
Agam, berusaha mendekat tapi akhirnya dia tidak berani menyentuh istrinya itu, karena Sherina, kini sama sekali tidak ingin melihat dirinya.
"Sayang aku akan berada di luar jika kamu tidak ingin melihat ku, tapi jika kamu ingin sesuatu kamu panggil aku"ucap Agam.
Agam langsung pergi menuju keluar, Agam tidak bisa melihat istrinya merasa tersiksa karena dirinya.
Sementara, Sherina malah semakin menangis sesenggukan, karena ternyata dirinya tidak lebih penting dari Novita.
Sampai saat Sherina melihat ke arah lain tepat di pojok ruangan dia melihat ada sebuah kursi roda, Sherina mencoba untuk bangkit dan hingga ia bisa duduk, dia mengambil selang infus itu lalu melepaskan itu meskipun sakit.
Sampai, dia berhasil melepaskan jarum infus tersebut, gadis itu langsung meraih tiang infus.
Gadis, itu menggunakan tiang infus itu untuk menarik kursi roda tersebut, Sherina berusaha untuk turun dari berankar pasien itu dengan menggunakan kekuatan tangannya, gadis itu berhasil naik keatas kursi roda.
Darah, yang terus menetes dari punggung tangan nya itu, kini tak lagi ia pedulikan, karena dia ingin segera pergi.
Setelah tiba di luar ruang rawat tersebut dia tidak memperdulikan Agam yang kini tengah menatap begitu kaget kearahnya tapi gadis itu tidak perduli samasekali.
Agam, langsung meraih kursi roda tersebut bermaksud untuk menghentikan Sherina, tapi Sherina menolak dia berusaha untuk pergi tanpa memperdulikan Agam, ataupun orang-orang di sekitar nya untuk menghentikan nya.
Sherina, pun berbicara pada resepsionis bahwa dia akan membayar seluruh biaya perawatan nya.
Agam langsung meraih kursi roda Sherina, tapi Matteo sudah berada di tempat di hadapan Sherina.
"Sherina, ayo"ucap Matteo.
Matteo menatap tajam kearah Agam, dia langsung membawa Sherina meskipun Agam berusaha untuk merebut Sherina dari tangan Matteo.
"Kau urus saja wanita yang benar-benar kau cintai, adikku masih memiliki aku sampai kapan pun"ucap Matteo.
"Dia istriku"ucap Agam.
"Kau bilang istri ku, lalu dimana peduli mu, saat adikku sendirian di rumah, yang bahkan tanpa ada pelayan sama sekali, dia masih belum bisa berjalan Agam, dia masih cacat"ucap Matteo yang membuat Agam berteriak.
"Matteo!"teriak Agam.
"Agam!"teriak Matteo.
Matteo, benar-benar merasa sangat marah saat dia tau jika Sherina terlantar di rumah suaminya sendiri, yang baru saja ia berikan pada Sherina.
Sherina, kini pergi bersama dengan Matteo.
Dia, pergi menuju apartemen milik Sherina, saat itu juga, setidaknya disana ada kedua suster yang merawat Sherina.
Gadis, itu langsung di bawa kedalam kamar nya, sesampainya di apartemen tersebut.
Sherina pun, dibaringkan oleh Matteo, di atas ranjang empuk miliknya.
Agam, langsung pergi meninggalkan rumah sakit tersebut dia melaju kan mobilnya ke apartemen, milik istrinya itu.
Agam, memarkirkan mobilnya dengan terburu-buru hingga hampir menyenggol mobil lainnya.
Pria, itu benar-benar terburu-buru naik ke lantai dimana unit milik Sherina berada.
"Dalam waktu dua, jam saya tidak ingin tahu pokoknya dokter harus segera tiba di sini, karena Sherina, harus segera diperiksa"ucap Matteo.
Sementara, Agam, pria itu masih mematung di tempatnya, dia berpikir mungkinkah jika ternyata Sherina, mengalami cedera di bagian kepalanya.
