
Diego berdiri di depan kaca membetulkan kerah bajunya, ketika suara ketukan pintu dengan jelas terdengar di telinga, bersamaan dengan suara berat Ashan yang sedang memanggil namanya. Mendengar suara anak buah andalannya, Diego langsung menyuruhnya masuk tanpa banyak basa-basi.
"Anda berdiri lagi, Tuan?" protes Ashan mengingat kaki Diego yang sempat melemah minggu lalu.
"Masih pagi sudah berisik sekali! Ada apa?" Diego melirik, menatap wajah Ashan yang perlahan datar.
Namun Ashan yang di lirik seperti itu justru diam terpaku untuk beberapa saat. Pandangannya datar, tetapi sedikit menerawang jauh ke depan. Berpikir tentang wajah tuannya yang berseri. Lalu, seulas senyum tiba-tiba lolos dari wajahnya.
"Kau menertawakan aku?" Diego membalikkan badannya menghadap Ashan, kemudian berkacak pinggang.
"Ti-tidak, Tuan. Saya hanya … sedikit berpikir."
Diego menurunkan tangannya kemudian duduk di kursi roda. Sepertinya, moodnya hari ini sedikit menghangat, tidak seperti cuaca di luar yang dingin, sehingga ia dengan mudah mengacuhkan ucapan Ashan.
Pria yang sudah sejak lama mengikuti Diego itu pun, tidak memikirkan hal aneh. Dia tentu bisa menebak mood tuannya dengan mudah.
"Suruh pelayan menyiapkan sarapan. Biarkan dia makan sebelum berangkat," ucap Diego ketika Ashan mendorong kursi rodanya keluar dari kamar.
"Nona Aishe sudah berangkat bekerja sejak tadi, Tuan?"
__ADS_1
Ekspresi wajah Diego seketika berubah. Ia menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan cepat. Suasana disekitarnya pun turut berubah menjadi dingin. Bahkan lebih dingin dari pada cuaca diluar.
Dia sudah berangkat? Bahkan tanpa sarapan? Ashan pasti memberinya banyak tekanan. Dasar pria sialan!
"Dia sudah berangkat?" tanya Diego.
"Iya, Tuan. Kami berpapasan ketika di pintu." Tanpa ada rasa curiga, Ashan menjawabnya dengan santai.
Kami? Sejak kapan kalian begitu akrab?
Kening Diego mengkerut, hampir menyatukan kedua alisnya. Seulas senyumnya pudar, seri di wajahnya pun menghilang.
Ashan tersentak kaget. Bagaimana tidak, Asitane termasuk salah satu restoran mewah yang memang menjadi langganan Diego. Namun, lokasi tempat itu berada di daerah Maslak. Butuh sekitar 1 jam setengah untuk bisa sampai di sana, jika pulang pergi, setidaknya 3 jam.
Pria itu bukannya mengeluh, dia justru berpikir lebih jauh. Diego sendiri bukan pria yang suka membuang-buang waktu untuk hal yang tidak penting. Pasti ada hal lain hingga ia melakukan hal demikian, misalnya … cemburu.
Ashan pun tidak kekurangan ide. Demi bisa membawa pulang satu hidangan yang masih hangat dari restoran Asitane, ia mengeluarkan salah satu kendaraan koleksi Diego.
Setelah Rehan datang menjemput Diego. Ashan dengan cepat merogoh sakunya dan menghubungi seseorang. Tidak sampai sepuluh menit, sebuah helikopter terbang rendah dan turun di halaman belakang rumah.
Helikopter Eurocopter EC175 juga dikenal sebagai Airbus H175 adalah helikopter utilitas kelas menengah yang dibuat oleh Airbus Helicopters. Helikopter ini mampu menjelajah dengan kecepatan 300 KM/jam, sesuai dengan harganya yang mampu mencapai 7,9 Juta dolar AS. Oleh sebab itu, helikopter ini menjadi salah satu aset berharga Diego.
__ADS_1
Di lain sisi, Rehan mengemudi dengan kecepatan sedang, memastikan agar Diego nyaman duduk di kursi belakang.
"Tuan, apa Anda mengirin Ashan ke Yunani lagi?" tanya Rehan yang sedikit heran, karena tidak biasanya Diego minta untuk di kawal pergi ke kantor.
"Tidak. Dia hanya pergi beli sarapan."
Sarapan?
BIN masih ramai dan sibuk seperti biasanya, terutama saat pagi hari seperti ini. Namun meski sibuk, mereka tetap memberi hormat saat Diego datang. Bukan menjadi hal yang aneh, walau pria itu duduk di kursi roda dan telah lama lengser dari jabatannya, tetapi karisma kepemimpinan masih melekat cukup kuat.
Diego dan Rehan melenggang begitu saja masuk ke dalam lift, kemudian pergi ke ruang kerjanya. Pria itu baru saja masuk, dan seorang wanita langsung datang memberi secangkir coffee. Namun sebelum wanita itu berhasil melewati ambang pintu, seseorang datang merebut nampan yang dia bawa.
"Selera kakak masih sama seperti dulu."
Seorang wanita berdiri berdiri di hadapan Diego, meletakkan cangkir coffee di atas meja kerjanya. Rambutnya kecoklatan terurai bebas, warna bola matanya pun senada dengan rambutnya. Riasan deep mate dan lipstik merahnya, memberi kesan dewasa padanya.
Call Me Yura, By AG Sweetie. Salah satu novel paporit Othor nih. Jangan sampai lupa mampir.
__ADS_1