
Farhan –
Tidak, dia sudah mati. Dia sudah mati! Benar, dia sudah mati.
Aku melihat dia jatuh dengan mata kepalaku sendiri, bahkan melihatnya tenggelam di tengah laut. Dia tidak mungkin masih hidup. Aku hanya halusinasi, benar, halusinasi.
Farhan meringkuk bersedekap lutut. Tangannya gemetar, gigi-giginya bahkan saling gemeretak. Takut, itu sudah pasti. Bagaimanapun, dia sendiri yang sudah memberanikan diri membunuh Aishe. Dan kini, wanita itu justru berdiri di hadapannya dengan penampilan baru.
Dingin terasa menusuk tubuhnya, bulu kudunya pun berdiri, menerpa hamparan kulit tangannya. Untuk pertama kali sejak dia membunuh Aishe pada awal bulan Mei lalu, ia merasa takut.
Begitu takutnya, sampai-sampai lari tunggang langgang begitu pintu liftnya terbuka.
Perasaan takut dan gugup, nyatanya bisa membuat pikiran kacau. Begitu juga saat Farhan dengan paniknya berusaha membuka sandi smart key. Namun ketika dia berhasil, seorang pria menepuk pundaknya. Membuat dia kaget hingga menjatuhkan diri dan berlutut memohon ampun.
"Ampun … ampuni aku! Kamu sudah mati, tenanglah di sana. Jangan ganggu aku!" ucapnya sembari menutup mata.
Aishe sudah terlanjur kesal dengan sikap pengecut Farhan. Dulu saat membunuhnya, Farhan begitu berani dengan segala rencana liciknya, bahkan polisi pun tidak dapat menemukan jejaknya. Namun sekarang, tingkahnya hampir membuat Aishe menendangnya.
"Bawa dia!"
"Kalian mau membawaku kemana, hei!" Farhan berusaha berteriak dan memberontak saat Rehan dan Eraz membawanya.
Eraz yang kesal, langsung mengambil pistol yang sejak tadi dia sembunyikan di balik sabuknya. Lalu, menodong pinggang Farhan sambil berbisik lembut, "Menurutlah. Teriakan ujung senjataku tidak main-main sakitnya."
__ADS_1
Farhan seketika diam membisu, dan menjadi patuh. Tanpa protes dia naik ke mobil yang berbeda dengan Aishe dan pergi ke tempat yang sudah disiapkan Aishe. Sebuah gudang kosong di kawasan kumuh yang berada di daerah Fatih, Istanbul.
Mereka mendorong tubuh Farhan masuk ke dalam gudang dengan kasar, hingga ia hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan. Sudah berada di posisi seperti itu, Farhan hanya diam tak mampu berkutik, mengingat senjata yang baru saja di todongkan di pinggangnya terasa begitu menyeramkan.
"Ma-mau apa kalian? Kenapa membawaku kemari? Ce-cepat bawa aku pulang!" Farhan masih bertanya-tanya, siapa dua orang yang sudah lancang membawanya ke tempat kumuh seperti ini.
"Kenapa buru-buru, Gie?" Suara samar Aishe terdengar menggema di penjuru gudang, beriringan dengan derap langkah kakinya.
Gie, adalah panggilan khusus yang disematkan oleh Aishe pada mantan tunangannya. Sudah pasti, Farhan mengingat jelas siapa yang sedang berjalan ke arahnya.
"Ka-kau masih hidup?" Kedua mata Farhan membelalak kaget dan tidak percaya. Berbagai pertanyaan tertuang jelas dalam kepala, terutama tentang keberadaan Aishe yang sudah lima bulan ini lenyap.
"Aishe, kamu masih hidup? Oh Tuhan, kamu benar-benar masih hidup!" Farhan berusaha menyentuh tangan mulus Aishe, tetapi gadis itu cepat-cepat menepis tangan Farhan dengan ujung dokumen yang dia bawa.
"Langsung saja pada intinya." Aishe membuka dokumen dan menyerahkan selembar kertas pada Farhan.
"Uang yang kau pinjam secara pribadi, akan jatuh tempo tiga hari lagi. Harap agar kau bisa melunasinya sebelum jatuh tempo!"
Setelah mengingatkan Farhan, Aishe pun melenggang pergi begitu saja. Jelas-jelas dia sudah menyiapkan banyak hal untuk ditanyakan pada pria itu, tetapi begitu melihat Farhan, semua pertanyaan yang ada di kepalanya lenyap tanpa sisa.
Dia berjalan membuka pintu mobil, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Diego sudah duduk di kursi belakang. Entah, sejak kapan dia berada disana, Aishe hanya mengingat dia sendiri saat turun dari mobil.
"Kenapa? Kau terlihat tidak puas?" Diego menyapa Aishe sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.
__ADS_1
"Tidak. Saya hanya sedikit kikuk saat bertemu dengannya!" Aishe masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Diego.
"Apa dia membuat mood mu jelek?"
Aishe menoleh, memandangi wajah Diego yang terlihat tenang, tetapi matanya memandang tajam ke depan.
"Aku hampir membunuhnya tadi, saat melihat dia merengek seperti anak kecil." Aishe tiba-tiba mengingat momen ketika Farhan memperlihatkan muka duanya. "Ah, menyebalkan. Harusnya aku menarik pistol dari saku pengawal Anda."
"Tapi kau tidak melakukannya?"
"Benar. Balas dendamku akan sia-sia kalau dia mati dan saya mendekap di penjara."
Diego tersenyum kagum saat mendengar jawaban Aishe. Memang benar, balas dendamnya akan sia-sia jika dia harus mendekap dalam penjara.
Rahim Lima Miliar, by Rifah_Musfi
Jangan lupa mampir 💋💋
Terima kasih untuk Vote, Like, bertangkai-tangkai mawar, bercangkir-cangkir kopi, juga love dan kursi pijatnya. 💋💋
Sehat terus untuk para readers tercinta.
Bab selanjutnya meluncur besok pagi ya😊
__ADS_1