
Berhadapan dengan Mirey, entah mengapa Aishe merasa canggung. Jelas hal ini jauh berbeda dengan Deniz yang mudah di ambil hatinya. Bagi Aishe, karismatik Mirey sungguh di luar jangkauannya.
Berd masih terlihat sibuk mencatat saat ini, sedangkan Sasha sibuk mengukur tubuh Aishe. Dengan sangat hati-hati dia bekerja, mengusahakan agar ukurannya sesuai dengan bentuk tubuh Aishe.
"Kenapa kamu datang?" ketus Diego melihat Mirey duduk kembali di sofa.
"Kamu sendiri yang bilang ingin mengadakan pesta pernikahan dalam satu bulan," jawab Mirey santai sambil mengambil segelas teh Chamomile yang sangat disukainya.
"Setidaknya beritahu aku dulu!" tegas Diego masih berdiri memandang nyalang sang ibu.
Namun meski di tatap sedemikian rupa oleh sang anak, Mirey masih tetap tenang menikmati tehnya. Sampai akhirnya, Aishe dengan sengaja menendang sepatu Diego dan membuat pria itu menoleh menatapnya.
"Kenapa berdebat dengannya!" bisik Aishe dengan sangat lirih, tapi Diego hanya diam tidak memberi jawaban.
Pada akhirnya, pria yang berstatus sebagai suami itu menghela napas panjang. Lalu, ia duduk tidak jauh dari Mirey.
"Urusan baju nikah, serahkan pada Berd saja. Ibu tidak perlu repot untuk mengurus ini," terang Diego yang ikut menikmati secangkir teh.
"Kalau kau tidak mau, biarkan aku menyiapkan ini untuk menantuku!" kata Mirey langsung menatap ke arah Aishe. "Kau tidak keberatan kan, Menantuku?"
Aishe spontan menaikan dua sudut bibirnya, lalu mengangguk dengan cepat. "Iya, tidak masalah, Ibu."
Jawaban sang istri tentunya mendapat respon dari Diego. Dia langsung menoleh, menatap sang istri yang berharap membela dirinya, justru sekongkol dengan ibunya.
"Bagus. Kalau begitu, setelah ini kita pergi!" ajak Mirey sedikit antusias, namun tetap dengan gaya elegan dan angkuh.
__ADS_1
Kali ini bukan Aishe yang menyahut lebih dulu, melainkan sang putra tunggalnya. Diego dengan sedikit lantang berkata, "Tidak!"
Ia pun segera bangkit berdiri, lalu memandang Aishe sesaat, sebelum akhirnya memandang Mirey. "Ibu lupa? Dia hamil!" tegasnya.
"Memangnya wanita hamil tidak boleh berjalan-jalan dan bersantai?"
"Aku tidak mengizinkannya!" kekeh Diego yang kemudian berkacak pinggang dan membelakangi Mirey dan Aishe, berusaha melepaskan rasa kesal yang berkecamuk liar.
Mirey hanya melirik putranya, lalu menggelengkan kepala. Dia sendiri tidak heran dengan sikap keras kepala Diego yang mirip dengan Deniz. Setelah itu, ia menatap Aishe, memberinya kode agar ia mau membujuk Diego.
Aishe yang memang sudah selesai di ukur oleh Sasha, pun dengan tenang duduk di sofa, kemudian berkata dengan sangat lembut penuh rayuan.
"Aku sudah lama di rumah, Die. Dan aku bosan," ucapnya menatap punggung Diego dan langsung membuat pria itu berbalik ke arahnya.
Sebenarnya, dia tidak perlu melihat wajah sang istri yang memelas seperti itu. Mendengar alasannya pun sudah cukup bagi Diego untuk mengizinkan mereka pergi bersama.
"Baiklah, tapi aku ikut dengan kalian," jawab Diego tak berdaya, tetapi berhasil membuat Aishe mengangkat kedua senyumnya. Sedangkan Mirey pun juga mengangkat kedua bibirnya. Hanya saja, ia menutupi ekspresi itu dengan cangkir teh yang diangkatnya sejajar dengan bibir.
Keputusan telah di buat. Namun Diego harus mengukur tubuhnya dulu sebelum berangkat, juga menganti dasi merah maroon pilihan sang istri.
Mirey berada sedang berbincang dengan Berd mengenai desain baju Aishe dan Diego, saat kedua orang itu pergi ke kamar Aishe untuk berganti pakaian.
"Kenapa kamu tidak melepas dasinya? Kau tau ini tidak cocok sama sekali." Kesal Aishe sambil membantu Diego melepas dasinya.
"Karena ini pilihanmu, Sayang." Diego mengangsurkan tangan, membelai pipi putih Aishe yang perlahan memerah. Sedangkan Aishe menatap Diego sesaat, sebelum akhirnya menepis tangan pria itu.
__ADS_1
"Jangan menipuku!" Aishe berbalik, menyibak baju baju yang menggantung dan memilihnya dengan hati-hati.
Diego berjalan mendekat, lalu memeluk Aishe dari belakang dan mencium pundak sang istri.
"Kamu tidak percaya padaku?" tanyanya. "Kalau begitu, biarkan aku memberitahumu, Sayang," bisiknya di telinga sang istri, lalu menggigit cuping telinganya dengan lembut.
Aishe yang tahu maksud suaminya, langsung menggerakkan tangannya ke belakang, hingga sikunya mendarat di dada bidang sang suami.
"Hentikan, ibu sudah menunggu di bawah!" tegas Aishe kembali memilih baju
"Baik, baik. Aku akan membuktikannya nanti."
...☆TBC☆...
Eem, bibir merah yang menggoda 🤣🤣
Kangen gak kangen gak? yang kangen pasti gak baca Dinikahi Om Duda 🤭
Yang lupa alur, dibaca lagi aja ya 🤭
Tenang, tenang, hari ini kalian masih di temenin babang Die kok. Nanti kalau sempet lanjut ke Bang Farez 😌 sambil doain Othor ngak mumet sirah e 🤣
Hayo, yang suka loncat loncat bab, gak kasih like, atau sengaja nabung bab. Othor pantau 😌
__ADS_1