Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 68


__ADS_3


Selesai menikmati sarapan sederhana dan juga secangkir coffee, mereka mengisi waktu dengan menyelesaikan beberapa pekerjaan. Keduanya duduk di sofa depan tungku perapian. Menyelimuti kaki mereka dengan selimut tebal, serta secangkir coklat panas dan teh melati.


Diego duduk di atas sofa, mengamati beberapa dokumen yang telah diserahkan asisten Maximo dua hari lalu. Sedangkan Aishe duduk di bawah Diego beralaskan bantal tebal. Keduanya sibuk mengamati pekerjaannya masing-masing, meski sesekali tangan Diego membelai ubun-ubun Aishe. Sampai … mereka mendengar bunyi bel.


Aishe menoleh ke belakang, menatap Diego. "Biar aku yang buka!" ucapnya kemudian berlari membuka pintu.


Pada awalnya, dia berpikir yang datang adalah Ashan. Namun ternyata ….



Seorang wanita yang tidak asing berdiri di hadapannya. Mantel bulunya sangat tebal, ditambah dengan topi yang terlihat cukup menghangatkan kepala dan telinganya. Meski seluruh tubuhnya hampir tertutup, Aishe bisa mengenali wanita itu dengan baik.


Tentu saja, itu karena ia teringat akan seorang gadis muda yang pernah memanggilnya 'Tante' ketika berada di kantor Diego.


"Kenapa kau ada disini?" bentak Malva dengan raut wajah kesal.


"Kamu sendiri siapa? Ada urusan apa datang kemari?" tanya Aishe dengan nada sedikit angkuh sambil bersedekap tangan. Statusnya sekarang sudah jelas, Diego sendiri belum bungkam tentang perasaannya. Jadi tidak ada masalah jika Aishe mulai waspada pada setiap gadis yang mencari kekasihnya.

__ADS_1


Malva tampak mengabaikan Aishe, manik mata itu justru sibuk melihat ke dalam. "Ini rumah kakakku yang diberikan tunangannya. Cepat minggir!" Dia mendorong pundak Aishe dan nyelonong masuk ke dalam tanpa permisi.


"Hei, Nona! Pemilik rumah bahkan belum mengizinkan Anda masuk!" teriak Aishe mencoba menghentikan, tetapi gadis itu tidak peduli bahkan tidak menganggap Aishe.


Dia masuk masuk dengan angkuhnya, seakan rumah itu miliknya sendiri. Namun ketika sampai di ruang keluarga, ia terjingkat kaget melihat Diego duduk di kursi dengan sorot mata tajam ke arahnya.


Pada awalnya dia hanya ingin memeriksa kabar yang di dapat dari mata-matanya, bahwa Diego membawa seorang wanita ke Villa Luxury yang diberikan pada Lyra. Dia bahkan tidak pernah berpikir, jika pria itu akan ada di sana pada saat ini, lantaran Diego sendiri jarang sekali datang ke Luxury sejak Lyra pergi.


"Ka-kakak!" panggilnya sedikit gugup. "Kakak kenapa disini? Bukannya Kakak tinggal di mansion keluarga Gu?"


Manik mata yang semula menatap Malva dengan tajam, tiba-tiba berubah lembut, tatkala melihat Aishe berdiri di belakang gadis itu.


Perkataan Diego bagai sebilah pedang dengan dua mata yang langsung menghunus hati Malva. "Kak, apa yang kamu maksud? Memang aku bisa punya niat apa sama kakak ipar sendiri?"


Sorot mata Diego kembali menatap tidak suka ke arahnya. Ada semacam kobaran amarah dalam matanya, tetapi dia mencoba meredamnya, karena jika meledak, maka akan membuat Aishe ketakutan.


Manik mata berwarna amber itu bergerak sepersekian detik kemudian, beralih memandangi wajah Aishe yang berlumur cuka.


"Masih enam tahun, Kak. Dan kakak sudah mencari kekasih lain, bahkan membawanya ke rumah ini?" lanjut Malva tanpa peduli batas kesabaran yang Diego berikan.

__ADS_1


"Rumah yang kakak bangun untuk Kak Lyra, yang katanya akan menjadi tempat berumah tangga kalian nanti!" Malva masih tidak ingin berhenti bicara. Dia terus menerus membahas kisah tentang Diego dan Lyra, sampai tiba-tiba ia menoleh menatap Aishe.


"Oh, Malva tahu. Mata dia, sama dengan Kak Lyra, bahkan postur tubuhnya juga. Ini, alasan Kak Diego menaruhnya di sisi kakak?"


Degh!


Aishe yang semula tidak peduli akan motif kedatangan Malva, tiba-tiba menoleh memandangi gadis itu. Wajah kecewanya benar-benar terlihat dengan jelas, padahal, dia baru saja dilambungkan ke langit oleh Diego.


PYAR!


Dua wanita yang berdiri tidak jauh dari Diego terperanjat kaget dan sontak menoleh pada serpihan gelas yang Diego lempar di bawah kaki Malva.


"Aku, paling tidak menyukai mulut yang tidak bisa berkata sesuatu hal yang baik dan benar." Kedua mata Diego memincing tajam melihat Malva. Begitu tajam dan menakutkannya sorot mata itu hingga membuat Malva gemetar ketakutan hingga seluruh kakinya lemas.



Ulet bulunya agak gatel, jangan lupa di garuk 🤣


Jangan lupa Vote dan Hadiahnya 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2