
Kapal pesiar mewah dengan 5 deck milik Mustafa berjalan keluar menuju Laut Tengah. Entah, daratan mana yang menjadi tujuannya, yang pasti, kapal itu sudah sangat lama berlayar di laut.
Dari 1 deck dasar dan 4 deck utama, ada setidaknya 6 kamar besar dengan segala fasilitas mewah. Juga ada 10 kamar berukuran standar dan 5 kamar untuk tempat istirahat para awak kapal. Kemegahan tidak hanya terlihat dari banyaknya kamar, tapi juga fasilitas seperti tempat olahraga, kolam renang, tempat Spa, mini kasino, juga bioskop mini yang bisa menampung 20 orang sekaligus. Sungguh, sangat mewah.
Dari keenam kamar mewah yang ada di kapal, salah satunya adalah tempat Aishe tidur, dan dua lainnya dipakai oleh Mustafa serta seorang pria paruh baya.
Aishe terlihat terlelap pulas setelah membasuh diri, mengganti pakaiannya, dan mengobati lukanya. Sedangkan Mustafa, ia terlihat berjalan di koridor mendatangi salah satu kamar utama yang disinggahi oleh seorang pria.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Mustafa melihat pria itu berdiri dengan tongkat kayunya, menghadap jendela kaca yang tirainya tersibak.
"Itu kau?" Pria bertubuh sedang dengan cepat menoleh, pandangannya lurus ke depan seolah menatap Mustafa, tetapi manik mata kecoklatan pria itu seperti melihat sisi yang lain.
Alisnya melengkung tajam, dengan garis mata yang terlihat jelas. Sorot matanya terlihat tajam, dengan hidung mancung dan bibir tipis. Kumis dan jambangnya terlihat hitam lebat, berbeda dengan rambutnya yang sudah beruban.
"Sudah lewat beberapa bulan sejak kamu kemari. Kali ini, apa yang membuatmu datang?" lanjut pria itu berjalan dengan tongkatnya, mendekat ke arah sofa.
"Kamu tidak mungkin hanya sekedar mengunjungiku kan?" tebaknya asal. Sepertinya, pria itu cukup mengenal Mustafa, nada bicaranya bahkan terdengar sedikit kasar.
Mustafa berjalan mendekat, dengan seulas senyum di wajahnya. Dari ekspresi itu, sudah jelas jika tebakan pria tadi cukup tepat.
__ADS_1
"Ya, aku membawa seseorang bersamaku. Apa kau ingin mengenalnya?" Mustafa menuang secangkir teh, lalu duduk di samping pria itu.
"Sudah setua ini, kamu masih ingin bercanda denganku? Anak dan istriku saja tidak kuberi tahu, bagaimana aku bisa bertemu orang lain?" balasnya menatap lurus ke depan dan bersandar dengan santai.
"Siapa yang kau bawa? Rehan?" tebaknya.
Dua sudut bibir Mustafa meninggi untuk sesaat. Rupanya, rasa penasaran pria yang duduk di sampingnya telah berhasil membuatnya tersenyum.
"Dia … anak perempuanku."
"Kau, kau menikah lagi? Sejak kapan kau punya anak perempuan?" Nada pria itu meninggi, terdengar tidak percaya. "Sepertinya aku perlu mengunjungi makam Leyla! Bagaimana pria tua sepertimu masih sangat subur!"
PACK!
"Ah! Kenapa kau memukulku!"
"Kenapa kau tidak mati saja saat itu!" seru Mustafa dengan kening yang berkerut.
"Dia anak angkatku yang dipilih sendiri oleh anakmu! Kau tidak tahu, seberapa gigihnya anakmu itu merayuku untuk menandatangani surat adopsi agar bisa menikahinya?"
Pria paruh baya itu sekonyong-konyong berdiri. "A-apa? Bocah itu menikah? Bahkan saat aku, ayahnya ini belum kembali?"
Dengan kuat ia mengangkat tongkat kayu itu ke atas dan menjatuhkannya ke bawah hingga terdengar bunyi 'dok' dari kayu yang saling bertumpuan.
"Bocah keparat, berani-beraninya dia –"
__ADS_1
Belum sempat pria paruh baya itu mengumpat. Mustafa yang sedang memegang cangkir teh memotong ucapannya.
"Jangan terus mengumpatnya!" ucap Mustafa. "Dia sudah dewasa, juga mau berkembang biak. Ini semua juga salahmu, kau terus bersembunyi di sini, membiarkan dia melawan adik angkat mu yang licik itu sendirian."
Mustafa diam sejenak, lalu menyesap teh yang sudah hangat sedikit demi sedikit.
"Nie mati akibat ulah Max, menantumu dan calon cucumu juga hampir celaka dibuatnya." Mustafa menengadah, melihat punggung bidang pria paruh baya yang berdiri di depannya.
"Kau mau sampai kapan bersembunyi?" lanjutnya.
"Masih belum saatnya. Aku masih butuh 5 bulan lagi sampai mata baruku ini bisa melihat dengan sempurna." Pria itu menghela napas panjang, lalu berjalan ke arah jendela dan berdiri di tempatnya tadi.
"Dari dulu aku tidak bisa memaksamu, Deniz." Mustafa bangkit berdiri. "Jika nanti terjadi sesuatu dengan Diego atau calon cucumu, jangan salahkan aku!"
Mustafa berjalan pergi dengan raut wajah kecewa. Namun sebelum ia membuka pintu, bibirnya kembali berucap.
"Nama gadis itu dulunya, Aishe, tapi anakmu lebih suka memanggilnya Ishe. Dia ada di kamar nomer 4 dan sedang tertidur karena obat bius." Mustafa menghela napasnya kasar, lalu pergi dari sana.
Penasaran sama dia?
Bentar ... othor mau sarapan dulu 🤣🤣
Jempol jangan lupa digoyang, apa lagi sajennya. Tabur sebanyak banyaknya 🤣🤣
__ADS_1