Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 75


__ADS_3

Aishe masih terus kepikiran akan alasan Diego yang tiba-tiba memindahkannya, bahkan sehari setelah mereka saling mengungkapkan. Akankah itu ada hubungannya dengan Malva yang dibawa Eraz?


Aishe menatap nanar sup asparagus yang ada di hadapannya. Pandangannya kosong, menembus jauh ke arah mangkuk. Tangannya sesekali mengaduk, lalu mengambil sedikit sup dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Supnya tidak enak?"


Pertanyaan Diego berhasil mengalihkan perhatiannya. Dia menoleh dengan spontan, menatap pria yang duduk di sampingnya.


"Eemm. Kenapa?"


Mendengar respon Aishe, Diego hanya menghela napas kasar, kemudian menggetok kepala Aishe dengan lembut. "Melamun lagi!" keluhnya kesal, langsung membuat wanita di hadapannya memanyunkan bibir.


"Memikirkan apa? Sampai makan pun masih bisa melamun."


"Aku tidak melamun." Aishe mengaduk sup yang sudah lama dingin. Lalu mengambilnya sesendok dan bersiap memakannya. Namun, Diego dengan cepat menghentikan tangan Aishe.


"Sudah dingin, jangan dimakan!" Diego merebut sendok dan meletakkannya ke dalam sup, kemudian menyuruh seseorang untuk mengambilkan sup baru yang masih hangat.


"Supnya hanya dingin, kenapa harus mengganti dengan yang baru?" Aishe protes, ia merasa 'sup dingin' bukan masalah yang serius.


"Musim sudah berganti, setidaknya buat perutmu hangat," ucap Diego sembari mengambil sesuap sup hangat yang baru di sajikan oleh maid.


Dia mencicipinya lebih dulu, memastikan agar supnya tidak terlalu panas dan bisa ditawar oleh lidah. Setelah itu, ia menyuruh Aishe membuka mulut, dan menyuapi kekasihnya dengan penuh perhatian.


"Bagaimana, apa perutmu terasa hangat?" tanya Diego memandangi wajah Aishe.

__ADS_1


"Eemm, iya. Sangat hangat." Dia mengangguk.



Salju tebal masih menutupi beberapa ruas jalan. Padahal, baru kemarin petugas membersihkan agar jalanan bisa digunakan. Namun sekarang, petugas harus bekerja keras sekali lagi.


Akan memerlukan waktu lama bagi petugas untuk membersihkan semua jalanan di Istanbul, karena itu, mereka hanya membersihkan beberapa ruas antar kota saja. Alasan itu membuat Ashan memutar otaknya, mencari cara agar Diego dan Aishe bisa pergi ke Maslak. Pada akhirnya, Ashan hanya bisa mengandalkan helikopter koleksi Diego.


"Gunakan baju yang nyaman, pastikan badanmu hangat!" Diego memasang topi rajut di kepala Aishe.


Kenapa aku tidak tahu, kalau kau secerewet ini. "Iya, ini sudah cukup nyaman dan hangat."


Mereka masih sibuk bersiap di kamar, ketika sayup-sayup suara Ashan terdengar dari balik pintu yang tertutup.


"Tuan, helikopter sudah siap." Ashan berbicara tanpa mengetuk.


"Ayo, kita melihat rumah baru!" Pria yang duduk di kursi roda itu tersenyum, lalu menggandeng tangan Aishe dan pergi keluar.


Ini adalah momen pertama mereka saling bergandengan tangan di depan Ashan. Seakan ingin memberitahu Tangan Kanan andalannya itu, jika dia tidak lagi men-jomblo.


Aku ini kecolongan sejak kapan? Apa saat dia menanyakan cara meminta maaf?


Ashan berjalan di belakang mereka. Matanya fokus memandang sela jari jemari mereka saling mengisi satu sama lain, meski Diego duduk di kursi roda, dan Aishe berjalan di samping.


Sorry, I Love You. Harusnya aku tidak mengajari itu! Ahh! Pekerjaanku akan bertambah lagi sepertinya!

__ADS_1



Maslak.


Masyarakat Turki mana yang tidak tahu kota yang satu ini. Salah satu distrik bisnis utama di Sarıyer, Istanbul, Turki, yang terletak di sisi Eropa kota tersebut. Sebagai distrik utama, tentu saja memiliki banyak bangunan gedung tinggi menjulang langit yang di gunakan untuk perkantoran dan pusat perbelanjaan.


Helikopter yang mereka naiki telah sampai di kawasan perumahan elit. Konon katanya, satu rumah di sini harga termurahnya 10 juta Lyra dan termahalnya mencapai 50 juta Lyra. Harga yang cukup sesuai dengan sistem keamanan dan juga fasilitas mereka yang memiliki landasan terbang untuk helikopter.


Setelah helikopter mendarat dengan sempurna, sebuah mobil menjemput mereka dan siap membawa mereka ke Mansion pribadi milik Diego.


Hanya 15 menit perjalanan darat, mereka telah sampai di sebuah rumah dengan dominasi warna putih dan hitam. Bangunan dua lantai di tengah halaman yang luas, dan pagar tinggi yang mengelilinginya.


Pandangan Aishe tidak teralihkan pada bangunan bergaya Amerikan Modern sejak mobil melewati gerbang hitam yang kokoh. Dia seperti tertarik, tetapi sorot matanya justru menyipit.


Setelah mobil berhenti di depan pintu. Ashan turun lebih dulu membuka pintu mobil di sisi Diego, lalu membantunya turun dan duduk di kursi roda.


"Apa kau suka?" tanya Diego memandang Aishe yang berjalan di sampingnya.


"Apa aku boleh berkomentar?" Aishe menaruh kedua tangan di saku mantel, dan memandang lurus ke depan.



Yuhuuu.


Sudah Follow IG othor?

__ADS_1


@Kaykha_kay kuy, buruan follow!!


__ADS_2