Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 123


__ADS_3

Lilin lilin menyala di antara bunga mawar merah dan putih. Balon-balon menghiasi langit-langit dan lantai. Ada kue, ada aneka kudapan, dan juga setumpuk hadiah yang tersusun rapi dari berbagai merek ternama. Entah, berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk menghias semua ini.


Mata Aishe tiba-tiba basah, bahkan bulir bening itu menetes keluar dari sudut matanya, jatuh membasahi pipi putih dan mulus.


Diego dengan cepat berlutut di depan Aishe, mengambil seikat bunga dan kotak cincin. "Hiduplah bersamaku, selamanya," ucapnya penuh ketulusan.


Aishe menatap kedua mata Diego sangat berbinar, dengan senyum yang paling menawan dan wajah yang mempesona.


Bulir air bening di matanya kembali menetes, ia mengangguk dengan cepat. "Iya, iya aku mau!" Serunya lantang penuh dengan kegembiraan yang langsung disambut tepuk tangan dari Mustafa dan yang lainnya.


Diego memasangkan sebuah cincin di jari manis Aishe. Cincin berwarna merah darah dan kilau yang luar biasa, membuatnya hampir mustahil untuk percaya bahwa alam dapat menciptakan karya yang begitu sempurna seperti ini. Dinamakan The Sunrise Ruby, sebagai salah satu rubi paling berharga dan mahal di seluruh dunia dengan 25,59 karat.



Namun sayangnya, Aishe tidak bisa menebak harganya. Dia hanya sangat bahagia dengan setiap kata yang Diego ucapkan barusan.


Diego sekonyong-konyong bangkit, lalu mengecup kening sang Istri. "Aku menyayangimu, Istriku!" Perkataannya terdengar lirih, namun setiap kata yang keluar terdengar cukup tulus.


"Sepertinya kita perlu mendaftarkan pernikahan mereka," ucap Eraz pada Ashan.


"Kita punya nyonya sekarang!" timpa Emmil.


Diego dan Aishe yang saling memeluk pun, akhirnya menghadap ke arah mereka semua. "Tidak perlu!" ucap Diego yang menautkan tangannya di pinggang Aishe.


"Aku sudah mengurusnya 2 bulan lalu!" lanjut Diego yang kemudian menatap Aishe.


Pernyataan itu jelas membuat semua orang yang ada di sana terbengong, kecuali Mustafa, yang memang sudah tahu sejak awal. Ashan dan Emmil pun saling menoleh, Eraz ternganga dengan tampang terkejut. Sedangkan Rehan, ia hanya mendengus dan bersedekap tangan.

__ADS_1


Lain dengan mereka semua, Bibi Nie dan Guzel justru saling memeluk, turut merasakan kebahagiaan mereka.


"Baiklah, ayo kita mulai pestanya!" Seru Diego membuyarkan ekspresi terkejut mereka.


"Tunggu! Apa aku boleh ganti baju dulu? Kalian semua memakai baju rapi. Sedangkan aku …." Aishe mengembangkan baju tidurnya.


"Baiklah." Diego mengusap ubun-ubun istrinya. "Pakailah sesuatu yang nyaman, jangan menggunakan high heels," lanjutnya.


"Iya iya." Aishe memandang Diego untuk sesaat. Lalu, ia mengajak Guzel untuk menemaninya mengganti baju. Setidaknya, dia harus berpakaian cantik malam ini.


Aishe membuka pintu walk in closet, mencari dreas indah yang sesuai dengan tema malam ini. Setelah berhasil mendapatkan miliknya, ia mencari satu dress lagi untuk Guzel.


"Guzel, pakailah ini!" Aishe menempelkan dress indah itu di tubuh Guzel. Dia merasa dress yang ia pilih sangat pas untuk Guzel.


"Ti-tidak, Nona. Gaun ini milik Anda, bagaimana saya bisa memakainya?" Guzel buru-buru mendorong dress yang ditempelkan Aishe pada tubuhnya.



Tidak sampai setengah jam sejak mereka meninggalkan mereka dan pergi ganti baju. Aishe, dengan dress putih yang menjuntai indah, lipstik merah yang di poles di bibirnya, berjalan menghampiri Diego.


Sedangkan Guzel dengan dress merahnya, berhasil mengikat pandangan mata Ashan untuk sesaat. Guzel yang di tatap Ashan begitu lekat, menjadi gugup, hingga membuatnya buru-buru menghampiri sang ibu.


"Nyonya Aishe memberiku ini. Apa aku terlihat cantik, Bu?" Guzel berbisik pada sang ibu.


"Sangat cantik, Nak. Nyonya sangat baik, mereka terlihat serasi," jawab Bibi Nie.


Aishe mengulurkan tangannya, sudut bibir yang merekah itu terhias di wajahnya. "Bolehkah aku berdansa denganmu, Suamiku?"

__ADS_1


Dengan senang hati Diego meraih tangan sang istri, lalu berdansa mengikuti irama musik yang baru saja dinyalakan Eraz.


Melihat para anak muda begitu antusias, Mustafa pun berjalan menghampiri Bibi Nie dan mengajaknya berdansa. Bibi Nie pada awalnya menolak, tetapi Mustafa dengan cepat menyakinkannya.


Ashan yang sudah terlena dengan kecantikan Guzel, juga tak mau kalah dengan tuannya. Dia berjalan mendekat, tanpa rasa gugup, menghampiri Guzel dan mengajaknya berdansa.


"Sa-saya tidak bisa berdansa, Tuan," ucap Guzel gugup.


"Aku akan mengajarimu!"


Guzel yang pada awalnya ragu, akhirnya meraih tangan Ashan dan ikut berdansa bersama ketiga pasangan yang lebih dulu menari dengan bahagia.


Melihat semua orang berbahagia, entah kenapa Emmik yang selama ini tinggal di Barak, menjadi lega. Hatinya terasa hangat, meski hanya melihat mereka berbahagia dan bersantai untuk hari ini. Sampai, telinganya mendengar Eraz dan Rehan berdebat.


"Ayo, berdansalah denganku!" seru Eraz membujuk Rehan agar mau berdansa dengannya.


"Tidak!" ketus Rehan.


"Aku yang melakukan gerakan wanita. Ayolah, suasana sudah seromantis ini!" bujuk Eraz.


"Jangan konyol! Aku masih normal!"



Cie cie, Bang Ashan gercep liat cewek beningan dikit 🤣🤣🤣🤣 Gitu dong Bang. Sat set das des, gercep. Jangan mirip Tuanmu yang ... mau ungkapin perasaan aja mbuleti 🤣🤣


Sawerannya ... setangkai mawar dan kopi seperti biasa 💋💋

__ADS_1


Buat yang baru maraton, baru baca dan ngikutin Kay, salam kenal ya 💕💕 Maklumi kalau Othor sedikit gesrek, karna memang sudah begitu 🤣🤣


__ADS_2