
Di ruang rawat inap yang lain. Guzel terlihat membuka matanya perlahan, ia sempat mengerjap, mencoba membiasakan pupil matanya menerima sinar senja yang masuk ke kamar.
"Kamu sudah bangun?" tanya Ashan yang sejak tadi siang berada di samping Guzel setelah ia mendapat kabar jika Diego selamat dan kembali ke Istanbul.
"Tuan Ashan?" Lirih Guzel menatap pria yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya. "Anda … sejak tadi berada disini?"
Ashan menggeleng pelan, lalu mengambil sebotol air mineral, membukanya dan menaruh sedotan.
"Tidak, sejak kemari aku disini!" jawabnya sambil menekan sebuah tombol, yang langsung membuat brankar bagian atas bergerak naik. Lalu membantu Guzel minum beberapa teguk air mineral dengan sedotan.
Setelah tenggorokannya merasa lebih baik usai minum, Guzel melanjutkan pertanyaan yang sempat tertahan. "Bagaimana keadaan Nyonya Ishe dan Tuan Diego? Apa mereka baik-baik saja?"
"Ya, semua baik-baik saja, dan akan terus begitu mulai sekarang." Ashan menarik dua sudut bibirnya ke atas, dengan lekat memandang Guzel.
"Ibuku?"
Entah kenapa, saat Guzel bertanya tentang hal ini, hati Ashab tiba-tiba terasa menyakitkan. Dengan sorot mata sedikit sendu, ia meletakkan botol ke atas nakas sambil menghela napas panjang.
"Kami sedang mengurusnya, untuk pemakaman Bibi Nie … semua tergantung keputusan darimu. Begitu pesan tuan dan nyonya."
Guzel menatap nanar ke bawah, melihat selimut putih yang menutupi sebagian tubuhnya. Setelah mendengar jawaban Ashan, matanya tiba tiba basah. Ada bulir bening yang keluar dan menetes begitu saja.
Melihat Guzel air mata Guzel jatuh, Ashan dengan reflek mengusap dengan ibu jarinya. Gerakannya sangat lembut, begitu lembut sampai membuat jantung Guzel berdetak lebih cepat.
__ADS_1
"Jangan menangis!" bujuk Ashan.
"Tidak! Hanya sedikit terharu. Tuan dan Nyonya sangat baik padaku, mereka bahkan membiarkan aku mengambil keputusan untuk ibu." Suara Guzel terdengar sedikit serak, menahan isak tangis yang tidak ingin ia keluarkan.
Ashan melihat gadis itu lekat-lekat, merasa jika dia cukuo tegar dan bijak di usianya yang cukup muda. Merasa gemas, Ahsan mengangsurkan tangan, meraih kepala Guzel dan mengusapnya sedikit kuat hingga rambutnya berantakan.
"Sudah sudah, ayo makan!" ucap Ashan dengan seulas simpul senyum.
"Hentikan! Anda mengacak-acak rambutku!" Protes Guzel melepaskan tangan Ashab yang masih ada di kepalanya.
Ah … gaya bicara formal seperti ini, mengingatkanku akan nyonya dan tuan dulu. "Hentikan bicara formal seperti itu!"
Ashan menarik overbed table yang sudah terisi berbagai macam hidangan, lalu meletakkannya di depan Guzel. Sedangkan gadis itu hanya diam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Ada Sülfettin Usta, sup dengan kaldu ringan yang terbuat dari kaki domba. Roti pide yang selalu menjadi ciri khas hidangan Turki. Nohutlu pilav, nasi yang diolah dengan mentega, minyak sayur, dan kacang mede. Beberapa buah-buahan, dan puding.
Dengan sabar, Ashan mengambil sesendok sup, lalu menyodorkannya ke mulut Guzel. Namun gadis itu dengan kekeh menutup mulut dan menolak.
"A-aku bisa makan sendiri!" seru Guzel hendak mengambil sendok dari tangan Ashan, tapi entah bagaimana, tangannya menyenggol mangkuk sup, hingga sup hangat itu tumpah di bajunya.
"Aahh!" Teriaknya setengah kaget, saat semangkuk sup itu tumpah membasahi dada hingga perutnya. Beruntung, sup itu tidak terlalu panas, sehingga tidak melukai kulit Guzel.
"Diamlah, jangan bergerak. Pundakmu baru selesai di operasi!" Ashan yang sigap lalu menarik overbed table menjauh dari Guzel, dan segera mengambil beberapa lembar tisu.
Namun tumpahan sup terlalu banyak, tisu saja tidak cukup untuk membuat baju berwarna biru dengan garis putih itu kering. Ashan berjalan menuju lemari kecil dan mengambil satu set baju baru dari sana.
__ADS_1
"Lepas itu dan ganti yang baru, aku akan membantumu!" ucap Ashan sambil menatap Guzel yang diam terpengong untuk sesaat.
"Ha-ah? Tidak! " Guzel sontak meremas kancing baju, seakan enggan dengan usulan Ashan. "Biarkan perawat yang menggantinya."
"Kenapa malu? Aku calon suamimu!"
Guzel lantas membulatkan matanya menatap Ashan yang sedang berdiri memegang satu set baju baru, seraya memasang wajah bahagia tanpa beban. Padahal dia baru saja mengucapkan sesuatu yang terdengar serius sampai di telinga Guzel.
"Ka-kapan itu –"
"Kau lupa?" Ashan melangkah maju ke depan, mendekatkan dirinya pada Guzel yang masih mencengkram kuat kancing baju bagian atas.
"Kau sudah setuju menikahiku, jika kita berdua bisa selamat dan hidup!" Tangan dengan jemari ramping itu membelai pelipis Guzel yang masih terperangah.
"Haruskah, aku mengingatkanmu?" Tangan Ashab perlahan turun, menyentuh pipi, lalu mengangkat dagu Guzel sedikit ke atas, hingga bibir tipis itu mendarat sempurna di bibir Guzel.
...☆TBC☆...
Hola-hola, buat pembaca setia Ranjang Tuan Lumpuh. Author mau mengingatkan kalian sedikit, untuk tidak meng-copy, merekam, lalu menerbitkan RTL ke sosial media tanpa mengajak mereka ke Link resmi, karena ini namanya tidakan Plagiarisme dan sangat merugikan penulis. Pelakunya bisa terkena ancaman hukuman atau denda.
Jika kalian menemukan cerita ini di luar NovelToon atau Mangatoon atau website resmi mereka, seperti YT atau aplikasi lainnya, tolong segera laporkan.
Please, hargai jerih payah penulis dalam mengembangkan ide, konflik, dan cerita dengan tidak melakukan tindakan Plagiarisme atau membaca karya bajakan yang tidak mendapatkan izin resmi.
__ADS_1
Sekian dan terima sajen 😌😌