Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 53


__ADS_3

"Tu-Tuan, saya tidak bermaksud untuk …."


Perkataan Aishe tercekat dengan tindakan Diego yang tanpa permisi menerobos masuk ke dalam.


"Kau tau, berita internet itu karangan manusia. Akan lebih bagus kalau kau dengar dari orangnya langsung. Bukankah begitu?" Diego menoleh, melihat Aishe yang mematung tak merespon.


"Duduk! Aku akan memberitahu semuanya."


Semua cerita berawal dari beberapa belas tahun yang lalu, tepat saat Diego berusia 15 tahun. Hari itu keluarga Gulbar sudah menyiapkan sebuah pesta perayaan ulang tahun sang pewaris dari generasi ke-3 BIN bank, yaitu Diego Gulbar.


Namun, peristiwa naas terjadi pada Diego muda. Dia diculik, dan dibuang ke perbatasan antara Turki dan Suriah oleh pamannya sendiri. Berharap Diego agar Diego mati di tanah asing, dan dia bisa menjadi pewaris tunggal dari generasi ke-2 Gulbar.


Akan tetapi, nasib masih berpihak pada Diego. Dia ditolong oleh sekelompok tentara penjaga perbatasan dan di bawa ke markas.


Alih-alih membeberkan identitasnya dan pulang ke rumah. Diego lebih memilih menetap di sana dan menjadi bagian dari mereka.


Diego bukan anak muda polos yang tidak mengerti apa-apa pada saat itu. Bukan tidak mengerti perebutan kursi di keluarganya, juga bukan tidak tahu bahwa itu semua siasat pamannya sendiri. Oleh karena itu, dia memilih tinggal untuk belajar bela diri.


Nasib Diego pada saat itu berbeda dengan Aishe yang dikabarkan tewas tenggelam. Demi menyeimbangkan saham BIN juga nama keluarga Gulbar, mereka berspekulasi bahwa penerus BIN generasi ke-3 sedang menempuh pendidikan di luar negri.


Namun meski begitu, keluarga Gulbar terus mencari Diego selama hampir sepuluh tahun. Diego sendiri memutuskan kembali ke keluarga Gulbar ketika dirinya berusia 24 tahun, dan langsung menduduki kursi Presdir tanpa di tentang siapa pun.


__ADS_1


"Mereka berempat itu, orang yang aku percaya. Mereka semua berasal dari barak yang sama denganku." Jelas Diego membuat Aishe tercengang hingga tidak dapat berbicara.


"A-Anda pasti tersiksa pada saat itu."


"Tidak sepenuhnya. Sebenarnya, di barak atau pun di rumah, itu sama saja." Diego menatap mata Aishe.


"Aku tetap harus bertarung. Hal yang jadi pembeda hanya lawan. Jika di barak, aku bertarung dengan musuh, sedangkan di rumah, aku bertarung dengan saudaraku sendiri."


Aishe menelan salivanya kasar. Dia dulu sempat berpikir, 'mengenakkan jika jadi orang kaya'. Namun saat mengetahui lika liku kehidupan Diego, dia terdiam tidak mampu berkomentar, tetapi tiba-tiba saja dia penasaran akan satu hal.


"Kenapa Anda menceritakan ini padaku? Tidakkah Anda takut jika saya menyebarkannya?"


"Kau sendiri yang bilang, terlalu banyak tahu itu tidak baik. Saat kamu tau semuanya, tentu hidupmu tidak akan mudah. Bukankah begitu?"


Dua pasang mata itu saling memandang, cukup lekat hingga tidak ada yang mau mengalihkan pandangan mereka. Tiba-tiba, Diego membelai kening Aishe.


"Kamu wanita cerdik. Jelas mengerti maksudku."


Mengerti apa?


Mengerti bahwa aku tidak akan bisa melawannya? Atau mengerti, bahwa aku tidak akan bisa membocorkan informasi ini pada siapa pun?


Diego menggerakkan kursi roda nya, hendak pergi meninggalkan Aishe. Namun sebelum dia meninggalkan kamar, dia sempat berbalik.

__ADS_1


"Ishe …." Panggilnya lirih.


"Tau kenapa aku tertarik dan bersedia membantumu membalas dendam?"


Aishe tertegun, merenungkan beberapa jawaban yang sebenarnya juga menjadi tanda tanya besar bagi dirinya sendiri. Alasan kenapa seorang Diego Gulbar mau membawanya, memberikan fasilitas, bahkan membantunya balas dendam dengan cara yang paling brutal.


"Karena aku, menyukai semangat hidupmu dan kamu … pandai menempatkan posisi!"


Bukan karena dia penghangat ranjang Diego. Sebenarnya, kalau pun mau, pria itu bisa memanggil siapapun demi bisa memuaskan hasratnya tanpa membocorkan kondisinya. Namun, tidak semua wanita bisa menempatkan dirinya pada posisi yang benar.


Dan karena itu, Diego memilih Aishe.



Kau tidak pernah tau, Ishe. Sorot matamu saat kita pertama kali bertemu di pantai, adalah sorot mata yang pernah ku punya 17 tahun lalu. Ketika aku sendirian berjalan di jalanan tandus selama dua hari penuh. Dan sorot mata itu, membuatku terpesona. Kau sudah mempesona, meski dengan tubuh kurus dan wajah burukmu itu.


...~~~~~...


Kehidupan orang kaya itu rumit yaa ...


Lanjut besok lagi.


Like jangan sampai lupa 💋💋

__ADS_1


__ADS_2