
Aishe bangun lebih awal dari biasanya. Sebelum beranjak, ia sempat menoleh, menatap pria dengan brewok sedikit tebal itu masih tertidur dengan pulas. Untuk beberapa detik, pandangannya terpaku pada pria itu, pria tampan yang terlihat tenang ketika tidur, tetapi juga sangat liar saat berada di atas ranjang.
Diam-diam ia menarik dua sudut bibirnya, lalu tertunduk, pikirannya terbang, mengingat setiap sentuhan yang Diego berikan. Ia pun beranjak turun dari ranjang dan pergi menghadap standing mirror. Melihat beberapa ruam merah yang di diakibatkan olehnya juga.
"Kamu sudah bangun, Sayang?"
Suara Diego terdengar dengan jelas di telinganya, membuat Aishe sontak menoleh, menatap Diego yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Kenapa kau berdiri di depan cermin hanya dengan selimut tipis? Dimana piyama mu?"
"Kamu merobek piyamaku! Juga meninggalkan banyak ruam merah!" Aishe menyingkap kembali selimut tipis yang semula melorot menunjukkan pundak mulus serta jejak peninggalan Diego.
Setelah berkata demikian, wanita itu pergi untuk membilas dirinya dengan air hangat. Sedangkan Diego hanya mengernyitkan alis melihat kekasihnya pergi tanpa membantunya lebih dulu.
Dasar kejam! Dia bahkan tidak membantuku duduk di kursi roda!
Belum selesai ia mendengus kesal, dering ponsel yang ada di atas nakas terdengar jelas. Dia pun buru-buru menjawab, usai melihat nama Ashan terlampir.
"Tuan, pesawat sudah siap, satu jam lagi kita bisa berangkat!"
"Em, oke!"
Hanya satu jam, karena tidak mungkin menunggu Aishe selesai membasuh diri, maka ia berinisiatif pergi ke kamar mandi yang berada di kamar sebelah untuk mempersingkat waktu.
__ADS_1
Dua puluh menit lewat, Diego yang baru selesai mandi dan pergi ke kamar untuk bersiap, di kagetkan oleh Aishe yang sedang mengacak-acak walk in closet.
"Kamu sedang apa?" tanya Diego menatap wanita yang masih dengan bathrobes di badannya dan rambut yang di gelung dengan handuk.
"Mempersiapkan kebutuhanmu. Memastikan kalau kamu memakai pakaian hangat." Aishe masih sibuk memilih mantel.
Melihat Aishe antusias dan terlihat cukup selektif ketika memilih baju untuknya, membuat hati Diego tiba-tiba terenyuh. Dia tidak pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya, terutama ketika bersama Lyra.
Setiap keluar kota, mereka hanya membawa beberapa baju. Selebihnya, mereka akan membeli di sana sekalian berbelanja.
Tapi, wanita ini berbeda.
Setelah memastikan semua kebutuhan Diego, Aishe segera menutup koper dan membawanga keluar dari walk in closet. "Ashan sudah datang. Ayo aku akan membantumu bersiap!"
Sepertinya dia tidak protes, ketika wanita itu perlahan membantunya memakai kemeja, bahkan celana. Tak sampai sepuluh menit, Diego sudah rapi, dengan rambut yang sudah disisir dan parfum yang disemprotkan ke lehernya.
"Jangan menggoda wanita, ingat itu!" ucap Aishe.
"Kalau pria berarti tidak masalah?"
Tawar menawar Diego sungguh tidak diangap lucu oleh Aishe. Wanita itu justru meliriknya dengan tajam. "Coba saja! Nanti biar aku menyuruh Ryu mengasah pisau!"
Tawa Diego renyah Diego terdengar di seluruh kamar untuk beberapa saat, ketika puas tertawa, ia mengambil tangan Aishe dan mengecupnya.
__ADS_1
"Aku hanya tertarik menggodamu!"
Mendengar itu, tentu saja hatinya menjadi ladang penuh bunga. Namun bukannya tersenyum, dia justru memukul dada bidang Diego.
"Hentikan! Kau terus membual!"
Diego tersenyum untuk beberapa saat, kemudian menghela napas panjang sembari memandangnya. Dua pasang mata saling bertemu untuk beberapa saat.
"Aku harus pergi," ucap Diego yang langsung membuat Aishe mengangguk. "Rey dan Ryu harus kembali ke Barak, untuk dua hari ini Rehan akan menjagamu." lanjutnya.
"Rehan? Kau tau dia tidak suka padaku!"
"Aku tahu. Kau percaya padaku bukan?"
Hela napas Aishe terdengar berat. Namun pada akhirnya dia mengangguk dan tersenyum.
"Baik, baik, pergilah! Jangan buat Ashan menunggu." Aishe mendorong kursi roda Diego keluar kamar.
"Biarkan dia menunggu!" Diego sedikit mendengus. "Tetaplah di rumah selama dua hari ini, oke."
Yaah, babang Die pergi ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
Sementara gak ketemu babang Die dulu deh yaa ðŸ¤ðŸ¤