
Istanbul – Turki
Setelah beristirahat hampir setengah hari, sejak peluru dikeluarkan dari lengannya. Diego sudah terlihat duduk di sofa sambil memegang benda pipih berukuran 8 inch. Matanya terlihat fokus, sesekali menyipit, bersamaan dengan dahi yang berkerut.
Sudah dua jam dia duduk sendirian, memikirkan sebuah taktik untuk menghancurkan musuh abadi itu dengan cara yang paling menyakitkan. Mengingat, sudah banyak sekali korban yang jatuh ke dalam tangannya. Termasuk kekasihnya dulu, Lyla, dan juga bibi kesayangannya, Layla.
Pria dengan baju biru bergaris putih, yang secara khusus diperuntukkan untuk pasien, terlihat sedang fokus, ketika pintunya diketuk dari luar. Dia hanya berdehem, lalu pintu itu terbuka. Rupa-rupanya, yang datang adalah Eraz, Ashan, Emil, dan juga Rehan, yang masuk ke dalam secara bersama-sama.
"Kami datang, Tuan," ucap Ashan menyapa tuannya lebih dulu sebagai perwakilan.
"Oh, bagus. Kemarilah!" Sorot mata Diego masih fokus menatap layar.
Keempat pria itu saling menoleh sesaat, lalu melangkah maju ke depan, mendekati Diego. Ketika dia tahu mereka sudah mendekat, Diego langsung meletakkan tablet yang semula dia pegang, ingin menunjukkan sebuah peta yang sudah ia beri tanda.
"Kumpulkan semuanya, hari ini kita mulai menyerang!"
Keputusan mendadak dari Diego tentu saja membuat mereka semua terkejut, bahkan Emil dan Eraz saling menoleh, memasang wajah heran.
__ADS_1
"Ini terlalu beresiko, Tuan," protes Ashan.
Diego bangkit dari duduknya, lalu meletakkan kedua tangannya di atas meja dengan sedikit membungkuk dan sorot mata yang berubah tajam. "Kita sudah merencanakan ini, Ashan. Sudah lebih dari dua tahun!"
Mata dengan manik kecoklatan itu terlihat penuh gelora dan percaya diri. Ada dendam, yang bercampur dengan emosi, dan menggetarkan setiap kata yang baru saja dia ucapkan.
"Aku sudah siap, Tuan!" sahut Rehan terdengar penuh semangat. Bahkan Emmil pun ikut menimpali, bersedia mengikuti keputusan Diego.
"Saya siap menerima apa pun perintah Anda, Tuan." Eraz menaikkan kedua sudut bibirnya memandangi Diego sengan tatapan serius.
Melihat tiga orang kepercayaannya itu telah siap dengan segala resiko akan perintahnya ini, Diego menjadi sangat puas. Dia bahkan tak segan tersenyum lebar, sembari menegakkan punggungnya dan bersedekap tangan.
"Saya – akan menyuruh Ryu untuk menjaga Guzel di sini," ucap Ashan setelah berpikir cukup lama.
"Oke, pembagiannya seperti ini …."
Tim langsung dibentuk untuk memusnahkan ketiga markas Maximo yang tersebar di Turki. Kali ini, Diego akan bersama dengan Rehan. Sedangkan Eraz bersama dengan Rey, dan Emmil bersama Ashan.
Setelah semuanya beres, Ashan dan Eraz mulai menghubungi semua anak buahnya untuk berkumpul. Sedangkan Emmil menyiapkan persenjataan untuk bekal mereka.
__ADS_1
Tim sudah terbagi, seluruh anak buah sudah siap, dan senjata juga sudah datang. Kini, waktu mereka untuk berangkat telah tiba.
Tiga tempat yang menjadi tujuan mereka salah satu yang terdekat adalah Arnavutkoy, lalu Gebze, dan yang terakhir adalah Bursa. Tempat yang akan didatangi sendiri oleh Diego dan Rehan, karena Max sedang berada di sana.
Bursa, merupakan kota yang terletak di Turki bagian barat yang dikelilingi oleh Balikesir di sebelah barat, Izmit, Yalova dan Istanbul di bagian utara, Bilecik dan Adapazari di bagian timur serta Eskisehir dan Kutahya di bagian Selatan.
Kota ini merupakan kota terbesar keempat di Turki setelah İstanbul, Ankara, dan Izmır. Luas Kota Bursa sekitar 11.034 m2. Kota ini juga pernah menjadi ibu kota pertama Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1326 sampai tahun 1365.
Namun, Diego dan Rehan perlu bergerak sedikit dari Bursa, yaitu ke kawasan Hamamlıkızık, yang termasuk perbukitan dengan banyak resort mewah.
Diego sudah bersiap dengan rompi anti peluru, sarung tangan, earphone yang tersambung dengan keempat orang kepercayaannya, juga senjata.
Helikopter yang membawa mereka ke kawasan Hamamlıkızık, tidak turun. Mereka hanya berhenti di udara untuk sesaat dan menurunkan beberapa pasukan termasuk Rehan dan Diego. Lalu, helikopter itu kembali naik dan pergi.
"Selesaikan malam ini, sebelum pagi harus sudah selesai!" Diego berbicara menggunakan earphone untuk memberitahu semua Tangan Kanan andalannya.
...☆TBC☆...
__ADS_1