
Gaun putih yang di kenakan Guzel terlihat begitu sederhana. Putih, polos, tanpa manik-manik. Namun meski begitu, gadis itu terlihat sangat cantik dengan rambut yang tergerai bebas, juga hiasan bunga yang dirangkai oleh Aishe.
Lipstik matte, riasan yang juga sederhana berpadu dengan eye shadow serta blush on tipis. Senyum yang mengembang saat Mustafa membawanya berjalan diantara para tamu, seakan menambah kecantikan dan juga kebahagiaannya.
Dari sederet acara yang berlangsung, semua berjalan sesuai dengan rencana. Tanpa ada kendala atau masalah. Cuaca yang pada saat itu sempat diprediksi hujan pun, nyatanya hanya bumbungan awan yang hanya lewat saja.
Mungkin, perkataan Aishe saat makan malam itu benar adanya. “Mereka pasangan yang direstui Tuhan.” Lantaran cuaca yang dikhawatirkan akan menjadi masalah, hanya sebatas perkiraan.
Namun dari balik semua rentetan acara yang berlangsung, Aishe dan Diego harus meninggalkan lokasi satu jam lebih awal sebelum pesta benar-benar telah berakhir.
Rupanya, Dokter tidak memperbolehkan wanita yang sedang hamil tua itu berlama-lama di tengah hutan. Meski harus kembali lebih awal, setidaknya semua keinginannya untuk menghadiri pernikahan Guzel dan Ashan terlaksana.
Alih-alih meninggalkan Antalya dan kembali ke rumah lebih dulu, Diego dan Aishe rupanya lebih memilih untuk tetap di Antalya. Salah satu hotel terbaik sudah mereka pesan di sekitar pesisir pantai dengan pemandangan laut lepas.
“Kemarilah! Aku akan membantumu mandi,” ucap Diego saat baru memasuki kamar hotel dan melihat Aishe bersiap melepaskan bajunya.
Aishe lantas menoleh, melihat Deigo berjalan mendekati dirinya. Lalu, tangan besar itu perlahan meraih resleting baju dan menurunkannya dengan lembut.
“Padahal aku belum memberimu jawaban!” sahut Aishe yang hanya bisa diam saat resleting bajunya telah terbuka dengan sempurna.
__ADS_1
Diego yang berdiri di belakangnya hanya tersenyum. Tanpa berkata apa-apa, ia melepaskan dress yang dikenakan sang istri. Lalu membiarkan dress itu jatuh ke bawah, sebelum akhirnya ia membopong tubuh sang istri pergi ke kamar mandi.
“Kau selalu bertindak sesuka hati, Die. Menyebalkan!” keluh Aishe dengan nada yang sedikit ketus.
“Iya,” jawab Diego singkat sembari menurunkan tubuh sang istri dengan hati-hati. lalu setelah itu, dia mulai melepas underwear yang dipakai, hingga tidak ada satu kain pun yang menempel di tubuhnya.
“Kenapa … kamu sangat cantik?” kata pria yang membelai pelipis sang istri dengan tatapan penuh kasih.
“Jadi, aku cantik hanya saat tidak memakai apa pun seperti ini?” sahut Aishe nampak kesal.
Diego terdiam sesaat, lalu menurunkan tangannya, memegang dagu Aishe dan mengangkatnya agar dia dengan mudah mengecup bibir sang istri.
Cup! Cup!
Diego menarik garis sudut bibirnya hingga senyumnya terlihat jelas. Entah apa alasannya, pria itu selalu merasa puas dan senang saat berhasil menggoda istrinya hingga tersipu malu seperti saat ini.
Ini bukan kali pertama Diego membantu istrinya untuk mandi. Sejak kehamilan wanita itu memasuki bulan ke tujuh, Aishe sudah mulai kesusahan membungkuk. Hal itu diketahui Diego saat dia diam-diam masuk untuk menggoda istrinya yang sedang mandi.
Sejak saat itu pula, ia sering menyempatkan diri untuk membantu sang istri mandi hampir setiap harinya. Entah itu sebelum atau sesudah pulang dari bekerja, dia selalu menyempatkan waktunya.
Gerakan tangannya semakin hari semakin lembut, bahkan saat pria itu membantunya menggosok punggung dengan tangan besarnya. Bahkan, Aishe sempat beberapa kali tertidur di kamar mandi. Yah, sama seperti sekarang.
Pada akhirnya, Diego membopong Aishe tanpa membangunkannya. Bahkan memakaikannya baju dengan hati-hati agar istrinya tak terbangun.
__ADS_1
“Aku mencintaimu, Ishe-ku,” ucap Diego sebelum menorehkan kecupan manis di kening sang istri yang baru saja ia rebahkan di tempat tidur.
“Emm … aku juga, Die.”
Kedua mata Diego terbelalak. Ia terkejut. Lantaran sang istri yang ia kira tertidur dengan nyenyak, rupanya masih bisa menjawab ucapannya meski dengan mata yang tertutup. Mengigau? Itu mungkin. Namun ….
“Belum tidur?”
“Aku hanya menutup mata sebentar. Siapa yang mengira aku tidur?”
“Ah ….”
Diego hanya tertegun setelah mendengar jawaban sang istri. Dia tidak bisa berkata apapun, hanya menggigit bibir bawah, menahan rasa kesal dan gemas pada Aishe yang membalikkan badannya setelah berkata demikian.
Aku akan membiarkannya tidur beberapa jam. Benar, hanya beberapa jam saja, sebelum mengajaknya berduel!
... ☆TBC☆...
Galeri isinya babang Die 🤣 pak su sampe jelous. 🤭
Lanjut besok lagi Upnya 😚😚 jangan lupa jempolnua di goyang 😌
__ADS_1