"Dimana? istriku"ucap Agam.
"Sherina tidak ingin bertemu dengan mu"ucap Matteo.
"Matteo!"teriak Agam.
"Agam! apa? kau tuli"ujar pria itu.
"Aku suaminya aku yang lebih berhak untuk merawat istriku sendiri"ucap Agam.
"Hi,, apa? kau lupa jika semua ini gara-gara dirimu"ucap Matteo.
"Aku tau, maka dari itu aku bertanggung jawab untuk semua itu"ucap Agam.
__ADS_1
"Bertanggung jawab,,,"ucap Matteo sambil tersenyum mengejek.
"Kau"ucap Agam.
Keduanya saling berteriak keduanya tidak ada yang mau mengalah, Agam ataupun Matteo, bahkan sampai saling mendorong satu sama lain nya hingga Sherina terpaksa harus keluar dari dalam kamar.
Dengan bantuan suster yang merawat nya, gadis itu berhasil menghampiri Keduanya dengan menggunakan kursi roda.
Agam, menatap lekat wajah cantik yang kini terlihat enggan untuk menatap dirinya.
"Sayang ayo kembali, aku janji mulai sekarang, tidak akan pernah meninggalkan dirimu sendiri, dan jika aku tidak ada dirumah, aku juga akan mempekerjakan beberapa suster untuk membantu mu beraktifitas, dan satu lagi, mulai saat ini di rumah kita akan ada banyak pelayan"ucap Agam.
"Apa? kau tau bagaimana rasanya menjadi diriku ini, apa? kau tau bagaimana? rasanya menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan, aku rasa kamu tidak tau itu, sebaiknya kamu pulang saja dan kembali lagi padanya itu jauh lebih baik"ucap Sherina.
"Yank!"teriak Agam.
"Apa? masih kurang semua yang aku alami selama ini"ucap Sherina.
"Sayang,,, aku benar-benar minta maaf, aku tau aku salah dan karena semua ini terjadi gara-gara aku, kamu bisa lakukan hal yang sama padaku balas saja aku.tapi jangan pernah meminta untuk berpisah dariku, karena aku tidak akan pernah melepaskan dirimu sampai kapan pun kamu adalah segalanya bagiku"ucap Agam.
Agam, langsung meraih tangan gadis itu dan berlutut di hadapan nya, dia menatap lekat wajah cantik yang kini terlihat pucat itu.
"Apa? kamu bisa memaafkan aku"ucap Agam.
Sherina, tidak menjawab.
"Yank,, please"ucap Agam.
"Aku, tau semua ini mungkin tidak ada apa-apa nya, tapi bagiku ini sudah keterlaluan"ucap Sherina.
"Yank,, aku memang salah dan aku minta maaf, posisi ku saat ini sungguh serba salah, tapi aku akan memperbaiki semua nya, aku janji"ucap Agam.
Agam, langsung memeluk Sherina, jika sudah begitu Matteo, hanya bisa pasrah akan semua nya itu.
Agam, membawa Sherina kembali ke rumah nya, setelah dokter memastikan tidak ada luka yang serius saat ini, hanya luka kecil di pelipis Gadis itu.
Sherina, hanya terdiam, sepanjang perjalanan menuju rumah mereka.
"Aku tidak mau merepotkan orang lain, aku bisa sendiri"ucap Sherina.
"Yank,, tapi terkadang aku tidak ada di rumah"ucap Agam.
"Aku juga bekerja"ucap Sherina.
"Yank,, apa? uang yang aku berikan masih kurang"ucap Agam.
"Aku juga memiliki bisnis sendiri yang harus aku tangani, tidak mungkin aku harus terus berpangku tangan, aku hanya cukup satu asisten pribadi yang akan membantu ku pulang pergi"ucap Sherina.
"Aku akan pilihkan wanita yang bisa melakukan hal itu"ucap Agam.
"Tidak aku ingin dia seorang laki-laki"ucap Sherina.
"Aku tidak akan mengijinkan pria manapun itu, untuk menjadi asisten pribadi istri ku"ucap Agam.
