Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 117


__ADS_3

Aishe –


Tidak masalah jika kami harus tinggal di jalanan, tidak masalah karena kita bersama. Namun kau memilih pergi dengan paksa, membawa seluruh keegoisanmu. Kau meninggalkan seorang anak perempuan yang masih membutuhkanmu.


Kau, ayah terjahat!



Diego mendorong tubuh Aishe sedikit menjauh, agar ia bisa menghapus semua bulir air mata yang menetes membasahi pipi sang istri.


"Jangan menangis lagi," bujuknya. "Kau punya aku sekarang. Punya janin, yang harus tumbuh sehat agar bisa lahir."


Sudut-sudut bibir Aishe terangkat perlahan. Perkataan Diego memang benar, dia telah mempunyai seorang suami, juga calon anak yang harus dia perhatikan kesehatan dan pertumbuhannya.


"Jangan pergi, Die. Jangan pernah meninggalkanku seperti dirinya." Aishe kembali memeluk Diego. Mendendekapnya dengan sangat erat.


"Tidak akan, tidak akan pernah!" jawabnya bersungguh-sungguh.


"Kamu sudah berjanji, Die."


"Iya, aku sudah berjanji. Apa, aku perlu mundur dari kursi presdir lagi sekarang? Aku bisa menemanimu setiap saat."


Jawaban Diego berhasil membuat mood sang istri kembali lagi. Aishe dengan kuat mendorong tubuh Diego, lalu memukul dada bidang sang suami sedikit lebih kuat.


"Kamu mau bercanda denganku, hah? Aku sedang berbicara serius!"


Tinju demi tinju dilayangkan Aishe ke tubuh sang suami, tapi pria itu hanya diam, tidak menghindar atau melawan. Diego justru tertawa menerima pukulan yang penuh cinta itu.

__ADS_1


Aishe masih memukuli Diego, saat seseorang mengetuk pintu kamar rawat inap mereka dan masuk ke dalam. Dua orang yang sedang bercanda di atas ranjang tentu langsung menoleh.


"Kalian ini, sudah tua masih seperti anak kecil!" Mustafa berjalan mendekat menghampiri mereka.



Melihat Mustafa mendekat, Diego segera bangkit dan berdiri di samping Aishe. Pria berwajah datar dengan segala kekuasaan itu ternyata cukup menyegani Mustafa sebagai teman baik sang ayah, juga gurunya semasa kecil.


"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?" tanya pria tua dengan rambut yang hampir sepenuhnya memutih.


"Sudah lebih baik, terima kasih sudah menolong kami." Aishe memandang Mustafa penuh hormat. "Apa … aku boleh memanggil anda Ayah?" tanyanya tiba-tiba membuat dua orang pria itu saling memandang untuk sesaat.


"Sepertinya, sudah tidak ada rahasia lagi di antara kalian?" Mustafa mengangkat dua sudut bibirnya, memandang Aishe yang juga tersenyum, lalu memandang Diego yang mengangguk.


Mustafa dengan lembut meletakkan tangan kanannya di ubun-ubun Aishe, lalu meniup sebanyak 3 kali. "Kamu boleh memanggilku ayah, sesuai dengan kemauanmu, Nak."


"Aku punya ayah, Die! Aku punya ayah sekarang!"


Setelah mengatakan hal itu dengan raut wajah bahagia, Aishe kembali menatap Mustafa yang melepaskan tangannya dari kepala Aishe.


"Apa aku boleh memeluk Anda … Ayah?"


"Tentu saja, Anakku!"


Aishe dengan bahagia turun dari ranjang. Ia sempat mengambil tangan kanan Diego dan menggenggam, lalu ia memeluk Mustafa.


"Kau anak baik, Aishe … maksudku, Ishe." Mustafa dengan lembut membelai ubun-ubun kepala Aishe. Sedangkan Aishe tersenyum dengan bahagianya.

__ADS_1


Rasa rindu selama belasan tahun, hari ini terbayar lunas dengan kehadiran Mustafa. Pria tua yang Diego pilih untuk menjadi ayah angkat dari sang istri, yang nantinya akan menghidupkan kembali sosok ayah dalam hidupnya.


"Dokter bilang kau harus banyak istirahat!" Diego menarik tangan Aishe yang sejak tadi menggenggam tangannya, membuat gadis itu melepaskan dekapannya dari Mustafa.


"Aku sudah istirahat sejak tadi!" protes Aishe menatap wajah datar Diego.


"Diego benar, Nak. Berbaringlah, kau baru saja mendapatkan transfusi darah." Mustafa mencoba membujuk Aishe dengan lembut.


"Baik, Ayah!" jawab Aishe antusias, dan langsung naik ke ranjangnya.


Melihat respon sang istri yang langsung menurut ketika Mustafa berbicara, ia hanya bisa menghela napas kasar.


Sepertinya, istri kecilku ini akan lebih menurut pada ayahnya. Aku harus membuat mereka agar tidak terlalu sering bertemu setelah ini!


"Ishe, sepertinya ada hal yang belum aku beritahu padamu." Diego menatap Aishe yang justru tersenyum pada Mustafa.


"Apa?" jawabnya singkat.


"Paman Mustafa, ayahnya Rehan!"


Aishe sontak menoleh, menatap Diego yang sejak tadi sudah memandangnya.



Pagi pagi udah cerah ... hemmm


Diego lagi nunggu kopi dan kembang dari Readers nih 🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2