambil napas.
Kau berhasil membuatku gila, Ishe.
__ADS_1
Aishe merebahkan dirinya di dada bidang Diego yang sedikit berbulu, sembari mengatur napasnya yang masih memburu.
"Ishe, ada urusan yang harus aku selesaikan," ucap Diego yang masih di dengarkan Aishe.
"Aku harus pergi ke Adana selama beberapa hari."
"Adana?" Aishe mengangkat kepalanya menatap Diego. "Berapa lama kamu disana?"
"Sekitar dua sampai tiga hari." Diego dengan lembut menyingkap rambut yang menggantung di pipi.
"Urusan apa? Sebentar lagi pelantikan mu …." Tiba-tiba Aishe terpikirkan sesuatu. "Apa ada masalah dengan anggota dewan? Apa mereka menarik keputusannya?" Nadanya sedikit meninggi.
"Kamu menebak dengan cepat." Diego mengecup kening sang kekasih, berusaha untuk menenangkannya. "Tidak usah khawatir, aku hanya menemui ibuku."
"Ibu?" Kedua mata Aishe masih menyimpan banyak pertanyaan. Namun, dia lebih memilih untuk menyimpan semua pertanyaan-pertanyaan itu.
"Di luar sangat dingin. Pakailah mantel tebal, jangan lupa pakai topi juga," ucap Aishe membelai pipi Diego.
Diego mengangguk dengan patuh sembari tersenyum, kemudian mengecup pundak Aishe yang penuh dengan ruam merah akibat perbuatannya.
Nah, bablsa kan?
Bukan salah othor looh ya 🤭🤭
__ADS_1
Goyangin jempolnya. Babang Die, masih menunggu secangkir kopi dan mawar 🤭