Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 82


__ADS_3


Setelah tertidur selama beberapa hari, Eraz akhirnya membuka mata tepat di hadapan Rehan. Pria itu sudah 2 hari ini fokus menjaga Eraz, kantung matanya bahkan terlihat cukup jelas. Bisa di tebak, dia tidak tidur sejak Eraz mengalami kecelakaan.


"Kau bangun juga, Idiot?" katanya kasar.


Eraz belum mampu menjawab dan hanya mengedipkan mata sebagai bentuk kekesalannya. Melihat Rehan yang beberapa kali mengatainya 'idiot' dan 'bodoh', sebelum akhirnya dia pergi memanggil Dokter Hakan dan melapor pada Diego.


"Kondisimu sudah jauh lebih baik. Dua, tiga hari lagi, kau sudah bisa buat anak." Dokter Ha menjelaskan dengan sangat-sangat detail.


"Berapa lama untuk rambutku?"


Itu adalah kalimat pertama yang Eraz ucapkan setelah sadar, lalu meminta cermin pada perawat. Benar, karena cedera kepala dan harus di operasi, setengah rambut kepalanya di cukur habis. Hanya setengah, dan setengahnya lagi masih lebat. Pantas jika dia protes.


Aku akan usul ke Diego, biarkan rumah sakit ini punya hairstyles! Setidaknya kepalaku bisa di cukur dengan modis!


"Hentikan omong kosongmu itu! Minta Rehan membelikanmu penumbuh rambut atau wig!" Dokter Ha melenggang pergi meninggalkan Eraz sendirian.


Setelah dia pergi, Rehan yang baru saja menghubungi Ashan pun masuk ke kamar. Melihat Eraz sudah bisa duduk bersandar dengan sudut 150 derajat, dia pun menghela napas lega. Dia dapat menebak, jika kondisi Eraz sudah jauh lebih baik, karena Dokter Ha tidak mungkin membiarkannya berbaring seperti itu jika kondisinya parah.


"Kau menghubungi tuan?" Eraz menoleh menatap Rehan yang justru terlihat acuh.

__ADS_1


"Dia menanti kamu bangun!"


"Berhentilah bersikap konyol dan egois! Kamu hanya tidak ingin mereka terus bersama kan?"


Rehan menelan salivanya. Dia memang tidak suka mereka bersama, jadi ketika Eraz bangun, Rehan memiliki kesempatan untuk melihat siapa yang dipilih tuannya. Namun dia sendiri tidak menyangka, jika Diego akan memilih pergi menemui Eraz dan meninggalkan Aishe.


"Aku tertidur, tapi jangan kira tidak mendengar semuanya, Rehan!" Eraz terlihat marah dan kesal.


"Atas dasar apa kamu marah dan menentangnya? Demi dendam kita? Kau takut tuan melupakan dendam kita untuk menghancurkan Maximo dan antek-anteknya?" Eraz menatap tajam melihat Rehan.


"Atau … kau marah karena dia melupakan nona Lyra? Wanita yang sempat kau suka?"


Kedua mata Rehan langsung terbelalak mendengar ucapan Eraz. Dia bahkan langsung menoleh, memperlihatkan wajah gugup kepada Eraz. Perasaan terpendam yang sudah 10 tahun dia simpan, bagaimana Eraz tahu?


"Apa kau pikir dia orang bodoh? Dia tidak tahu ketika kau diam-diam menatap Nona Lyra? Bahkan datang ke pulau sendirian dan merenung sepanjang waktu?"


Mati kutu! Rehan diam tanpa bisa mengelak lagi. Semua perkataan Eraz memang benar adanya, tapi … benarkah Diego mengetahui perasaannya pada Lyra? Lantas, kenapa dia tidak membunuhnya?


Rehan bangkit dengan kursinya dengan segera sambil berkata dengan lantang, "Ya aku memang menyukai Nona Lyra. Tuan sudah tahu, kenapa dia tidak membunuhku?"


"Apa kau bodoh? Bodoh sampai gak bisa berpikir? Dia menganggap kita sebagai saudara! Bahkan jika kita melakukan kesalahan fatal, dia tegap membiarkan kita bernapas!"

__ADS_1


Penjelasan Eraz seakan membuka mata hati Rehan lebar-lebar. Pikirannya tiba-tiba menjelajahi beberapa memori yang lama terpendam, tentang beberapa kesalahan, juga perdebatan di antara mereka.


Diego bukan orang ramah ketika mereka pertama kali bertemu, dan mereka cukup takut berdebat dengannya. Akan tetapi sejak kematian Lyra, mereka sering berdebat, dan Diego tidak pernah menunjukkan amarahnya. Diego hanya pergi dan menghindar, sama seperti saat mereka berdebat tentang hubungannya dengan Aishe.


Namun Rehan masih cukup egois. Jika dia bisa bertahan dalam kesetiaan, kenapa Diego tidak bisa?


"Lyra baru saja pergi, kenapa dia dengan mudah jatuh cinta lagi?" gumamnya lirih, tapi cukup jelas terdengar oleh Eraz.


"Yang pergi sudah pergi, tapi yang hidup masih punya hari esok, masih punya kehidupan, masih punya jalan cinta yang panjang. Kau hanya belum bertemu dengan wanita yang bisa merubah sudut pandangmu, Rehan!"


"Kau terlalu gigih membela wanita itu!" Rehan masih enggan untuk berdamai.


"Tidak! Aku hanya tidak ingin ikut campur dengan kehidupan asmaranya, selagi dia bahagia. Kamu tidak tahu, diantara kita semua, dialah yang paling menderita dan berjuang!"


"Sudahlah! Aku lelah. Kau sudah bangun, aku bisa pulang dan tidur!"


Antara malas untuk berdebat, atau Rehan sudah tidak bisa mencari alasan untuk mengelak lagi. Namun diantara dua alasan itu, Rehan sedikit demi sedikit mau mencoba untuk mengerti.



Sudah hari minggu, masih semangat dong yaa?

__ADS_1


Masih pagi udah 2 bab nih, jadi jangan lupa jempolnya di goyang. 💋💋


__ADS_2