
Bagi Aishe, Ashan memang hanya salah satu orang kepercayaan sang suami. Namun, pria itu banyak berjasa untuk dirinya. Lantaran Ashan, Aishe bisa dekat dan mendapatkan perhatian Diego, terlepas dari beberapa percakapan yang pernah terjadi di antara Ashan dan Diego. Mendengar Diego ingin memecat Ashan hanya lantaran perdebatan kecil, tentu saja dia tidak terima. Terlebih lagi, Ashan sebentar lagi akan menikah dengan Guzel.
Aishe sempat mengganti bajunya, dan memoles lip balm agar bibirnya agar tidak terlihat kering. Rambutnya bahkan tak sempat ditata, hanya di gulung sederhana. Selesai bersiap, dia pun berangkat di temani Alv dan Rubby, pergi ke BIN Bank menemui sang suami.
Hari masih sore saat itu. Matahari memang sudah bergerak ke arah barat, tetapi dia belum sepenuhnya tenggelam. Saat mobil yang mereka naiki sampai di depan, Ashan terlihat berdiri di depan menunggu kedatangan Aishe.
“Dimana dia?” tanya Aishe langsung pada intinya.
“Di rooftop, Nyonya.” Ashan terdengar gugup. Bagaimana tidak? Dia sudah diancam akan di pecat jika rencana kejutan ini gagal.
Aishe menoleh, menatap wajah gugup Ashan yang terlihat jelas. “Kenapa dia ke sana?” tanya Aishe penasaran.
Namun belum sempat Ashan menjawab, Aishe kembali berkata, “Sudahlah, antar aku ke sana!”
Aishe, diantar oleh Ashan dan di temani Rubby, segera masuk ke dalam. Mereka pergi ke lift khusus yang biasanya di pakai oleh Diego, dan naik ke atas. Kedatangan Aishe tentu sempat membuat beberapa orang di kantor tercengang. Bahkan tak sedikit dari mereka yang membicarakan Aishe dan perut besarnya pada saat itu.
Aishe bukannya tidak mendengar atau melihat mereka membicarakan dirinya. Dia jelas mengetahui itu, hanya saja, dia lebih suka untuk diam dan tidak peduli. Sama seperti dulu, saat dia pergi ke Haley Elektronik bersama dengan Rehan untuk rapat pemegang saham dan penyerahan jabatan.
Lift sudah berhenti di lantai paling atas, tapi untuk menuju rooftop, mereka masih harus naik tangga darurat. Tidak banyak, hanya 10 anak tangga. Namun, bagi ibu hamil, terutama kehamilan yang memasuki trimester 3, hal itu jelas amat melelahkan.
__ADS_1
Kenapa harus ke rooftop? Dia tidak tahu betapa melelahkannya ini? Lihat saja, aku akan membuatnya menggendongku nanti!
Ashan membantu Aishe membuka pintu, mempersilahkan dirinya naik lebih dulu dan mencegah Rubby untuk tidak ikut naik. Rubby sempat protes, tetapi Ashan cepat-cepat mengedipkan mata untuk memberinya sebuah kode.
Pintu di tangga darurat menuju rooftop sudah terbuka. Tepat pada saat Aishe melangkah keluar, irama dari biola dan piano beriringan terdengar. Bersamaan dengan kaki lainnya yang melangkah keluar, tangan kanan seseorang terulur ke arahnya. Benar itu adalah Diego, yang berdiri dengan setangkai bunga.
“A-apa yang kau lakukan?” tanya Aishe sedikit terkejut, lalu mengedarkan penglihatannya, melihat rooftop yang dihias dengan begitu cantik. Saat melihat semua itu, barulah dia menyadari, jika Ashan dan Diego sedang mempermainkan dirinya.
Dengan nada rendah serta emosi yang berusaha dia tahan, Aishe berkata, “Jadi, kalian semua menipuku?”
Ah, jadi Ashan yang menipuku? Lihat saja nanti, aku akan membalasmu!
Aishe sempat menghela napas panjang, sebelum akhirnya bertanya tentang tujuannya Diego melakukan semua itu.
“Lupakan! Untuk apa kau memberiku kejutan seperti ini?”
“Kau lupa?”
__ADS_1
Aku lupa? Lupa apa? Aishe menatap kedua mata Diego dengan ekspresi wajah heran. Dia mencoba mengingatnya dengan baik, tetapi tetap tidak bisa.
Hela napas Dego terdengar berat, seperti kecewa karena sang istri melupakan satu hari yang penting. Namun meski begitu, Diego berusaha menjelaskannya dengan sabar.
“Kamu lupa? tidak masalah, aku akan menjelaskannya perlahan.” Diego meraih tangan Aishe, membawanya berjalan melewati lilin dan kelopak mawar merah yang di tata cukup cantik. Hingga sampailah dia di meja yang ditata dengan beberapa lilin juga sebotol wine.
“Ini adalah hari, dimana kamu memakai dress merah. Kamu menari dengan sangat cantik dan anggun tanpa alas kaki. Mempertaruhkan satu malam bersamaku,” jelas Diego dengan nada lembut, sambil membantu istrinya duduk di atas kursi dan.
Penjelasan Diego pada akhirnya berhasil membuat Aishe mengingat malam itu. Dua sudut bibir Aishe pun terangkat, dengan sorot mata teduh, menatap Diego yang berlutut di depannya. Diego meraih tangan sang istri, kemudian mengecupnya dua kali.
“Seni Seviyorum, Ishe.”
“Aku juga mencintaimu, Die.”
Dibalik dua orang yang saling mengutarakan perasaan mereka, ada Ashan yang sempat mengintip dari balik pintu dan kini sudah bisa menghela napas lega. Meski hampir saja gagal, tapi setidaknya acara makan malam serta kejutan Diego telah berhasil.
...☆TBC☆...
__ADS_1