"Aku tidak peduli, yang aku butuhkan adalah seorang sopir sekaligus asisten pribadi ku, untuk mengurus semua kebutuhan ku"ucap Sherina.
"Sherina!"bentak Agam.
"Jika kamu tidak setuju, aku bisa pindah rumah, karena percuma tinggal satu atap pun bila hatinya masih memikirkan mantan"ucap Sherina tanpa rasa takut sedikitpun.
................
Agam menghentikan mobilnya saat itu juga.
"Sherina,, jangan berbuat hal yang tidak aku sukai, jika kamu tetap membangkang maka kamu akan tau akibat nya"ucap Agam tegas.
"Aku tidak peduli"balas Sherina.
Agam langsung melaju kan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak peduli jika istrinya kini berteriak memohon untuk menghentikan mobilnya, karena Sherina mengingat kejadian waktu itu yang hampir merenggut nyawanya.
Hingga akhirnya Agam, tersadar tanpa ia sadari telah menyakiti istrinya yang kini terlihat pucat dan gemetaran sambil memeluk lutut nya itu.
__ADS_1
"Sayang maafkan aku,,, Maaf Yank,, aku tidak sengaja"ucap gadis itu.
Sherina hanya bisa menangis tanpa berkata apapun didalam dekapan Agam.
Agam, pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil mendepak istri yang kini bersandar di pundak Agam.
Sampai mereka tiba di rumah mereka, pria itu langsung membawa Sherina masuk dengan cara di gendong ala bridal style.
Agam membawa istrinya itu masuk kedalam kamar mereka dan dibaringkan nya istrinya itu di atas ranjang empuk milik mereka.
"Ada yang harus aku kerjakan dulu sayang, kamu bisa istirahat dulu, setelah itu aku menyusul"ucap Agam.
Sudah hampir satu Minggu lebih tidak masuk kantor dia hanya menghandle perusahaan itu dari rumah dan selebihnya kedua asisten nya yang menangani semua itu.
Sementara itu di kediaman keluarga Rayan, Daisy kini tengah sibuk mengurus kedua anak nya yang tengah sibuk berjalan kesana kemari, mereka begitu aktif dan lincah.
Keduanya bahkan selalu mengikuti kemanapun mommy nya pergi, awalnya Daisy menggunakan jasa baby sitter, tapi setelah mereka bisa berjalan dan berceloteh akhirnya Daisy memutuskan untuk menjaga keduanya sendirian, kecuali jika dia sedang sangat sibuk maka para pelayan yang akan membantu menjaga mereka.
Sementara David, putra pertama Rayan, dia tidak mau tinggal bersama dengan kedua orang tua nya, saat ini pria tampan berusia tujuh tahun itu, lebih suka tinggal bersama dengan sang Opah.
Dia dijaga oleh kedua asisten pribadi nya, setiap hari diantar jemput sekolah dan setelah itu juga dia akan mengikuti les privat bahasa, dan hampir sepuluh bahasa yang ia pelajari.
Dari, bangun tidur hingga tidur lagi David terus saja sibuk belajar, hingga dia tumbuh menjadi anak yang mandiri dan tidak seperti anak-anak seusianya, David bahkan sudah seperti pria dewasa.
David akan punya waktu luang dihari Dion libur kerja, karena sang Opah, selalu meminta David untuk menemani dia memancing di laut.
Bahkan Dion, selalu membawa David ke luar negeri jika pria itu tengah bersantai hanya sekedar untuk memancing bersama dengan beberapa rekan bisnis nya itu.
Hobi itu bahkan diturunkan pada cucunya yang saat ini suka berenang di pantai.
David, akan berenang di sela-sela waktu memancing usai bersama rekannya tentunya pergaulan David juga menghasilkan sebuah persahabatan yang cukup erat dengan beberapa kawan nya, yang sama-sama anak para pengusaha sukses yang sama-sama didik dengan keras oleh kedua orang tua mereka, diantaranya ada Jordan, Jesica, Damian, Keshi, dan masih banyak lagi teman David yang satu sekolah dan satu hobi, lebih tepatnya dipaksa untuk menyukai hobi yang orang tua mereka jalani.
