Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 129


__ADS_3

Apa mereka akan selamat? Tidak, mereka harus selamat!


Mobil sedan dengan logo Audi itu melaju dengan cepat di kegelapan malam. Aishe sesekali mengusap perutnya, mencoba menenangkan janin kecil yang mungkin sedikit terkejut dengan kejadian barusan, meski tangannya sendiri juga gemetar.


Mustafa sibuk mengemudi, mata tuanya berusaha fokus ke depan melihat jalanan dengan penerangan yang minim. Tangan yang sudah berkerut itu menggerayang saku, tetapi percayalah, tangan itu masih cukup tangkas memegang pistol. Lalu sebuah ponsel ia keluarkan dari dalam.


"Jemput aku di dermaga 15 men –" belum sempat Mustafa meneruskan ucapannya. Deru tembakan terdengar cukup keras, membuatnya terkejut hingga ponsel itu lepas dari genggamannya.


"Dam'nt! Pria brengsek itu masih belum puas juga!" Mustafa memukul stir kemudi, lalu mengambil pistol di atas dasbor.


Namun tangan Mustafa kurang gesit, Aishe yang sejak tadi memegang senjata hasil rampasan dari Rehan, langsung membuka kaca dan mulai menembaki dua mobil di belakang mereka.


"Hati-hati, Nak!" seru Mustafa kembali fokus mengendalikan laju mobil.


Satu pistol dirasa kurang memuaskan. Aishe dengan cepat melepas seat belt, mengambil pistol milik Mustafa. Tanpa rasa takut, ia mengeluarkan setengah badannya ke jendela dan mulai memberondong dua mobil hingga satu mobil berhasil terbalik.


Aksi saling menembak masih berlanjut. Kini pelurunya berhasil melukai seorang penembak yang keluar dari sunroof mobil mereka. Namun sayang, demi membidik pria itu, lengan Aishe harus berserempetan dengan peluru dari musuh hingga membuat ia kehilangan satu senjatanya.


"Aahh …." Rintihnya kembali masuk ke dalam mobil.


Mustafa langsung menoleh, menatap lengan Aishe yang berdarah akibat tergores peluru, amarahnya langsung mencuat.


"Pegangan yang erat!" Serunya lantang.


Dengan cepat Mustafa menarik tuas rem, bersamaan dengan pedal rem dan memutar kemudinya hingga mobil itu berkelok. Hanya dalam beberapa detik, ia mengeluarkan pistol dan menembak ke kaca samping pengemudi.

__ADS_1



Mobil itu langsung berkelok tajam dan menghantam pembatas jalan, lalu terguling beberapa kali.


Melihat itu mobil itu terguling, Aishe memandang Mustafa. Melihat ayah angkatnya menaikkan satu sudut bibirnya, tiba-tiba membuat perasaannya lega.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, hingga sekitar 20 menit, mobil mereka sampai di dermaga Silivri Sahil, di kawasan Piri Mehmet Pasa.


Beberapa orang pria berkemeja hitam dengan gestur tubuh besar dan tinggi, sudah menunggu di depan sebuah boat.


Mustafa keluar dari mobil lebih dulu, lalu menghampiri Aishe dan memapahnya.


"Kita mau kemana, Ayah?" tanya Aishe melihat keadaan sekitar yang cukup sepi. Mungkin karena ini sudah lewat dini hari.


"Pergi merawat lukamu!"


"Percayalah, mereka akan segera menemukan kita. Aku sudah menyuruh orang-orangku untuk berjaga di sini."


Aishe menatap Mustafa ragu, benarkan dia menyuruh orang untuk menunggu mereka? Atau, benarkan ayah angkatnya ini orang baik?


Hatinya sedikit bimbang, tapi sorot mata Mustafa terlihat begitu tulus.


Seorang pria yang tadi sempat terlihat berbicara di telepon, perlahan ia mendekat ke arah Mustafa yang berdiri di ujung dermaga memandang Aishe.


"Tuan, bala bantuan sudah tiba!"

__ADS_1


Ucapan pria itu membuat Mustafa menarik napas lega, lalu ia menaikkan kedua sudut bibirnya dan mengangsurkan tangan.


"Percayalah dengan suamimu. Dia pria yabg kuat dan hebat."


Aishe menatap sorot mata pria tua iku lekat-lekat, sebelum akhirnya ia meraih tangannya dan naik ke atas speed boat.


Aishe mendongak ke atas, menatap bulan bersinar terang di pertengahan musim semi. Ia tiba-tiba teringat, adegan pada saat ia terjatuh dari atas kapal. Laut yang dingin, angin sepoi-sepoi yang berhembus, perlahan menusuk kulit hingga tertembus tulangnya.


Dia melihat ke bawah, menatap nanar gaun putihnya penuh darah dan sudah kotor. Lalu menatap kakinya yang ternyata terluka cukup parah dan baru ia sadari.


Perjalanan di atas speed boat kiranya hanya memakan waktu setengah jam. Hingga boat itu menepi ke bagian belakang sebuah kapal pesiar mewah. Sangat mewah sehingga ia tidak bisa memperkirakan harganya.


Dari bawa saja, dia bisa melihat gemerlap lampu yang menyala begitu indah. Entah berapa banyak lantai yang dimiliki kapal ini.


Mustafa turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan membantu Aishe. Sebuah selimut hangat langsung mendarat di tubuhnya, begitu ia turun dari sana.


"Suruh dokter merawat kakinya untuk segera!" ucap Mustafa kepada seorang pelayan.


Dibantu seorang pelayan wanita, Aishe di bawa naik ke lantai ke dua melewati tangga di bagian dalam pantai pertama, yang langsung menembus ruang makan disamping kolam renang di lantai kedua.


Sebenarnya, seberapa kaya ayah angkatku ini?



Sebelum baca Bab baru, Bab lama jangan lupa di Like 😌

__ADS_1


Sajen mana sajen!!!!


Masih pagi tapi udah 2 bab nih. Jangan bilang kurang mulu tapi gak pernah kasih sajen 😒


__ADS_2