
Ashan –
Dia pernah kehilangan karena kecerobohannya sendiri, dan karena itu, dia meningkatkan kewaspadaannya secara besar-besaran. Kematian nona Lyra seperti pukulan terbesar yang berpengaruh dengan kehidupannya, termasuk cara berpikir, dan juga sikap waspadanya.
Tuan, sebesar apa cintamu kali ini pada Nona Aishe? Kamu bahkan tidak lagi peduli dengan balas dendam atas kematian Nona Lyra, dirimu sendiri, dan juga kami.
Ashan berdiri di belakang, melihat kedua orang itu duduk menikmati makan siang. Sorot matanya tidak berpaling sedikitpun,meski Bibi Nie menghampirinya berkali-kali dan menyuruhnya makan di dapur.
Cukup lama ia memandangi mereka, jika bukan karena ponsel yang berdering tiba-tiba, mungkin dia akan terus menatap sampai mereka selesai makan.
"Ada apa?" tanyanya menjawab panggilan yang berasal dari Rehan.
"Eraz bangun."
Kedua mata Ashan langsung terbelalak lebar, tanpa pikir panjang dia berlari ke arah Diego dan memberitahu kabar baik dengan segera. Ekspresi wajah Diego pun tak kalah sama dengan Ashan. Mungkin, berita ini akan membawa kabar baik dan secercah cahaya untuk mencari keberadaan Malva.
"Eraz sudah sadar, aku perlu …." perkataan Diego tertahan oleh ucapan tiba-tiba Aishe.
"Pergilah! Aku tidak menahanmu."
__ADS_1
Perkataan Aishe samar-samar menarik dua sudut bibir pria berwajah datar itu ke atas, hingga menyimpulkan seulas senyum. "Terima kasih," ucap Diego mengusap punggung tangan kekasihnya.
Namun Aishe bukannya membalas senyuman Diego, dia justru memandang Ashan, dan meminta sesuatu padanya.
"Ashan, apa dia bisa menyelesaikan makannya dulu?"
Mendengar itu, tentu saja Diego reflek menoleh melihat pria muda yang terlihat cukup energik itu. Sorot mata Diego langsung menincing tajam, tatkala ia melihat Aishe yang fokus menatap Ashan dengan senyum manisnya.
Ya ampun, cobaan apa lagi ini? Nona, jangan melihatku, apa lagi tersenyum seperti itu! Tatapan Anda akan membawa bom atom padaku. – Ashan menelan salivanya kasar dan mengangguk dengan cepat.
Ashan, aku akan membunuhmu! Berani-beraninya kau membuat kesayanganku memandangmu seperti itu!
Pandangan Aishe beralih pada Diego setelah mendapat jawaban dari Ashan. Ia mengambil beberapa potong lauk, kemudian meletakkannya di piring Diego.
Makan siang mereka tidak berlangsung lama, hanya sepuluh menit sejak Diego menerima kabar. Setelah itu, dua pria itu bersiap untuk pergi dengan helikopter.
"Tinggalah di sini mulai sekarang, aku akan menyuruh beberapa orang untuk membelikan keperluanmu," ucap Diego kala Aishe mengantarnya sampai ke depan pintu.
"Kenapa harus beli? Kita bisa mengambilnya di rumah lama."
"Aku tidak mau kamu lelah. Selama libur, fokuslah untuk belajar memanah. Target memanah itu sama seperti target peluru."
__ADS_1
Aishe hanya bisa menghela napas kasar. Baginya, belajar bela diri dan menembak itu sesuatu hal yang melelahkan, juga mengerikan. Namun setelah dipikir-pikir dengan matang, itu semua pasti akan berguna dikemudian hari.
"Baiklah," jawabnya lirih.
Pada saat yang sama, dua orang pria utusan Rehan datang untuk melapor. Diego pun memperkenalkan mereka kepada Aishe.
"Mereka si kembar Rey dan Ryu, mereka akan menjagamu selama di rumah." Diego menghentikan kursi rodanya ketika mereka sampai di depan pintu.
"Jika butuh sesuatu, kamu bisa memanggil Bibi Nie. Seluruh rumah ini milikmu, kamu bisa berkeliling kemana pun," lanjutnya.
Setelah mendengar ocehan panjang Diego, Aishe hanya mengangguk-angguk sebagai bentuk jawaban. Pria berwajah datar itu sama sekali tak merasa marah atau tersinggung sedikit pun.
Setelah berkata panjang lebar, Diego mendongak ke atas, kemudian menelonjorkan jari telunjuk dan menekuk nekuknya. Memberi Aishe kode sambil memamerkan pipi hendak minta minta beberapa kecupan.
Rupanya, Aishe langsung paham dengan godaan Diego. Namun dia menyadari akan adanya keberadaan orang lain, sehingga ia menyeritkan alis sebagai tanda penolakan.
Rey dan Ryu sendiri bukan orang yang tidak peka. Mereka dengan cepat berbalik badan membelakangi mereka, memberi kedua pasangan itu ruang untuk saling bermesraan.
Diego mengedikkan bahu dan kembali memamerkan pipinya, mana kala dua anak buahnya berbalik badan.
Kesempatan untuk menggelak pun hilang, Aishe pada akhirnya mebiarkan beberapa kecupan itu mendarat dengan sempurna di pipi, kening, juga bibirnya.
__ADS_1
Ahh … begini jadi tidak rela pergi!