
"Die, turunkan aku!" Aishe mencoba memberontak, tetapi Diego tidak peduli.
Dia terus berjalan membopong sang istri masuk ke dalam kamar pengantin mereka. Begitu sampai di depan, dua orang penjaga terlihat membantu Diego membuka pintu. Diego pun masuk dengan leluasa, naik ke lantai atas, lalu menurunkan sang istri di atas ranjang.
"Aahh!" teriak Aishe yang tubuhnya baru saja diletakkan dengan hati-hati oleh sang suami.
"Kau mengganggu pesta dan–"
Belum sempat Aishe meneruskan kalimatnya. Diego sudah membungkam dengan sebuah kecupan manis. Benar, maksud hati ingin memberikan kecupan manis sesaat, tapi setelah ia mencumbu sang istri, rasa manis bibirnya justru menaikkan hormon oksitosin.
Aishe seolah tak terima dengan respon mendadak dari Diego, langsung melayangkan beberapa tinjunya di dada bidang sang suami. Berharap Diego bisa melepas ciumannya, tetapi pria itu malah memperdalamnya. Sampai akhirnya, Aishe yang diselimuti rasa kesal langsung menggigit bibir Diego.
"Aahhh! Ishe?" keluh Diego kesakitan setelah melepaskan ciumannya.
"Kenapa, sakit?" ledek Aishe dengan sorot mata tajam.
Penolakan sang istri, juga ekspresi wajahnya, secara jelas bisa ditebak oleh Diego, bahwa Aishe sedang kesal. Namun, pria berjas putih itu tidak mengerti alasan di balik ekspresi wajah Aishe.
"Ada apa denganmu? Kamu masih marah soal Ashan dan Guzel?" tebak Diego asal.
Mendengar tebakan Diego, Aishe justru semakin kesal. Jelas-jelas saat berdansa tadi, mereka masih saling berkata romantis. Jelas sekali jika Aishe tidak mempermasalahkan tentang lamaran Ashan yang menurut Diego justru sama sekali tidak romantis.
Dasar pria, tidak bisa peka! Aishe yang sehak tadi duduk bersandar, langsung melipat kedua tangannya dan membuang muka.
"Ishe … ada apa denganmu?" tanya Diego berusaha mendapatkan jawaban. "Aku sudah meminta maaf padamu tadi," lanjut Diego.
__ADS_1
Namun Aishe yang masih diselimuti rasa kesal dan cemburu, masih tidak ingin merespon sang suami. Hingga beberapa menit mereka diam dalam keheningan, barulah Aishe berbicara dengan ketus.
"Kenapa kau masih disini? Pergi temui teman masa kecilmu itu!"
Mendengar ucapan Aishe yang terdengar sedikit ketus, Diego langsung menebak, jika sang istri ternyata sedang cemburu. Bukannya khawatir, dia justru menaikkan dua sudut bibirnya. Dengan senyum menawan, ia menyandarkan keningnya di dada sang istri.
"Aahh … istri tercintaku sedang cemburu rupanya," goda Diego. "Kamu hanya salah paham, Sayang. Percayalah!"
"Bulshit!"
Diego mengangkat kepalanya, lalu mengulurkan tangan memegang dagu Aishe dan mencoba membuat gadis itu menoleh padanya.
"Lihat aku sebentar," pinta Diego lembut, tak terdengar seperti perintah, yang akhirnya membuat Aishe menurut dan menatap wajahnya.
"Kau menipuku! Aku jelas melihat betapa mesranya kalian saat berdansa tadi."
Tangan yang berada di dagu Aishe, kini berpindah secara perlahan. Dengan lembut jemari itu bergerak mengusap usap pipi sang istri.
"Aku tidak menipumu, Sayang," kata Diego. "Dia sedang mengejar kakakmu."
Mendengar ucapan Diego, tentu saja dia terkejut. Bagaimana bisa dia mengejar Rehan? Sedangkan yang Aishe lihat tadi, jelas-jelas Emine sedang menggoda Diego.
"Apa buktinya?"
Tepat pada saat itu, bunyi 'Ting' dari ponsel yang ada di saku Diego membuat pria itu segera mengeluarkan ponselnya. Rupanya, itu berasal dari pesan grup yang terdiri dari keempat Tangan Kanan Diego.
__ADS_1
Sebuah kiriman foto dari Eraz masuk, dan berhasil membuat Diego penasaran. Pada saat Diego membuka pesan dan melihat foto yang dikirim Eraz, dua sudut bibir Diego meninggi. Dengan cepat dia menunjukkan foto yang baru saja dia lihat pada Aishe.
"Lihat! Eraz baru saja mengirim foto di grup," ucap Diego saat menunjukkan foto Emine mencium Rehan di depan umum.
"Kalian tidak sengkongkol kan?"
Aishe jelas tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dipikir-pikir, kakak angkatnya itu pendiam dan tidak banyak bicara, terutama dengan seorang wanita. Jelas saja hal yang dilihatnya itu sangat sulit ia percaya.
Namun Aishe masih cukup penasaran. Dengan cepat ia mengambil ponsel Diego, lalu melihat dua orang sedang berciuman itu sedetail mungkin.
"Ini tidak mungkin Rehan yang memulai duluan kan?"
"Jelas bukan. Liat, tangan Emine meraih kedua pipi Rehan. Sudah jelas dia yang mencium Rehan lebih dulu," Diego kekeh menjelaskan jika yang disukai Emine adalah Rehan, bukan dirinya.
Merasa kesal lantaran Diego bisa menjelaskan, Aishe hanya bisa menghela napas kasar sambil mendengus, lalu membuang ponsel Diego ke ranjang.
"Oke, aku hanya bisa percaya kali ini!" ucap Aishe. "Tapi ini bukan –" Lagi-lagi, belum sempat Aishe meneruskan kalimatnya, Diego sudah lebih dulu membungkam bibir sang istri dengan kecupannya.
"Jangan mengusirku malam ini! Aku sungguh tidak bisa tidur tanpamu," mohon Diego lembut, yang pada akhirnya berhasil membuat Aishe luluh.
"Kali ini, aku memaafkanmu!"
...☆TBC☆...
__ADS_1