Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 36


__ADS_3

Pergantian musim kemarau ke musim gugur, pada tahun ini terjadi pada awal bulan September. Angin sejuk berhembus semilir menerbangkan sisa daun yang basah. Sejak semalam, suhu telah turun menjadi 20 derajat celcius. Namun walaupun turun cukup drastis, tetapi manusia masih bisa menawarnya dengan sweeter atau jaket kulit mereka.


Meski suhu udara telah turun, mentari masih bersinar menunjukkan kegagahannya. Hanya saja, beberapa awan tebal menutupi sinarnya, dan hanya menyisakan beberapa cahaya pagi tetapi cukup untuk menghangatkan tubuh.



Aishe membuka matanya langsung tanpa mengerjap. Mata dengan bulu lentik itu membulat, tatkala mendapati wajah Diego tepat berada di hadapannya. Bukannya terkejut dan segera bangun, Aishe justru tertegun untuk sesaat. Mengagumi paras indah dari pria yang sedang tertidur dengan nyenyak.


Tuhan memang cukup adil, wajah tampan ini, terasa cukup sepadan walau tidak bisa berjalan.


Perasaannya tiba-tiba larut, seperti gula yang semalaman terendam air. Tanpa disadari, rasa airnya semakin lama semakin manis. Mungkin, begitulah manisnya perasaan Aishe pada Diego.


Diego masih menutup kedua matanya. Namun tiba-tiba berbicara mengingatkan soal waktu pada Aishe. "Jam sembilan, kamu tidak bekerja?"


Jam sembilan? Memangnya ada apa dengan jam sembilan.


Dulu ada sebuah pepatah, 'Ketika seseorang jatuh cinta, dia akan melupakan urusan yang lain'. Benar saja, perasaan itu membuat IQ Aishe tiba-tiba anjlok hingga titik terendah. Dia bahkan membutuhkan beberapa menit untuk menyadari bahkan Diego telah bangun lebih dulu, juga tentang jam kerjanya.


Dia sudah bangun? Ah, Shiit. Aku lupa kalau masih harus ke kantor.

__ADS_1


Aishe tersentak kaget dan langsung bangun dari posisi berbaringnya. "Kenapa Anda tidak membangunkan saya?" tanya Aishe yang sibuk mencari sandal yang entah ada dimana.


"Kamu sendiri yang asik menikmati ketampananku sampai satu jam." Diego tiba-tiba sudah beralih posisi, dan duduk bersandar.


A-aku melihatnya selama satu jam?


Aishe menelan salivanya kasar. Ingin mengelak dari kenyataan, tetapi tidak mampu menemukan jawaban yang tepat. Pada akhirnya, dia mengalihkan pembicaraan.


"A-anda sendiri, kenapa tidak pergi ke kantor?"


"Apa yang bisa dilakukan pria lumpuh sepertiku? Lagi pula, aku sudah lama di lengserkan."


Gawat, aku lupa kalau dia lumpuh. Aishh ... otakku memang sedikit bermasalah akhir-akhir ini.


"Stop! Jangan merendahkan diri Anda sendiri, Tuan!" Seruan Aishe tiba-tiba memancarkan gelora semangat.


"Sebenarnya, Anda cukup mampu menyelesaikan masalah di perusahaan meski duduk … duduk di kursi Anda!" Aishe kembali menelan salivanya, karena hampir saja salah bicara.


"Nyatanya, banyak mereka yang mengerjakan proyek, tanda tangan, membeli saham, hanya dengan duduk di kursinya. Mereka semua bekerja dengan duduk, bukan berdiri!"

__ADS_1


Penjelasan Aishe tanpa sadar membuat seulas senyum di wajah Diego nampak dengan samar. Ada perasaan kagum, yang memberi apresiasi pada setiap kata yang terucap dari bibir wanita itu.


"Kau benar," jawaban Diego membuat Aishe merasa lega, juga bangga karena bisa berkata seperti itu pada seorang Diego. Pria yang dulu cukup berkuasa dan disegani.


"Tapi aku tidak punya jabatan apapun di sana. Apa kamu mau membantuku mengambil kembali kursi presdir?"


"Tentu saja saya mau!" Jawab Aishe penuh semangat, membuat Diego tersenyum lebar.


Namun, jawaban itu hanyalah spontanitas yang keluar dari mulut Aishe agar Diego tidak terus merasa dirinya rendah. Dan setelah sepersekian detik, ia baru menyadari, bahwa dia baru saja menjanjikan hal yang mustahil.


Memang, siapa dia, hingga bisa membantu Diego mengambil alih kursi presdir BIN lagi?


"Sa-saya masih harus pergi ke kantor!" Aishe mencoba melarikan diri setelah meresa bersalah, karena menjanjikan hal yang tidak masuk akal.


Dia bahkan sempat merutuki diri sendiri sebagai wanita 'bodoh' sambil memukul mulutnya, usai keluar dari kamar Diego.


Berbeda dengan respon Aishe, Diego justru terlihat bahagia. Bahkan, senyum berseri terlihat lolos beberapa kali ketika dia kembali mengingat kata penyemangat dari Aishe.


Kau sudah berjanji, Ishe. Aku akan mengihnya dengan senang hati.

__ADS_1



Vote ... vote. Yooo yang punya vote dan hadiah tidak terpakai, Aishe dan Diego menerima dengan senang hati 🤭🤭


__ADS_2