
Betapa terkejutnya Diego setelah membuka pintu kamar mandinya, lantaran sesuatu yang terasa kenyal dan lembut tiba-tiba mendarat tanpa permisi di bibirnya. Bahkan lidah tak bertulang itu berusaha membobol masuk, membuka kedua baris gerbang putih dengan paksa. Lalu, mulai menjelajah meninggalkan rasa manis yang membuat candu.
Kedua mata Diego terbelalak, bukan karena serangan tiba-tiba, tetapi sikap Aishe yang berubah lebih sensasional dari biasanya, manakala kedua tangan nya dengan brutal masuk dari bawah kemeja dan menjelajah dengan santainya.
Jemari-jemari lentik itu menjelajah, menyentuh lipatan-lipatan perut, terus naik sampai ke dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Gairah pria dewasa itu berdesir tak karuan, setiap sentuhan dari wanita yang entah sejak kapan berada dalam pangkuannya.
Setelah puas menjelajahi rongga bibir Diego, Aishe melepas pagutannya. Kedua mata penuh kebinalan menatap Diego dengan liar untuk beberapa saat. Lalu, ia mendekatkan bibirnya di telinga pria itu.
"D-I-E-G-O." Kata-kata yang dieja terdengar sangat menggoda. "Aku, menginginkanmu," lanjutnya manja, lalu meniup telinga, membawa udara hangat yang terasa hingga ke tengkuk. Membuat hormon oksitosin Diego secara naluriah terpacu.
"Tapi aku tidak!" ucapnya sedikit ketus. "Turun! Kamu seperti anak kecil!" lanjutnya.
Meski dirayu seperti itu, nyatanya kekesalan Diego belum juga surut. Ia bahkan dengan sadar mengabaikan hasratnya dan meredakan hormon oksitosinnya secara paksa.
Dua mata Aishe terbelalak lebar. Taktik rayuan maut yang ia pelajari rupanya tidak berhasil merayu pria itu. Dengan wajah jengkel, ia turun dari pangkuan Diego, lalu pergi naik ke atas ranjang dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Sepuluh menit sudah berlalu. Aishe yang berharap dibujuk oleh Diego, justru harus menelan ekspektasinya bulat-bulat. Telinganya, bahkan tidak mendengar pergerakan apa pun meski sudah 10 menit berlalu. Rasa penasarannya tiba-tiba bergejolak. Dengan perlahan dia mengintip dari balik selimut.
Ia mengedipkan mata, melihat kamar besar dengan cahaya lampu yang temaram. Manik matanya mulai menelisik, mencari sosok sang kekasih di segala sudut. Namun, matanya tak menemukan apa pun.
Jiwa penasarannya yang masih bergejolak, membuat wanita dengan balutan lingerie hitam itu turun dari ranjang. Ia meraih mantel, menutupi kulit putih mulusnya, lalu berjalan sedikit cepat menuju pintu kamar.
Aishe mengeluarkan kepalanya lebih dulu, berusaha mengintip keadaan sekitar. Namun, lorong di depan kamarnya kosong bahkan tidak terlihat jejak pria itu. Masih belum puas dengan pencariannya, ia mencoba menyisir segala sudut rumah.
Sampai pada saat melewati sebuah ruangan, dia dibuat terkejut dengan kedatangan Diego yang membuka pintu.
"Cari apa?" tanyanya singkat seperti enggan menatap Aishe.
"Kekasihku! Dia hilang entah kemana!" Aishe pun menimpalinya dengan ketus.
"Sudah malam, ayo pergi tidur!" Diego menjalankan kursi rodanya pergi lebih dulu meninggalkan Aishe.
__ADS_1
Untuk beberapa saat, Aishe bergeming dari tempatnya, menatap Diego yang semakin lama semakin menjauh. Entah, apa yang membuat mood Diego sangat jelek hari ini. Padahal, tadi saat pulang ia masih sempat memasang wajah sendu untuk mendapatkan kecupan.
Ada apa denganmu? Kamu seperti orang lain hari ini, padahal tadi masih begitu mesra. Tidak mungkin hanya karena candaanku tadi kan?
Aishe larut dalam praduga-praduganya akan perubahan sikap Diego yang tiba-tiba. Dia bahkan masih terdiam di tempatnya selama beberapa menit, sampai akhirnya Ryu memanggil namanya.
"Oh, ada apa?"
"Barang-barang Anda ada di bawah. Besok pagi baru di pindahkan ke kamar, kalau butuh sesuatu, langsung saja bilang pada kami."
"Emm, oke."
Diego PMS nih, gak bs di senggol 🤣
__ADS_1
Vote jangan sampai lupa 💋💋