Mereka, akan berkumpul bersama, saat para orang tua pergi memancing, anak-anak mereka berada di dalam kapal pesiar tersebut.
Sampai saat mereka beristirahat barulah para bocah dan asisten nya, belajar memancing.
Setelah itu mereka akan makan bersama hasil ikan tangkapan nya.
Dan giliran para bocah itu kursus memasak, mereka bekerja sama mengikuti arahan para koki profesional yang selalu sedia mengikuti kegiatan tersebut.
Sampai akhir nya semua hidangan lezat itu tersaji, bagi mereka semua waktu tidak boleh disia-siakan.
Setelah selesai makan bersama mereka pun langsung pergi untuk beristirahat.
Semua orang istirahat, termasuk David dan Dion.
Dion dikenal sebagai ahli waris dari perusahaan 4D sementara perusahaan milik Rayan, dia tidak tertarik dengan itu semua.
Balik lagi pada Daisy, kini putra putrinya tengah tertidur pulas setelah mereka merasa sangat lelah setelah bermain dan berlarian di sebuah ruangan yang luas untuk bermain.
Ray dan raya kini sudah dipindahkan keatas ranjang nya yang diberikan pembatas di setiap sisi ranjang yang berukuran king size itu, kini keduanya seakan sedang berpelukan.
Kini Daisy, bisa beristirahat, selain makan siang dia juga harus melihat Agista, yang juga ikut bermain bersama dengan Ray dan Raya.
"Heumm anak baik kamu juga sudah Bobo, syukurlah jika begitu, mungkin mommy mu, akan segera keluar dari rumah sakit dan segera sembuh "ucap Daisy , sambil mengelus puncak kepala gadis kecil itu.
Ada, rasa yang sulit untuk di ungkapkan ketika melihat Agista saat ini, biar bagaimanapun, gadis kecil itu masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tua nya, tapi nyatanya dia hanya mendapatkan perhatian itu, dari mereka yang bukan siapa-siapa nya, yaitu keluarga dari ayah sambungnya itu.
Kini Agam, bahkan sudah jarang bertemu dengan gadis kecil yang merindukan sosok sang ayah dalam hidupnya karena kesibukan mengurus Sherina, adalah yang utama.
Sementara Novita sendiri saat ini tengah beristirahat setelah kecelakaan itu, dia harus memulihkan kondisi nya yang masih kurang baik.
Karena, cedera yang dialaminya, saat itu, dan luka-luka yang ia derita, yang kini sudah mulai mengering, justru membu, ia merasa tidak nyaman dan sakit, jika tidak meminum obat.
Sementara, itu pria yang waktu itu menabrak dirinya,kini semakin sering menjenguk Novita, pria lajang itu merasa sangat bersalah karena gara-gara dirinya, bahkan Novita harus berpisah untuk sementara waktu dengan putri nya.
Tidak hanya itu Novita juga harus menunda pekerjaan nya, yang kini ditangani oleh asisten pribadi nya.
Sementara Agam dan Sherina, saat ini dia tengah sibuk berkutat dengan laptop nya masing-masing, mereka sama-sama bekerja dari rumah, hingga keduanya merasa sangat lapar, barulah mereka bisa bersantai sambil memakan hasil masakan mereka berdua.
Sampai, saat mereka selesai makan, mereka pun akhirnya kembali berkutat dengan pekerjaan nya masing-masing.
__ADS_1
Kini hari-hari mereka lalui dengan kesibukan masing-masing, Sherina bahkan sudah jarang bertemu dengan suaminya pada waktu makan siang, karena gadis itu sangat sibuk dengan pekerjaan nya dan juga dengan pengobatan nya, dia tidak mau mendengarkan permintaan Agam, untuk tidak lagi bekerja di luar rumah.